alexametrics
21.2 C
Madura
Sunday, May 29, 2022

Komitmen Tekan AKI-AKB

BANGKALAN, JawaPos Radar Madura – RSUD Syamrabu berkomitmen menekan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Rumah sakit milik Pemkab Bangkalan itu menerapkan pelayanan obstetri neonatal emergensi komprehensif (Ponek).

Penanggung Jawab Bidan Ponek IGD RSUD Syamrabu Bangkalan Anis Cahyaning, S.S.T. mengatakan, penurunan AKI dan AKB menjadi prioritas pembangunan kesehatan  nasional. Itu tertuang dalam Perpres 18/2020 tentang RPJMN 2020–2024. Untuk itu, diperlukan berbagai upaya agar dapat menurunkan AKI dan AKB.

Perbandingan AKI 305 kasus per 100.000 kelahiran. Sedangkan AKB 24 kasus per 1.000 kelahiran. Diperlukan peningkatan peran rumah sakit dalam  percepatan penurunan AKI dan AKB. Upaya itu dilakukan agar 2024 AKI  menjadi 183 per 100.000 kelahiran dan AKB 16 kasus per 1.000 kelahiran hidup.

Anis menjelaskan, ada beberapa penyebab terjadinya kasus AKB. Di antaranya, perdarahan, infeksi, dan eklamsia. ”Maka proses persalinan hingga perawatan bayi harus dilakukan dengan sistem terpadu di tingkat nasional maupun regional,” ucapnya.

Baca Juga :  Bakal Libatkan Seniman Manfaatkan Panggung TRK

RSUD Syamrabu menerapkan pola pelayanan Ponek untuk menekan kasus itu. Namun, sistem pelayanan tersebut harus mendapat dukungan dari pelayanan obstetri neonatal emergensi dasar (Poned) di puskesmas.

Ponek siap melayani pasien 24 jam sebagai bentuk komitmen dan keseriusan RSUD Syamrabu sebagai Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi (RSSIB). Tujuannya,  mewujudkan program perlindungan ibu dan bayi secara terpadu dan paripurna. ”Kami telah menyiapkan SDM kompeten dan andal dalam sistem pelayanan Ponek ini,” ujarnya.

Dari 24 jam pelayanan Ponek, diharapkan dapat menurunkan AKI dan AKB yang masih tinggi. Dengan demikian, mampu menyelamatkan ibu dan bayi baru lahir melalui program rujukan berencana dalam satu wilayah kabupaten. ”Mulai dari puskesmas, bidan praktik swasta, rumah sakit swasta, atau klinik dokter swasta,” terangnya.

Baca Juga :  Santri Temukan Bayi Perempuan Telanjang

Ponek juga diharapkan dapat menunjang pelayanan kesehatan di tingkat puskesmas, bidan praktik swasta, rumah sakit swasta, atau klinik dokter swasta. Dengan demikian, keterbatasan SDM, sarpras, dan fasilitas kesehatan lain dapat diatasi dengan sistem kolaborasi yang efektif.

Melalui sistem kolaborasi jejaring itu, fasilitas kesehatan pertama diharapkan mampu mendeteksi dini  risiko  obstetri dan neonatus sehingga pelayanan yang dibutuhkan ibu yang akan melahirkan bisa ditentukan. ”Dengan begitu, pasien dengan risiko tinggi, baik pada kehamilan, persalinan, nifas, maupun bayi baru lahir dapat segera dilakukan rujukan ke Ponek RSUD Syamrabu. Sehingga bisa  mendapat penanganan  sesuai kegawatdaruratan.” (jup/luq)

BANGKALAN, JawaPos Radar Madura – RSUD Syamrabu berkomitmen menekan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Rumah sakit milik Pemkab Bangkalan itu menerapkan pelayanan obstetri neonatal emergensi komprehensif (Ponek).

Penanggung Jawab Bidan Ponek IGD RSUD Syamrabu Bangkalan Anis Cahyaning, S.S.T. mengatakan, penurunan AKI dan AKB menjadi prioritas pembangunan kesehatan  nasional. Itu tertuang dalam Perpres 18/2020 tentang RPJMN 2020–2024. Untuk itu, diperlukan berbagai upaya agar dapat menurunkan AKI dan AKB.

Perbandingan AKI 305 kasus per 100.000 kelahiran. Sedangkan AKB 24 kasus per 1.000 kelahiran. Diperlukan peningkatan peran rumah sakit dalam  percepatan penurunan AKI dan AKB. Upaya itu dilakukan agar 2024 AKI  menjadi 183 per 100.000 kelahiran dan AKB 16 kasus per 1.000 kelahiran hidup.


Anis menjelaskan, ada beberapa penyebab terjadinya kasus AKB. Di antaranya, perdarahan, infeksi, dan eklamsia. ”Maka proses persalinan hingga perawatan bayi harus dilakukan dengan sistem terpadu di tingkat nasional maupun regional,” ucapnya.

Baca Juga :  Kiat Memilih Makanan saat Puasa

RSUD Syamrabu menerapkan pola pelayanan Ponek untuk menekan kasus itu. Namun, sistem pelayanan tersebut harus mendapat dukungan dari pelayanan obstetri neonatal emergensi dasar (Poned) di puskesmas.

Ponek siap melayani pasien 24 jam sebagai bentuk komitmen dan keseriusan RSUD Syamrabu sebagai Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi (RSSIB). Tujuannya,  mewujudkan program perlindungan ibu dan bayi secara terpadu dan paripurna. ”Kami telah menyiapkan SDM kompeten dan andal dalam sistem pelayanan Ponek ini,” ujarnya.

Dari 24 jam pelayanan Ponek, diharapkan dapat menurunkan AKI dan AKB yang masih tinggi. Dengan demikian, mampu menyelamatkan ibu dan bayi baru lahir melalui program rujukan berencana dalam satu wilayah kabupaten. ”Mulai dari puskesmas, bidan praktik swasta, rumah sakit swasta, atau klinik dokter swasta,” terangnya.

Baca Juga :  Mengenal Mati Klinis dan Seluler

Ponek juga diharapkan dapat menunjang pelayanan kesehatan di tingkat puskesmas, bidan praktik swasta, rumah sakit swasta, atau klinik dokter swasta. Dengan demikian, keterbatasan SDM, sarpras, dan fasilitas kesehatan lain dapat diatasi dengan sistem kolaborasi yang efektif.

Melalui sistem kolaborasi jejaring itu, fasilitas kesehatan pertama diharapkan mampu mendeteksi dini  risiko  obstetri dan neonatus sehingga pelayanan yang dibutuhkan ibu yang akan melahirkan bisa ditentukan. ”Dengan begitu, pasien dengan risiko tinggi, baik pada kehamilan, persalinan, nifas, maupun bayi baru lahir dapat segera dilakukan rujukan ke Ponek RSUD Syamrabu. Sehingga bisa  mendapat penanganan  sesuai kegawatdaruratan.” (jup/luq)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/