alexametrics
24.4 C
Madura
Saturday, May 21, 2022

Museum Cakraningrat Kecipratan Rp 450 Juta

BANGKALAN – Pemerintah akhirnya menganggarkan konservasi benda sejarah di Museum Cakraningrat Bangkalan. Tahun lalu museum yang terletak di Jalan Soekarno-Hatta itu tidak kebagian anggaran untuk biaya perawatan.

Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bangkalan Hendra Gemma Dominan menyampaikan, tahun 2018, konservasi benda di museum tidak masuk dalam APBD. Pihaknya sudah melakukan pengajuan, namun tidak teranggarkan.

Berbeda dengan 2017. Anggaran untuk konservasi pemerintah menggerojok Rp 110 juta. ”Kami sudah coba untuk mengajukan perubahan anggaran keuangan (PAK). Tapi tidak ada,” ucapnya kemarin (6/3).

Tahun ini konservasi museum masuk dalam APBD. Program tersebut mendapat anggaran yang dari dana alokasi khusus (DAK). Anggaran tersebut berupa bantuan operasional penyelenggaraan (BOP) museum dan taman budaya.

DAK nonfisik BOP museum dan taman budaya merupakan dana yang dialokasikan dari APBN. Dana tersebut dialokasikan kepada daerah dengan memperhatikan kewenangan pengelolaan museum dan taman budaya. Tujuannya, membantu mendanai kegiatan khusus nonfisik yang merupakan urusan daerah.

Selain itu, untuk mendorong pemenuhan standar pelayanan museum dan taman budaya sebagai media edukasi bagi masyarakat. ”DAK nonfisik BOP museum ini baru kali pertama dilaksanakan oleh Kemendikbud. Penerima dana ini telah dilakukan verifikasi dan evaluasi oleh kementerian,” kata Hendra.

Baca Juga :  Tak Sesuai NSPK, Museum Cakraningrat Tidak Diakui Kemendikbud

Penyaluran DAK nonfisik diberikan bagi pemerintah daerah yang melaksanakan fungsi museum dan secara aktif beroperasi. Museum memiliki beberapa tipe. Setiap tipe menentukan besaran BOP.

Museum milik pemerintah provinsi tipe A Rp 2,5 miliar. Tipe B Rp 1,8 miliar. Kemudian untuk tipe C Rp 1,45 miliar. Sedangkan bagi museum milik pemerintah daerah tipe A bisa mendapat Rp 800 juta, tipe B Rp 600 juta, dan Rp 450 juta untuk tipe C.

Museum Cakraningrat masuk dalam kategori museum tipe C sehingga hanya dapat Rp 450 juta. Hendra menerangkan, komponen pembiayaan BOP museum yang diperoleh dibagi dalam beberapa persentase. Pengelolaan koleksi minimal 35 persen dari total anggaran.

Kemudian untuk program publik dengan alokasi dana 45 persen dari total anggaran. Sedangkan pemeliharaan sarana dan prasarana maksimal 20 persen dari total anggaran. ”Pencairannya dilakukan dua tahap. Maret dan Agustus. Langsung ditransfer ke kas daerah,” kata pejabat yang suka musik rock itu.

Baca Juga :  Ratusan Koleksi Wamas Belum Dipajang

Konservasi benda peninggalan sejarah tersebut dilakukan untuk menjaga dan mencegah kerusakan benda-benda purbakala. Biasanya, perawatan skala besar dilakukan pertengahan tahun. Jika tidak dirawat, benda-benda seperti pusaka, senjata peninggalan masa penjajahan dan alat musik tradisional bisa berkarat.

”Konservasi tetap ada. Jadi DAK ini tidak hanya untuk konservasi saja. Ada peruntukannya. Sesuai juknis,” ujarnya.

Untuk bisa mengubah status tipe Museum Cakraningrat perlu beberapa syarat. Seperti standardisasi gedung dan fasilitas museum. Kemudian jumlah koleksi. Pihaknya akan berupaya agar museum ini naik status. ”Semakin bagus dan koleksinya semakin banyak akan naik statusnya,” ucap Hendra.

Anggota Komisi D DPRD Bangkalan Abdurrahman Thohir mengatakan, konservasi museum itu perlu. Mengingat benda peninggalan sejarah rentan rusak. ”Perlu perawatan rutin agar tetap terjaga,” katanya.

