alexametrics
29.3 C
Madura
Saturday, May 28, 2022

Simbol Keanggunan dan Budi Pekerti Perempuan Madura

BANGKALAN – Bakorwil Pamekasan menggelar lomba kontes sape sono’ di Alun-Alun Kota Bangkalan kemarin (5/10). Event tersebut menjadi tontonan menarik bagi ribuan warga. Penonton tidak hanya berasal dari Madura, tapi banyak yang datang dari luar daerah.

 Tercatat, ada 39 pasang sapi yang dilombakan pada event budaya tersebut. Puluhan pasang sapi itu merupakan delegasi dari tiga kabupaten di Madura. Kabupaten Sumenep dan Pamekasan masing-masing mengirimkan 15 pasang sapi. Sementara 9 lainnya berasal dari Sampang.

Sebelum acara dimulai, puluhan pasang sapi diarak. Sapi-sapi tersebut berlenggak-lenggok dengan memutari alun-alun diiringi lantunan alat musik tradisional saronen. Tepuk tangan penonton menyambut pembukaan yang dipimpin Bupati Bangkalan Abd. Latif Amin Imron tersebut.

Baca Juga :  Satu Pendamping Tangani 500 KPM

Joko Pranoto, juri kontes sape sono’ mengatakan, karapan sapi merupakan simbol dari keperkasaan laki-laki Madura. Yakni, tangkas, lincah, dan pemberani. Sementara sape sono’ sebagai lambang dari keanggunan dan kesopanan budi pekerti perempuan Madura. ”Sape sono’ memiliki estetika seni yang tinggi, anggun, luwes, dan berjalan dengan pelan penuh tata krama,” ucap dewan juri yang berasal dari Desa Dempo Barat, Kecamatan Pasean, Kabupaten Pamekasan.

Dia menerangkan, penilaian karapan sapi terletak pada kecepatan dan ketangkasan. Sementara kontes sape sono’ mengedepankan nilai-nilai luhur. ”Sama dengan masyarakat Madura, lelakinya pekerja keras. Dulunya juga terkenal sebagai pelaut ulung. Sedangkan perempuannya ramah, sopan, dan bermartabat,” terangnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Bakorwil Pamekasan Dr Alwi, M.Hum. Kepada  Jawa Pos Radar Madura da menuturkan, sape sono’ mempunyai filosofi tersendiri. ”Dalam penilaian kontes sape sono’, seni berperilaku lebih ditonjolkan, langkah yang mantap, dan bertata krama,” ucapnya.

Baca Juga :  D. Zawawi Imron Ajak Generasi Muda Jaga Pergaulan

Bagi Alwi, kontes sape sono’ merupakan ajang untuk menampilkan kesenian tradisional yang kental dengan nilai estetika. ”Harapan kami, generasi muda tetap menjaga, melestarikan, dan mencintai budaya luhur ini. Jangan malu beternak sapi, sapi Madura harus dijaga kemurniannya,” pinta Alwi. (c1)

BANGKALAN – Bakorwil Pamekasan menggelar lomba kontes sape sono’ di Alun-Alun Kota Bangkalan kemarin (5/10). Event tersebut menjadi tontonan menarik bagi ribuan warga. Penonton tidak hanya berasal dari Madura, tapi banyak yang datang dari luar daerah.

 Tercatat, ada 39 pasang sapi yang dilombakan pada event budaya tersebut. Puluhan pasang sapi itu merupakan delegasi dari tiga kabupaten di Madura. Kabupaten Sumenep dan Pamekasan masing-masing mengirimkan 15 pasang sapi. Sementara 9 lainnya berasal dari Sampang.

Sebelum acara dimulai, puluhan pasang sapi diarak. Sapi-sapi tersebut berlenggak-lenggok dengan memutari alun-alun diiringi lantunan alat musik tradisional saronen. Tepuk tangan penonton menyambut pembukaan yang dipimpin Bupati Bangkalan Abd. Latif Amin Imron tersebut.

Baca Juga :  SMPN 2 Meriahkan Tahun Baru Islam

Joko Pranoto, juri kontes sape sono’ mengatakan, karapan sapi merupakan simbol dari keperkasaan laki-laki Madura. Yakni, tangkas, lincah, dan pemberani. Sementara sape sono’ sebagai lambang dari keanggunan dan kesopanan budi pekerti perempuan Madura. ”Sape sono’ memiliki estetika seni yang tinggi, anggun, luwes, dan berjalan dengan pelan penuh tata krama,” ucap dewan juri yang berasal dari Desa Dempo Barat, Kecamatan Pasean, Kabupaten Pamekasan.

Dia menerangkan, penilaian karapan sapi terletak pada kecepatan dan ketangkasan. Sementara kontes sape sono’ mengedepankan nilai-nilai luhur. ”Sama dengan masyarakat Madura, lelakinya pekerja keras. Dulunya juga terkenal sebagai pelaut ulung. Sedangkan perempuannya ramah, sopan, dan bermartabat,” terangnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Bakorwil Pamekasan Dr Alwi, M.Hum. Kepada  Jawa Pos Radar Madura da menuturkan, sape sono’ mempunyai filosofi tersendiri. ”Dalam penilaian kontes sape sono’, seni berperilaku lebih ditonjolkan, langkah yang mantap, dan bertata krama,” ucapnya.

Baca Juga :  Carpan Madura: Eppa’

Bagi Alwi, kontes sape sono’ merupakan ajang untuk menampilkan kesenian tradisional yang kental dengan nilai estetika. ”Harapan kami, generasi muda tetap menjaga, melestarikan, dan mencintai budaya luhur ini. Jangan malu beternak sapi, sapi Madura harus dijaga kemurniannya,” pinta Alwi. (c1)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/