alexametrics
21 C
Madura
Tuesday, May 17, 2022

Burdah Keliling Diikuti Belasan Ribu Warga Lintas Kecamatan

BANGKALAN – Belasan ribu warga Kecamatan Arosbaya berbondong-bondong mengikuti tradisi religius burdah keliling. Dengan melaksanakan burdah, warga memohon kepada Allah agar dijauhkan dari wabah penyakit dan diberi keberkahan hidup.

Rintik gerimis membasahi ubun-ubun. Markas Koramil 0829/13 Arosbaya, Bangkalan, ramai oleh kedatangan ribuan warga dan santri. Lampu sorot menerangi barisan pembawa bendera Merah Putih dan bendera Nahdlatul Ulama (NU).

Minggu (8/4) sekitar pukul 19.30, warga dan santri berbaris, berjalan memadati jalan utama Kecamatan Arosbaya. Beberapa warga membawa botol dengan tutup terbuka. Dua mobil dengan lampu sorot membawa pengeras suara. Satu mobil milik Polsek Arosbaya mengawal di bagian depan.

Barisan warga dijaga ketat pasukan Banser didampingi polisi. Barisan depan diisi santri. Barisan tengah hingga paling belakang berkerumun warga. Saat itu warga Kecamatan Arosbaya mengikuti burdah keliling, tradisi religius yang lestari bertahun-tahun.

Warga bersemangat mengumandangkan salawat untuk baginda Rasulullah Muhammad SAW. Genangan air di sisi jalan dan gerimis diterobos. Berdesakan juga tak menjadi penghalang. Belasan ribu bibir tetap bersalawat.

Ketua Pelaksana Burdah Keliling Anang Sudarto menyampaikan, peserta yang mengikuti kegiatan tersebut mencapai 15 ribu orang. Mereka datang dari empat kecamatan. Yakni, Kecamatan Geger, Klampis, Sepulu, dan Arosbaya.

Burdah keliling diselenggarakan selama tiga hari. Mulai Jumat (6/4) diikuti sekitar 5 ribu warga. Sabtu (7/4) bertambah menjadi 8 ribu warga dan Minggu (8/4) diikuti lebih dari 15 ribu. Burdah keliling dilakukan dalam rangka merayakan Isra Mikraj Nabi Muhammad dan menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

Baca Juga :  Pemkab Bangkalan Bingung Kewenangan Pengelolaan Laut

Selain itu, untuk memohon keselamatan satu tahun ke depan. ”Kami bersalawat dan berdoa,” ucap pria dengan baret merah Banser itu. Pelaksanaan burdah keliling tahun ini memang hanya diselenggarakan selama tiga hari.

Tidak seperti tahun lalu yang dilaksanakan sembilan hari. Sebab, pelaksanaan mengikuti petunjuk ulama. Melantunkan salawat dengan cara berkeliling biasanya tidak mesti saat perayaan Isra Mikraj. Burdah juga dilakukan jika terjadi musibah atau wabah penyakit.

”Burdah keliling dilakukan apabila ada perintah dari kiai. Biasanya jika ada konflik atau masalah yang terjadi di negeri ini,” ungkap pria yang akrab disapa Anang itu.

Sejumlah warga diminta membawa nasi bhutu’, kuning, dan putih sebagai tanda matahari dan bulan. Kemudian dilengkapi lauk jeroan yang melambangkan upaya membersihkan diri dari dalam. ”Menandakan rembulan dan matahari. Iman dan Islam. Jeroan sebagai tanda menata hati,” tuturnya.

Panitia menerjunkan 2.000 pasukan Banser untuk membantu pengamanan. Hal itu untuk bertujuan mengantisipasi kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

Burdah keliling dilaksanakan oleh Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah Almuhajirin, Kecamatan Arosbaya. Warga yang mengikuti burdah kebanyakan alumni lembaga pendidikan Islami tersebut.

Baca Juga :  Siswa Butuh Bimbingan Berkelanjutan

Pengasuh Ponpes Hidayatullah Almuhajirin KH Linul Qolbih Hamzah menyampaikan, mulanya kegiatan burdah keliling untuk memohon berkah, keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan bagi masyarakat desa. Namun, berkembang menjadi kegiatan yang diikuti secara antusias oleh warga Arosbaya dan kecamatan sekitarnya. ”Karena santri tersebar di mana-mana, maka yang datang dari berbagai daerah,” terangnya.

Kegiatan burdah keliling sudah ada sejak masa Kiai Ghozali. Ulama tersebut merupakan sepupuh KH. Syaichona Moh. Cholil. Artinya, tradisi membaca salawat dengan cara keliling kampung itu lestari lebih dari satu abad.

”Kiai Ghozali merupakan leluhur dari Ponpes Hidayatullah Almuhajirin. Budah rutin dilaksanakan setiap tahun,” ucapnya.

Warga yang ikut burdah keliling menuturkan, yang membawa botol berisi air untuk diminum pada saat akan melakukan aktivitas penting. Warga percaya air yang didoakan menjadi perantara agar setiap pekerjaan diridai Allah. ”Untuk keselamatan, juga untuk membersihkan diri. Tentu dengan rida Allah,” tutur Maududi, 34, warga Desa/Kecamatan Arosbaya.

Setelah berkeliling, warga lanjut membacakan surah Yasin mengikuti panduan dari pengeras suara. Kemudian, tahlil dan ditutup dengan takbir. Burdah keliling berangkat dan finis di samping markas Koramil 0829/13 Arosbaya. Menggunakan pikap, truk, dan mobil pribadi, masyarakat berangsur-angsur meninggalkan lokasi.

