26.9 C
Madura
Saturday, January 28, 2023

Bus Jalur Wajan Penyok Ekspresikan Pelecehan melalui Pertunjukan

Usaha Meretas Kekerasan Seksual dengan Cara Berbeda

Arung dan kawan-kawan menarasikan pelecehan melalui pertunjukan. Meski dinilai tidak penting, penyampaiannya penuh makna. Sebab, di lingkungan kebudayaan juga banyak terjadi kekerasan seksual.

UBAIDILLAHIR RA’IE, Bangkalan, Jawa Pos Radar Madura

ROMBONGAN Bus Jalur Wajan Penyok berhenti di depan Perumahan Griya Abadi, Desa Bilaporah, Kecamatan Socah, Bangkalan. Malam itu, Senin (5/12), belasan pemeran berbondong-bondong memasuki tempat pertunjukan sembari membawa peralatan pendukung pergelaran.

Tirai hitam mulai dipasang di dinding selatan. Hiasan semacam wajan kecil digantung pada tali yang membentang di sisi utara. Wajan-wajan besar berserakan di lantai, mewadahi pakaian dalam.

Pertunjukan diawali oleh pria berkacamata menepuk wajan. Disusul penari berbaju hitam. Mereka memutari wajan kecil yang bergelantungan pada tali biru.

Keduanya mulai memukul-mukul wajan tersebut. Pukulan yang keras menggambarkan kekerasan yang kerap terjadi di sekitar masyarakat. Terutama untuk kalangan perempuan. Malam itu, tim Bus Jalur Wajan Penyok mengekspresikan dengan pertunjukan agar masyarakat waspada atas kekerasan yang sering terjadi.

Pernak-pernik wajan, panci, dan beberapa pakaian dalam bergelantungan menghiasi pertunjukan. Sutradara sekaligus fasilitator Bus Jalur Wajan Penyok Arung Wardhana Ellhafifie memandang saksama sekaligus mengiringi dengan musik mulut.

Baca Juga :  Pengunjung Keluhkan Fasilitas Kolam Renang Tak Terawat

Pertunjukan itu merupakan salah satu bentuk persepsi tentang kekerasan yang sering terjadi saat ini. Pasukan Bus Jalur Wajan Penyok mengemas problematika menjadi dinamika baru berbentuk pertunjukan.

”Sebagai gambaran agar kita waspada terhadap lingkungan terdekat. Termasuk di lingkungan kebudayaan yang selama ini juga banyak pelaku budaya melakukan kekerasan seksual,” terang pria 35 tahun itu.

TAWARAN ALTERNATIF: Tim Bus Jalur Wajan Penyok menampilkan pertunjukan di Neka Ruang Kopi, Perum Griya Abadi, Desa Bilaporah, Kecamatan Socah, Bangkalan, Senin (5/12) malam. (Abrar Ghazy Hardian/RadarMadura.id)

Menurut dia, masyarakat perlu mawaspadai diri dan melek pengetahuan akan kekerasan yang marak terjadi. Selain itu, tidak tunainformasi tentang ruang-ruang yang membahayakan. ”Di ruang kebudayaan tidak menutup kemungkinan menjadi penyebab terjadinya kekerasan itu pula,” ujar Arung sembari mengelap keringat yang membasahi wajahnya.

Pertunjukan itu dikemas demikian agar masing-masing manusia selalu waspada terhadap gangguan-gangguan kejahatan terdekat. Sekecil apa pun kekerasan maupun pelecehan harus tetap diwaspadai. ”Lebih-lebih, kekerasan seksual. Kekerasan seksual itu banyak. Siulan juga termasuk kekerasan seksual,” ungkapnya.

Arung menegaskan, pertunjukan itu merupakan usaha meretas kekerasan seksual dengan cara berbeda. Dia ingin membuka mindset baru terhadap kewaspadaan masyarakat akan kekerasan. ”Kami mencoba memberikan tawaran alternatif dalam meretasnya dengan paradigma yang lain. Salah satunya melalui pertunjukan ini,” katanya sambil menyeruput kopi.

Baca Juga :  Cegah Pungli, Polres Launching Program BCPS

Bus Jalur Wajan Penyok menyajikan beragam penampilan. Antara lain, tari, performance art (seni penampilan), happening (kontemporer), lecture performance (perbandingan kerja), teater, dan reportase. ”Semua itu digabung menjadi satu pertunjukan secara utuh, dimainkan oleh 15 orang sesuai biografis masing-masing,” jelas pria kelahiran Desa/Kecamatan Burneh, Bangkalan, itu.

Dia menyadari kemungkinan masalah kekerasan seksual tidak dinilai penting oleh sebagian kalangan. Namun, penyampaiannya melalui pertunjukan ini penuh makna. ”Dengan narasi itu, paling tidak di lingkungan kita memahami bentuk-bentuk dan jenis kekerasan seksual. Seperti bersiul, nyolek, dan memamerkan kelamin merupakan salah satu bagian dari pelecehan yang perlu kita pahami juga,” bebernya.