- Advertisement -

BANGKALAN – Pemerintah akhirnya menganggarkan konservasi benda sejarah di Museum Cakraningrat Bangkalan. Tahun lalu museum yang terletak di Jalan Soekarno-Hatta itu tidak kebagian anggaran untuk biaya perawatan.

Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bangkalan Hendra Gemma Dominan menyampaikan, tahun 2018, konservasi benda di museum tidak masuk dalam APBD. Pihaknya sudah melakukan pengajuan, namun tidak teranggarkan.

Berbeda dengan 2017. Anggaran untuk konservasi pemerintah menggerojok Rp 110 juta. ”Kami sudah coba untuk mengajukan perubahan anggaran keuangan (PAK). Tapi tidak ada,” ucapnya kemarin (6/3).


Tahun ini konservasi museum masuk dalam APBD. Program tersebut mendapat anggaran yang dari dana alokasi khusus (DAK). Anggaran tersebut berupa bantuan operasional penyelenggaraan (BOP) museum dan taman budaya.

DAK nonfisik BOP museum dan taman budaya merupakan dana yang dialokasikan dari APBN. Dana tersebut dialokasikan kepada daerah dengan memperhatikan kewenangan pengelolaan museum dan taman budaya. Tujuannya, membantu mendanai kegiatan khusus nonfisik yang merupakan urusan daerah.

Selain itu, untuk mendorong pemenuhan standar pelayanan museum dan taman budaya sebagai media edukasi bagi masyarakat. ”DAK nonfisik BOP museum ini baru kali pertama dilaksanakan oleh Kemendikbud. Penerima dana ini telah dilakukan verifikasi dan evaluasi oleh kementerian,” kata Hendra.

Baca Juga :  ANC Sukses Tekan Kematian Ibu dan Bayi

Penyaluran DAK nonfisik diberikan bagi pemerintah daerah yang melaksanakan fungsi museum dan secara aktif beroperasi. Museum memiliki beberapa tipe. Setiap tipe menentukan besaran BOP.

Museum milik pemerintah provinsi tipe A Rp 2,5 miliar. Tipe B Rp 1,8 miliar. Kemudian untuk tipe C Rp 1,45 miliar. Sedangkan bagi museum milik pemerintah daerah tipe A bisa mendapat Rp 800 juta, tipe B Rp 600 juta, dan Rp 450 juta untuk tipe C.

Museum Cakraningrat masuk dalam kategori museum tipe C sehingga hanya dapat Rp 450 juta. Hendra menerangkan, komponen pembiayaan BOP museum yang diperoleh dibagi dalam beberapa persentase. Pengelolaan koleksi minimal 35 persen dari total anggaran.

Kemudian untuk program publik dengan alokasi dana 45 persen dari total anggaran. Sedangkan pemeliharaan sarana dan prasarana maksimal 20 persen dari total anggaran. ”Pencairannya dilakukan dua tahap. Maret dan Agustus. Langsung ditransfer ke kas daerah,” kata pejabat yang suka musik rock itu.

Baca Juga :  Sore Ini Putusan Nur Faizin

Konservasi benda peninggalan sejarah tersebut dilakukan untuk menjaga dan mencegah kerusakan benda-benda purbakala. Biasanya, perawatan skala besar dilakukan pertengahan tahun. Jika tidak dirawat, benda-benda seperti pusaka, senjata peninggalan masa penjajahan dan alat musik tradisional bisa berkarat.

”Konservasi tetap ada. Jadi DAK ini tidak hanya untuk konservasi saja. Ada peruntukannya. Sesuai juknis,” ujarnya.

Untuk bisa mengubah status tipe Museum Cakraningrat perlu beberapa syarat. Seperti standardisasi gedung dan fasilitas museum. Kemudian jumlah koleksi. Pihaknya akan berupaya agar museum ini naik status. ”Semakin bagus dan koleksinya semakin banyak akan naik statusnya,” ucap Hendra.

Anggota Komisi D DPRD Bangkalan Abdurrahman Thohir mengatakan, konservasi museum itu perlu. Mengingat benda peninggalan sejarah rentan rusak. ”Perlu perawatan rutin agar tetap terjaga,” katanya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/