alexametrics
21 C
Madura
Friday, May 27, 2022

Guru Besar IAIN Ponorogo Apresiasi Kesadaran Pendidikan Madura

BANGKALAN, Jawa Pos Radar Madura – Kesadaran masyarakat Madura akan pentingnya pendidikan terus meningkat. Hal itu dibuktikan dengan semakin banyaknya pemuda yang mampu menyelesaikan pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi. Bahkan, bisa menyelesaikan pendidikan di luar negeri.

Hal itu diungkap oleh Prof Dr Aksin Wijaya saat berkunjung ke kantor pusat Jawa Pos Radar Madura (JPRM) di Bangkalan kemarin (8/12). Guru besar dalam Bidang Al-Qur’an dan Tafsir IAIN Ponorogo kelahiran Sumenep itu ditemui langsung oleh Pemred Lukman Hakim dan Kepala JPRM Biro Bangkalan Fathorrahman.

Dalam kunjungan itu, Aksin menyampaikan banyak hal perihal Madura. Termasuk tentang pendidikan. Dia menilai, pendidikan di Madura sudah mulai meningkat. Menurut dia, pendidikan meningkat karena sumber ekonomi di Madura juga meningkat.

Baca Juga :  Moeldoko Apresiasi Peran Ulama

”Kesadaran pendidikan di Madura meningkat, itu dilihat dari banyaknya pemuda lulusan sarjana di Madura. Bahkan, sudah banyak juga yang menyelesaikan pendidikan di luar negeri,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, meski terlahir dari keluarga kurang mampu, semangat untuk berpendidikan sangat tinggi. Meski dengan segala keterbatasan, mereka terus berupaya untuk bisa menyelesaikan pendidikan dengan baik.

”Kalau kualitas pendidikan meningkat, income juga akan meningkat. Karena kehidupan ekonomi mengikuti pendidikan. Pendidikan juga ditopang oleh ekonomi. Artinya, saling berhubungan,” terangnya.

Menurut dia, sopan santun dan akhlak orang Madura tidak perlu diragukan lagi. Apalagi, tingkat pendidikannya sudah meningkat. Masyarakat Pulau Garam Sangat bisa menerima pluralisme atau perbedaan.

Menjaga kerukunan antar umat beragama yang dilakukan masyarakat Madura patut dicontoh. Selain itu, masyarakat Madura ini bisa menerima terhadap masuknya nilai-nilai budaya baru. Asalkan, nilai dan aliran itu tidak fundamentalisme.

Baca Juga :  Presiden DPP PKS Apresiasi Pelestarian Sejarah Sumenep

”Memang masih ada sebagian yang mengedepankan fundamentalisme,” katanya. ”Tetapi, masyarakat Madura toleransinya sangat tinggi. Indikasinya, jarang terjadi konflik berdasarkan etnis maupun aliran keagamaan,”sambungnya.

Aksin menambahkan, untuk mempertahankan kebinekaan dan mencegah radikalisme, hal pertama yang diperlukan adalah kerja sama. Baik antar organisasi, sosial, keagamaan dengan pemerintah.

Kedua adalah kerja sama antar penganut agama yang berbeda. Misalkan, Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan Khonghucu. ”Kerja sama dengan mereka menjadi pijakan untuk menciptakan situasi normal dan kultur yang kondusif,” tutupnya.

 

BANGKALAN, Jawa Pos Radar Madura – Kesadaran masyarakat Madura akan pentingnya pendidikan terus meningkat. Hal itu dibuktikan dengan semakin banyaknya pemuda yang mampu menyelesaikan pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi. Bahkan, bisa menyelesaikan pendidikan di luar negeri.

Hal itu diungkap oleh Prof Dr Aksin Wijaya saat berkunjung ke kantor pusat Jawa Pos Radar Madura (JPRM) di Bangkalan kemarin (8/12). Guru besar dalam Bidang Al-Qur’an dan Tafsir IAIN Ponorogo kelahiran Sumenep itu ditemui langsung oleh Pemred Lukman Hakim dan Kepala JPRM Biro Bangkalan Fathorrahman.

Dalam kunjungan itu, Aksin menyampaikan banyak hal perihal Madura. Termasuk tentang pendidikan. Dia menilai, pendidikan di Madura sudah mulai meningkat. Menurut dia, pendidikan meningkat karena sumber ekonomi di Madura juga meningkat.

Baca Juga :  Sabar, Tujuh Hari Lagi Perbaikan Selesai

”Kesadaran pendidikan di Madura meningkat, itu dilihat dari banyaknya pemuda lulusan sarjana di Madura. Bahkan, sudah banyak juga yang menyelesaikan pendidikan di luar negeri,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, meski terlahir dari keluarga kurang mampu, semangat untuk berpendidikan sangat tinggi. Meski dengan segala keterbatasan, mereka terus berupaya untuk bisa menyelesaikan pendidikan dengan baik.

”Kalau kualitas pendidikan meningkat, income juga akan meningkat. Karena kehidupan ekonomi mengikuti pendidikan. Pendidikan juga ditopang oleh ekonomi. Artinya, saling berhubungan,” terangnya.

Menurut dia, sopan santun dan akhlak orang Madura tidak perlu diragukan lagi. Apalagi, tingkat pendidikannya sudah meningkat. Masyarakat Pulau Garam Sangat bisa menerima pluralisme atau perbedaan.

Menjaga kerukunan antar umat beragama yang dilakukan masyarakat Madura patut dicontoh. Selain itu, masyarakat Madura ini bisa menerima terhadap masuknya nilai-nilai budaya baru. Asalkan, nilai dan aliran itu tidak fundamentalisme.

Baca Juga :  Moeldoko Apresiasi Peran Ulama

”Memang masih ada sebagian yang mengedepankan fundamentalisme,” katanya. ”Tetapi, masyarakat Madura toleransinya sangat tinggi. Indikasinya, jarang terjadi konflik berdasarkan etnis maupun aliran keagamaan,”sambungnya.

Aksin menambahkan, untuk mempertahankan kebinekaan dan mencegah radikalisme, hal pertama yang diperlukan adalah kerja sama. Baik antar organisasi, sosial, keagamaan dengan pemerintah.

Kedua adalah kerja sama antar penganut agama yang berbeda. Misalkan, Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan Khonghucu. ”Kerja sama dengan mereka menjadi pijakan untuk menciptakan situasi normal dan kultur yang kondusif,” tutupnya.

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/