Pertunjukan Bus Jalur Wajan Penyok itu digarap Wulan Destian Natalia selaku produser dan koreografer. Sedangkan Arung bertindak sebagai sutradara/fasilitator bersama Arda Fatimah Fania Ena. (*/luq)

Arung dan kawan-kawan menarasikan pelecehan melalui pertunjukan. Meski dinilai tidak penting, penyampaiannya penuh makna. Sebab, di lingkungan kebudayaan juga banyak terjadi kekerasan seksual.

UBAIDILLAHIR RA’IE, Bangkalan, Jawa Pos Radar Madura

ROMBONGAN Bus Jalur Wajan Penyok berhenti di depan Perumahan Griya Abadi, Desa Bilaporah, Kecamatan Socah, Bangkalan. Malam itu, Senin (5/12), belasan pemeran berbondong-bondong memasuki tempat pertunjukan sembari membawa peralatan pendukung pergelaran.


Tirai hitam mulai dipasang di dinding selatan. Hiasan semacam wajan kecil digantung pada tali yang membentang di sisi utara. Wajan-wajan besar berserakan di lantai, mewadahi pakaian dalam.

Pertunjukan diawali oleh pria berkacamata menepuk wajan. Disusul penari berbaju hitam. Mereka memutari wajan kecil yang bergelantungan pada tali biru.

Keduanya mulai memukul-mukul wajan tersebut. Pukulan yang keras menggambarkan kekerasan yang kerap terjadi di sekitar masyarakat. Terutama untuk kalangan perempuan. Malam itu, tim Bus Jalur Wajan Penyok mengekspresikan dengan pertunjukan agar masyarakat waspada atas kekerasan yang sering terjadi.

Pernak-pernik wajan, panci, dan beberapa pakaian dalam bergelantungan menghiasi pertunjukan. Sutradara sekaligus fasilitator Bus Jalur Wajan Penyok Arung Wardhana Ellhafifie memandang saksama sekaligus mengiringi dengan musik mulut.

Baca Juga :  Toko Modern Marak, Perda Masih Lemah
- Advertisement -

Pertunjukan itu merupakan salah satu bentuk persepsi tentang kekerasan yang sering terjadi saat ini. Pasukan Bus Jalur Wajan Penyok mengemas problematika menjadi dinamika baru berbentuk pertunjukan.

”Sebagai gambaran agar kita waspada terhadap lingkungan terdekat. Termasuk di lingkungan kebudayaan yang selama ini juga banyak pelaku budaya melakukan kekerasan seksual,” terang pria 35 tahun itu.

TAWARAN ALTERNATIF: Tim Bus Jalur Wajan Penyok menampilkan pertunjukan di Neka Ruang Kopi, Perum Griya Abadi, Desa Bilaporah, Kecamatan Socah, Bangkalan, Senin (5/12) malam. (Abrar Ghazy Hardian/RadarMadura.id)

Menurut dia, masyarakat perlu mawaspadai diri dan melek pengetahuan akan kekerasan yang marak terjadi. Selain itu, tidak tunainformasi tentang ruang-ruang yang membahayakan. ”Di ruang kebudayaan tidak menutup kemungkinan menjadi penyebab terjadinya kekerasan itu pula,” ujar Arung sembari mengelap keringat yang membasahi wajahnya.

Pertunjukan itu dikemas demikian agar masing-masing manusia selalu waspada terhadap gangguan-gangguan kejahatan terdekat. Sekecil apa pun kekerasan maupun pelecehan harus tetap diwaspadai. ”Lebih-lebih, kekerasan seksual. Kekerasan seksual itu banyak. Siulan juga termasuk kekerasan seksual,” ungkapnya.

Arung menegaskan, pertunjukan itu merupakan usaha meretas kekerasan seksual dengan cara berbeda. Dia ingin membuka mindset baru terhadap kewaspadaan masyarakat akan kekerasan. ”Kami mencoba memberikan tawaran alternatif dalam meretasnya dengan paradigma yang lain. Salah satunya melalui pertunjukan ini,” katanya sambil menyeruput kopi.

Baca Juga :  Jangan Abaikan Penyakit Batu Saluran Kemih

Bus Jalur Wajan Penyok menyajikan beragam penampilan. Antara lain, tari, performance art (seni penampilan), happening (kontemporer), lecture performance (perbandingan kerja), teater, dan reportase. ”Semua itu digabung menjadi satu pertunjukan secara utuh, dimainkan oleh 15 orang sesuai biografis masing-masing,” jelas pria kelahiran Desa/Kecamatan Burneh, Bangkalan, itu.

Dia menyadari kemungkinan masalah kekerasan seksual tidak dinilai penting oleh sebagian kalangan. Namun, penyampaiannya melalui pertunjukan ini penuh makna. ”Dengan narasi itu, paling tidak di lingkungan kita memahami bentuk-bentuk dan jenis kekerasan seksual. Seperti bersiul, nyolek, dan memamerkan kelamin merupakan salah satu bagian dari pelecehan yang perlu kita pahami juga,” bebernya.

Pertunjukan Bus Jalur Wajan Penyok itu digarap Wulan Destian Natalia selaku produser dan koreografer. Sedangkan Arung bertindak sebagai sutradara/fasilitator bersama Arda Fatimah Fania Ena. (*/luq)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/