alexametrics
21 C
Madura
Wednesday, May 18, 2022

UTM dan PWNU Sepakat Kembangkan Garam di Pulau Madura

BANGKALAN – Sampai saat ini, potensi garam di Madura belum tergarap maksimal. Karena itu, Badan Kemaritiman PWNU bersama UTM telah menyepakati pengembangan garam di Pulau Madura. Sebab, Madura sangat layak menjadi pusat produksi garam.

Rencana pengembangan ini didukung Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Timur Emil Dardak. Termasuk, Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kementerian Kelautan dan Perikanan (BRSDM KKP) Sjarief Widjaja.

Kepala BRSDM KKP Sjarief Widjaya mengatakan, wilayah indonesia sebagian besar adalah laut. Namun, Indonesia sampai saat ini masih impor garam. Padahal, Indonesia memiliki Pulau Garam.

“Kita bisa coba kembangkan garam prisma yang ada di Madura agar NaCl-nya menjadi 96-97 persen. Itu supaya bisa masuk garam industri,” tuturnya.

Sjarief menambahkan, pihaknya dengan senang hati mendorong pengembangan garam tersebut. Nantinya, Madura akan dibuatkan sebuah teknologi produksi garam yang tetap produktif di musim penghujan.

Baca Juga :  Statemen ”Universitas Tidak Muhammadiyah” Tuai Polemik

“Madura harus memiliki sebuah teknologi produksi garam. Meski musim penghujan, produksi garam tidak terganggu,” jelasnya.

Hal serupa diungkapkan Wagub Jawa Timur Emil Dardak. “Madura ini Pulau Garam. Madura harus menjadi pusat pengembangan dan pusat produksinya garam,” tutur mantan Bupati Trenggalek itu.

Dikatakan, kunci produksi garam ada dua. Yakni adanya air laut dan sinar matahari. Jika Madura didukung dengan tekhnologi yang memadai, maka produksi garam di Madura akan melimpah. 

“Kita cuma perlu teknologi yang bisa memproduksi garam di musim hujan. Sebab, air laut melimpah. Namun, terkendala sinar matahari. Ini yang perlu kita uji coba dan kembangkan,” jelasnya. 

Selain itu, Madura juga bisa menjadi kawasan ekonomi khusus. Ia mengatakan, produksi garam tidak hanya menjadi satu produk. Tapi, bisa diolah menjadi beberapa produk turunannya.

Baca Juga :  Abdimas UTM Gelar Salawatan dan Sosialisasi Anti Narkoba

“Madura juga bisa menjadi kawasan ekonomi khusus. Dimana, akan mendapat fasilitas bebas pajak dan investasi setengah triliun. Investasi ini bisa menjadi olahan produk turunan seperti kandungan garam yang bisa diolah kembali dan bernilai ekonomis,” pungkasnya.

Rektor UTM Muh Syarief bersyukur rencana pengembangan garam mendapat dukungan dari berbagai pihak. Sebab, ia tidak ingin Madura yang telah menjadi Pulau Garam tidak bisa menjadi pusat produksi garam. 

“Alhamdulillah, seluruh pihak mendukung. Kemarin, salah satu kampus di Jawa Barat mengajukan untuk pengembangan garam, saya maju lebih dulu. Karena garam ada di Madura. Jadi, Madura harus bisa mengembangkan produksi, bahkan menjadi pusat garam,” ucapnya. (Julian Isna)

BANGKALAN – Sampai saat ini, potensi garam di Madura belum tergarap maksimal. Karena itu, Badan Kemaritiman PWNU bersama UTM telah menyepakati pengembangan garam di Pulau Madura. Sebab, Madura sangat layak menjadi pusat produksi garam.

Rencana pengembangan ini didukung Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Timur Emil Dardak. Termasuk, Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kementerian Kelautan dan Perikanan (BRSDM KKP) Sjarief Widjaja.

Kepala BRSDM KKP Sjarief Widjaya mengatakan, wilayah indonesia sebagian besar adalah laut. Namun, Indonesia sampai saat ini masih impor garam. Padahal, Indonesia memiliki Pulau Garam.

“Kita bisa coba kembangkan garam prisma yang ada di Madura agar NaCl-nya menjadi 96-97 persen. Itu supaya bisa masuk garam industri,” tuturnya.

Sjarief menambahkan, pihaknya dengan senang hati mendorong pengembangan garam tersebut. Nantinya, Madura akan dibuatkan sebuah teknologi produksi garam yang tetap produktif di musim penghujan.

Baca Juga :  Cetak Kader Bangsa Berkualitas dan Berakhlakul Karimah

“Madura harus memiliki sebuah teknologi produksi garam. Meski musim penghujan, produksi garam tidak terganggu,” jelasnya.

Hal serupa diungkapkan Wagub Jawa Timur Emil Dardak. “Madura ini Pulau Garam. Madura harus menjadi pusat pengembangan dan pusat produksinya garam,” tutur mantan Bupati Trenggalek itu.

Dikatakan, kunci produksi garam ada dua. Yakni adanya air laut dan sinar matahari. Jika Madura didukung dengan tekhnologi yang memadai, maka produksi garam di Madura akan melimpah. 

“Kita cuma perlu teknologi yang bisa memproduksi garam di musim hujan. Sebab, air laut melimpah. Namun, terkendala sinar matahari. Ini yang perlu kita uji coba dan kembangkan,” jelasnya. 

Selain itu, Madura juga bisa menjadi kawasan ekonomi khusus. Ia mengatakan, produksi garam tidak hanya menjadi satu produk. Tapi, bisa diolah menjadi beberapa produk turunannya.

Baca Juga :  Statemen ”Universitas Tidak Muhammadiyah” Tuai Polemik

“Madura juga bisa menjadi kawasan ekonomi khusus. Dimana, akan mendapat fasilitas bebas pajak dan investasi setengah triliun. Investasi ini bisa menjadi olahan produk turunan seperti kandungan garam yang bisa diolah kembali dan bernilai ekonomis,” pungkasnya.

Rektor UTM Muh Syarief bersyukur rencana pengembangan garam mendapat dukungan dari berbagai pihak. Sebab, ia tidak ingin Madura yang telah menjadi Pulau Garam tidak bisa menjadi pusat produksi garam. 

“Alhamdulillah, seluruh pihak mendukung. Kemarin, salah satu kampus di Jawa Barat mengajukan untuk pengembangan garam, saya maju lebih dulu. Karena garam ada di Madura. Jadi, Madura harus bisa mengembangkan produksi, bahkan menjadi pusat garam,” ucapnya. (Julian Isna)

Artikel Terkait

Komitmen Tekan AKI-AKB

Menjaga Kesehatan Tulang

Pasar Tumpah Picu Kemacetan

Most Read

Artikel Terbaru

/