alexametrics
20.6 C
Madura
Wednesday, May 18, 2022

Sisa BTT Rp 27,9 M Jadi Silpa

SEMENTARA itu, refocusing anggaran 2021 di Bangkalan belum klir. Masih dalam pembahasan tim anggaran pemerintah daerah (TAPD). Target selesai pertengahan Maret pekan depan.

Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Bangkalan Abdul Aziz mengutarakan, refocusing anggaran untuk 2021 belum final. Namun, besaran sementara berkisar Rp 74,6 miliar. ”Insyaallah pertengahan Maret sudah rampung karena dari pusat instruksinya begitu,” katanya kemarin (8/3).

Menurut Aziz, saat ini tahap pembahasannya di internal forum organisasi perangkat daerah (OPD). Sambil lalu pembahasan di jajaran OPD inti yang dipimpin langsung oleh Sekkab Moh. Taufan Zairinsjah. OPD inti terdiri atas BPKAD, bappeda, dan Sekkab.

Penerima anggaran refocusing juga belum ditetapkan. Namun, dipastikan tidak semua OPD mendapat anggaran. Sebab, tahun ini tidak ada lagi belanja tidak terduga (BTT) yang diperuntukkan penanganan Covid-19.

Baca Juga :  Bakesbangpol Ingatkan Parpol Siapkan SPj

”Penanganan Covid-19 langsung diambilkan dari refocusing. Paling nanti yang dapat besar dinkes,” terangnya.

Sebab, tahun ini penanganan Covid-19 cenderung ke pelaksanaan vaksinasi. Sementara leading sector pelaksanaan vaksinasi itu adalah dinkes. Mulai dari operasional, honor tenaga kesehatan (nakes), hingga pelaksanaan jadi kewenangan dinkes.

Penanganan yang lain kemungkinan ada. Tetapi tidak terlalu besar. Semisal, seperti penanganan untuk pelaksanaan pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarat (PPKM). ”Kalau tingkat kelurahan bisa melalui refocusing anggaran kabupaten. Tapi, untuk desa langsung dari dana desa,” tuturnya.

Aziz menambahkan, kegiatan apa saja yang terpaksa di-refocusing juga masih dalam proses penghitungan. Termasuk imbas dari pengurangan dana alokasi umum (DAU) sebesar Rp 30,8 miliar juga dihitung.

Baca Juga :  Dewan Pers Apresiasi Pelatihan Bisnis Migas untuk Media

Anggaran hasil refocusing 2020 sebesar Rp 57.613.803.300. BTT 2020 mencapai Rp 80.784.251.532,62. Namun, masih tersisa Rp 27.972.406.412,62. Sementara pengurangan dana transfer 2020 Rp 167 miliar.

RSUD Syamrabu menjadi instansi pengguna BTT terbesar tahun lalu dengan nilai Rp 21.695.000.000. Disusul dinkes Rp 13.761.356.100, BKPSDA Rp 11.062.585.460, dan dinas sosial Rp 8.091.400.000. Kemudian, satpol PP Rp 2.971.185.460, diskominfo Rp 1.981.868.250, dan setkab Rp 1.269.000.000. Lalu, BPBD Rp 648.938.000, disperinaker, dan Rp 454.979.250, dan dinas perikanan Rp 444.060.000.

Aziz memastikan, sisa BTT Rp 27,9 miliar yang tidak terserap otomatis jadi silpa. Ketika jadi silpa, jelas dia, mau tidak mau kembali masuk APBD.

SEMENTARA itu, refocusing anggaran 2021 di Bangkalan belum klir. Masih dalam pembahasan tim anggaran pemerintah daerah (TAPD). Target selesai pertengahan Maret pekan depan.

Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Bangkalan Abdul Aziz mengutarakan, refocusing anggaran untuk 2021 belum final. Namun, besaran sementara berkisar Rp 74,6 miliar. ”Insyaallah pertengahan Maret sudah rampung karena dari pusat instruksinya begitu,” katanya kemarin (8/3).

Menurut Aziz, saat ini tahap pembahasannya di internal forum organisasi perangkat daerah (OPD). Sambil lalu pembahasan di jajaran OPD inti yang dipimpin langsung oleh Sekkab Moh. Taufan Zairinsjah. OPD inti terdiri atas BPKAD, bappeda, dan Sekkab.

Penerima anggaran refocusing juga belum ditetapkan. Namun, dipastikan tidak semua OPD mendapat anggaran. Sebab, tahun ini tidak ada lagi belanja tidak terduga (BTT) yang diperuntukkan penanganan Covid-19.

Baca Juga :  Kelabui Polisi, Pemuda Simpan SS di Lubang Setang Motor

”Penanganan Covid-19 langsung diambilkan dari refocusing. Paling nanti yang dapat besar dinkes,” terangnya.

Sebab, tahun ini penanganan Covid-19 cenderung ke pelaksanaan vaksinasi. Sementara leading sector pelaksanaan vaksinasi itu adalah dinkes. Mulai dari operasional, honor tenaga kesehatan (nakes), hingga pelaksanaan jadi kewenangan dinkes.

Penanganan yang lain kemungkinan ada. Tetapi tidak terlalu besar. Semisal, seperti penanganan untuk pelaksanaan pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarat (PPKM). ”Kalau tingkat kelurahan bisa melalui refocusing anggaran kabupaten. Tapi, untuk desa langsung dari dana desa,” tuturnya.

Aziz menambahkan, kegiatan apa saja yang terpaksa di-refocusing juga masih dalam proses penghitungan. Termasuk imbas dari pengurangan dana alokasi umum (DAU) sebesar Rp 30,8 miliar juga dihitung.

Baca Juga :  Ketua KPK Sebut Pengawasan Internal Tak Efektif

Anggaran hasil refocusing 2020 sebesar Rp 57.613.803.300. BTT 2020 mencapai Rp 80.784.251.532,62. Namun, masih tersisa Rp 27.972.406.412,62. Sementara pengurangan dana transfer 2020 Rp 167 miliar.

RSUD Syamrabu menjadi instansi pengguna BTT terbesar tahun lalu dengan nilai Rp 21.695.000.000. Disusul dinkes Rp 13.761.356.100, BKPSDA Rp 11.062.585.460, dan dinas sosial Rp 8.091.400.000. Kemudian, satpol PP Rp 2.971.185.460, diskominfo Rp 1.981.868.250, dan setkab Rp 1.269.000.000. Lalu, BPBD Rp 648.938.000, disperinaker, dan Rp 454.979.250, dan dinas perikanan Rp 444.060.000.

Aziz memastikan, sisa BTT Rp 27,9 miliar yang tidak terserap otomatis jadi silpa. Ketika jadi silpa, jelas dia, mau tidak mau kembali masuk APBD.

Artikel Terkait

Komitmen Tekan AKI-AKB

Menjaga Kesehatan Tulang

Pasar Tumpah Picu Kemacetan

Most Read

Artikel Terbaru

/