alexametrics
21.3 C
Madura
Friday, May 20, 2022

Berbagai Cara Tingkatkan Angka Melek Huruf

BANGKALAN – Tanggal 8 September diperingati sebagai Hari Aksara Internasional (HAI). Peringatan itu ditetapkan melalui Konferensi Umum UNESCO pada 26 Oktober 1966. Pemerintah dan pihak lain pun berupaya mengentaskan buta aksara dengan berbagai cara.

Jumlah penduduk buta aksara di Bangkalan cukup tinggi. Pada 2015 terdapat 75.817 warga belajar (WB). Kemudian dikurangi 850 orang yang sudah dilakukan pembinaan. Dengan demikian, tersisa 74.967 orang buta aksara pada 2016.

Sebelumnya, angka buta aksara di Kota Salak ini mencapai 125.030 orang. Sekretaris Disdik Bangkalan Bambang Budi Mustika menjelaskan, penduduk buta aksara terus mengalami penurunan setiap tahun. ”Tahun ini kami menarget 750 peserta. Sudah dalam proses. Setiap tahunnya selalu ada pengurangan,” ucapnya Kamis (7/9).

Target 750 peserta di 2017 dibentuk dalam kelompok keaksaraan dasar (KD). Program keaksaraan fungsional (KF) tahun ini dilaksanakan di dua lokasi. Di pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) Blega 35 kelompok. Terdiri dari 350 peserta. Kemudian di PKBM Galis 40 kelompok. Terdiri dari 400 peserta.

Baca Juga :  Delapan PMI Positif Covid-19

”Pasti bisa mencapai target. Menyesuaikan dengan anggaran juga. Tahun depan kemungkinan akan menarget lebih lagi,” ungkapnya saat ditemui di kantornya.

Dalam APBD Bangkalan 2017 terdapat anggaran Rp 191.674.000 untuk program pendidikan nonformal. Di antaranya untuk pengembangan pendidikan keaksaraan dan program kejar paket.

Bambang menambahkan, program kejar paket pada pelaksanaan ujian tahun 2017 terdapat 1.091 peserta. Diselenggarakan disdik di 12 PKBM dengan 835 peserta. Kemudian dilaksanakan oleh Kemenag Bangkalan di empat pondok pesantren (ponpes) dengan 256 peserta.

”Ada 49 peserta tidak lulus Paket C. Jadi peserta yang lulus Paket C 2017 sebanyak 1.042 orang,” terangnya.

Pelaksanaan program pendidikan nonformal sendiri dilakukan secara bertahap. KF mengikuti ujian kejar Paket A, B dan C secara berjenjang. Menurut dia, untuk bisa mengentaskan buta aksara membutuhkan waktu lama. ”Ada prosesnya,” jelas Bambang.

Baca Juga :  E-Raport-PPDB Online Berkutat di Rencana

Dia menjelaskan, selain KD, pada proses pemberantasan buta aksara juga terdapat tahapan keaksaraan mandiri (KM).  KD merupakan masyarakat yang memang tidak tahu baca tulis dan menghitung.

”Kalau KM ini memang sudah punya dasar pengetahuan. Bisa jadi pernah sekolah, tapi tidak tuntas,” paparnya.

Pihaknya berjanji akan terus melakukan upaya pemberantasan buta aksara. Saat ini pihaknya lebih banyak fokus pada KD. Namun tetap tidak meninggalkan program untuk KM. ”Kami upayakan,” tutupnya.

Anggota Komisi D DPRD Bangkalan Abdurrahman berharap pemerintah serius dalam mengentaskan buta aksara. Pendidikan khusus masyarakat tersebut harus bisa direalisasikan dengan baik. ”Harus dimaksimalkan. Semua orang berhak mendapatkan pendidikan,” tandasnya.

- Advertisement -

BANGKALAN – Tanggal 8 September diperingati sebagai Hari Aksara Internasional (HAI). Peringatan itu ditetapkan melalui Konferensi Umum UNESCO pada 26 Oktober 1966. Pemerintah dan pihak lain pun berupaya mengentaskan buta aksara dengan berbagai cara.

Jumlah penduduk buta aksara di Bangkalan cukup tinggi. Pada 2015 terdapat 75.817 warga belajar (WB). Kemudian dikurangi 850 orang yang sudah dilakukan pembinaan. Dengan demikian, tersisa 74.967 orang buta aksara pada 2016.

Sebelumnya, angka buta aksara di Kota Salak ini mencapai 125.030 orang. Sekretaris Disdik Bangkalan Bambang Budi Mustika menjelaskan, penduduk buta aksara terus mengalami penurunan setiap tahun. ”Tahun ini kami menarget 750 peserta. Sudah dalam proses. Setiap tahunnya selalu ada pengurangan,” ucapnya Kamis (7/9).


Target 750 peserta di 2017 dibentuk dalam kelompok keaksaraan dasar (KD). Program keaksaraan fungsional (KF) tahun ini dilaksanakan di dua lokasi. Di pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) Blega 35 kelompok. Terdiri dari 350 peserta. Kemudian di PKBM Galis 40 kelompok. Terdiri dari 400 peserta.

Baca Juga :  Ketua KPK Sebut Pengawasan Internal Tak Efektif

”Pasti bisa mencapai target. Menyesuaikan dengan anggaran juga. Tahun depan kemungkinan akan menarget lebih lagi,” ungkapnya saat ditemui di kantornya.

Dalam APBD Bangkalan 2017 terdapat anggaran Rp 191.674.000 untuk program pendidikan nonformal. Di antaranya untuk pengembangan pendidikan keaksaraan dan program kejar paket.

Bambang menambahkan, program kejar paket pada pelaksanaan ujian tahun 2017 terdapat 1.091 peserta. Diselenggarakan disdik di 12 PKBM dengan 835 peserta. Kemudian dilaksanakan oleh Kemenag Bangkalan di empat pondok pesantren (ponpes) dengan 256 peserta.

”Ada 49 peserta tidak lulus Paket C. Jadi peserta yang lulus Paket C 2017 sebanyak 1.042 orang,” terangnya.

Pelaksanaan program pendidikan nonformal sendiri dilakukan secara bertahap. KF mengikuti ujian kejar Paket A, B dan C secara berjenjang. Menurut dia, untuk bisa mengentaskan buta aksara membutuhkan waktu lama. ”Ada prosesnya,” jelas Bambang.

Baca Juga :  Balai Bahasa Teliti Produk Jurnalistik JPRM

Dia menjelaskan, selain KD, pada proses pemberantasan buta aksara juga terdapat tahapan keaksaraan mandiri (KM).  KD merupakan masyarakat yang memang tidak tahu baca tulis dan menghitung.

”Kalau KM ini memang sudah punya dasar pengetahuan. Bisa jadi pernah sekolah, tapi tidak tuntas,” paparnya.

Pihaknya berjanji akan terus melakukan upaya pemberantasan buta aksara. Saat ini pihaknya lebih banyak fokus pada KD. Namun tetap tidak meninggalkan program untuk KM. ”Kami upayakan,” tutupnya.

Anggota Komisi D DPRD Bangkalan Abdurrahman berharap pemerintah serius dalam mengentaskan buta aksara. Pendidikan khusus masyarakat tersebut harus bisa direalisasikan dengan baik. ”Harus dimaksimalkan. Semua orang berhak mendapatkan pendidikan,” tandasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/