alexametrics
21.6 C
Madura
Wednesday, May 18, 2022

Minta Pemerintah Awasi Jual Beli Online

BANGKALAN – Bisnis di internet kian digemari masyarakat. Salah satunya melalui sarana media sosial (medsos). Sayangnya, jual beli online tersebut kurang pengawasan. Akibatnya, tak sedikit konsumen yang menjadi korban penipuan.

Seperti yang pernah dialami Royhana, mahasiswi STKIP Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Dia mengaku pernah menjadi korban penipuan jual beli online. Kejadian bermula saat dia ingin membeli handphone. Saat mengecek di salah satu akun instagram (IG), Royhana kepincut dengan salah satu akun yang menawarkan HP harga murah. ”Saya percaya karena endorse-nya salah satu artis,” ujarnya Minggu (4/11).

Royhana mengatakan, HP Oppo F1 yang dia beli hanya seharga Rp 1 juta. Padahal, harga di pasaran lebih mahal. Karena percaya, dia mentransfer uang senilai Rp 1 juta. ”Seletah saya kirim uang, saya minta nomor resinya tidak diberi,” katanya melanjutkan ceritanya.

Baca Juga :  Pelabuhan Kamal Belum Beroperasi

Meski ditipu, Royhana tidak melaporkan kejadian penipuan yang menimpanya kepada kepolisian. Karena dia tak ingin repot. ”Saya tidak ingin ribet, saya anggap itu kesalahan kita juga,” tuturnya.

Royhana berharap pemerintah dapat melakukan pengawasan jual beli online. Dia yakin banyak orang lain yang menjadi korban penipuan jual beli online seperti yang dialaminya. ”Harapannya, agar pemerintah melakukan pengawasan, bukan hanya Tik Tok saja yang mereka pantau terus,” pintanya.

Di tempat terpisah, Kepala Dinas Komunikasi dan Informastika Bambang Setiawan mengaku bahwa lembaganya tidak memiliki kewenangan untuk melakukan filterisasi akun medsos. Sebab, pengendalian akun medsos itu kewenangan pemerintah pusat.

”Kalau kominfo daerah tidak ada kewenangan itu, karena pengendalian akun-akun seperti itu di pusat,” katanya. (c3)

Baca Juga :  Ratusan Warga Antusias Ikuti Baksos HPN
- Advertisement -

BANGKALAN – Bisnis di internet kian digemari masyarakat. Salah satunya melalui sarana media sosial (medsos). Sayangnya, jual beli online tersebut kurang pengawasan. Akibatnya, tak sedikit konsumen yang menjadi korban penipuan.

Seperti yang pernah dialami Royhana, mahasiswi STKIP Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Dia mengaku pernah menjadi korban penipuan jual beli online. Kejadian bermula saat dia ingin membeli handphone. Saat mengecek di salah satu akun instagram (IG), Royhana kepincut dengan salah satu akun yang menawarkan HP harga murah. ”Saya percaya karena endorse-nya salah satu artis,” ujarnya Minggu (4/11).

Royhana mengatakan, HP Oppo F1 yang dia beli hanya seharga Rp 1 juta. Padahal, harga di pasaran lebih mahal. Karena percaya, dia mentransfer uang senilai Rp 1 juta. ”Seletah saya kirim uang, saya minta nomor resinya tidak diberi,” katanya melanjutkan ceritanya.

Baca Juga :  Ratusan Ribuan Warga Tak Punya E-KTP

Meski ditipu, Royhana tidak melaporkan kejadian penipuan yang menimpanya kepada kepolisian. Karena dia tak ingin repot. ”Saya tidak ingin ribet, saya anggap itu kesalahan kita juga,” tuturnya.

Royhana berharap pemerintah dapat melakukan pengawasan jual beli online. Dia yakin banyak orang lain yang menjadi korban penipuan jual beli online seperti yang dialaminya. ”Harapannya, agar pemerintah melakukan pengawasan, bukan hanya Tik Tok saja yang mereka pantau terus,” pintanya.

Di tempat terpisah, Kepala Dinas Komunikasi dan Informastika Bambang Setiawan mengaku bahwa lembaganya tidak memiliki kewenangan untuk melakukan filterisasi akun medsos. Sebab, pengendalian akun medsos itu kewenangan pemerintah pusat.

”Kalau kominfo daerah tidak ada kewenangan itu, karena pengendalian akun-akun seperti itu di pusat,” katanya. (c3)

Baca Juga :  Pelabuhan Kamal Belum Beroperasi
- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/