BANGKALAN – Belasan ribu warga Kecamatan Arosbaya berbondong-bondong mengikuti tradisi religius burdah keliling. Dengan melaksanakan burdah, warga memohon kepada Allah agar dijauhkan dari wabah penyakit dan diberi keberkahan hidup.

Rintik gerimis membasahi ubun-ubun. Markas Koramil 0829/13 Arosbaya, Bangkalan, ramai oleh kedatangan ribuan warga dan santri. Lampu sorot menerangi barisan pembawa bendera Merah Putih dan bendera Nahdlatul Ulama (NU).

Minggu (8/4) sekitar pukul 19.30, warga dan santri berbaris, berjalan memadati jalan utama Kecamatan Arosbaya. Beberapa warga membawa botol dengan tutup terbuka. Dua mobil dengan lampu sorot membawa pengeras suara. Satu mobil milik Polsek Arosbaya mengawal di bagian depan.

Barisan warga dijaga ketat pasukan Banser didampingi polisi. Barisan depan diisi santri. Barisan tengah hingga paling belakang berkerumun warga. Saat itu warga Kecamatan Arosbaya mengikuti burdah keliling, tradisi religius yang lestari bertahun-tahun.

Warga bersemangat mengumandangkan salawat untuk baginda Rasulullah Muhammad SAW. Genangan air di sisi jalan dan gerimis diterobos. Berdesakan juga tak menjadi penghalang. Belasan ribu bibir tetap bersalawat.

Ketua Pelaksana Burdah Keliling Anang Sudarto menyampaikan, peserta yang mengikuti kegiatan tersebut mencapai 15 ribu orang. Mereka datang dari empat kecamatan. Yakni, Kecamatan Geger, Klampis, Sepulu, dan Arosbaya.

Burdah keliling diselenggarakan selama tiga hari. Mulai Jumat (6/4) diikuti sekitar 5 ribu warga. Sabtu (7/4) bertambah menjadi 8 ribu warga dan Minggu (8/4) diikuti lebih dari 15 ribu. Burdah keliling dilakukan dalam rangka merayakan Isra Mikraj Nabi Muhammad dan menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

Baca Juga :  Raih WTP berkat Kerja Keras Semua Lini

Selain itu, untuk memohon keselamatan satu tahun ke depan. ”Kami bersalawat dan berdoa,” ucap pria dengan baret merah Banser itu. Pelaksanaan burdah keliling tahun ini memang hanya diselenggarakan selama tiga hari.

Tidak seperti tahun lalu yang dilaksanakan sembilan hari. Sebab, pelaksanaan mengikuti petunjuk ulama. Melantunkan salawat dengan cara berkeliling biasanya tidak mesti saat perayaan Isra Mikraj. Burdah juga dilakukan jika terjadi musibah atau wabah penyakit.

”Burdah keliling dilakukan apabila ada perintah dari kiai. Biasanya jika ada konflik atau masalah yang terjadi di negeri ini,” ungkap pria yang akrab disapa Anang itu.

Sejumlah warga diminta membawa nasi bhutu’, kuning, dan putih sebagai tanda matahari dan bulan. Kemudian dilengkapi lauk jeroan yang melambangkan upaya membersihkan diri dari dalam. ”Menandakan rembulan dan matahari. Iman dan Islam. Jeroan sebagai tanda menata hati,” tuturnya.

Panitia menerjunkan 2.000 pasukan Banser untuk membantu pengamanan. Hal itu untuk bertujuan mengantisipasi kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

Burdah keliling dilaksanakan oleh Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah Almuhajirin, Kecamatan Arosbaya. Warga yang mengikuti burdah kebanyakan alumni lembaga pendidikan Islami tersebut.

Baca Juga :  Mepet, Proyek Pagar Rp 5 M Baru Fondasi

Pengasuh Ponpes Hidayatullah Almuhajirin KH Linul Qolbih Hamzah menyampaikan, mulanya kegiatan burdah keliling untuk memohon berkah, keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan bagi masyarakat desa. Namun, berkembang menjadi kegiatan yang diikuti secara antusias oleh warga Arosbaya dan kecamatan sekitarnya. ”Karena santri tersebar di mana-mana, maka yang datang dari berbagai daerah,” terangnya.

Kegiatan burdah keliling sudah ada sejak masa Kiai Ghozali. Ulama tersebut merupakan sepupuh KH. Syaichona Moh. Cholil. Artinya, tradisi membaca salawat dengan cara keliling kampung itu lestari lebih dari satu abad.

”Kiai Ghozali merupakan leluhur dari Ponpes Hidayatullah Almuhajirin. Budah rutin dilaksanakan setiap tahun,” ucapnya.

Warga yang ikut burdah keliling menuturkan, yang membawa botol berisi air untuk diminum pada saat akan melakukan aktivitas penting. Warga percaya air yang didoakan menjadi perantara agar setiap pekerjaan diridai Allah. ”Untuk keselamatan, juga untuk membersihkan diri. Tentu dengan rida Allah,” tutur Maududi, 34, warga Desa/Kecamatan Arosbaya.

Setelah berkeliling, warga lanjut membacakan surah Yasin mengikuti panduan dari pengeras suara. Kemudian, tahlil dan ditutup dengan takbir. Burdah keliling berangkat dan finis di samping markas Koramil 0829/13 Arosbaya. Menggunakan pikap, truk, dan mobil pribadi, masyarakat berangsur-angsur meninggalkan lokasi.

Artikel Terkait

Most Read

Polisi Ringkus Warga Labang

BOS Boleh untuk Beli Paket Data

Plafon Pasar Sore Rusak, Dewan Geram

Artikel Terbaru

/