alexametrics
21.3 C
Madura
Sunday, June 26, 2022

Hindari Kecanduan Gadget

BANGKALAN, Jawa Pos Radar Madura – Gadget menjadi kebutuhan utama bagi sebagian besar masyarakat. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Apalagi, di masa pandemi Covid-19 yang mengharuskan semua orang bergantung pada gadget.

Psikolog Klinis RSUD Syamrabu Doni Mustofa, S.Psi., M.Psi. menjelaskan, gadget merupakan perangkat atau instrumen elektronik yang bersifat netral dan memiliki fungsi berbeda sesuai penggunanya. Karena sifatnya netral, gadget mempunyai kelebihan dan kekurangan.

”Kelebihannya dapat membantu mobilitas kehidupan sehari-hari. Sementara kekuranganya dapat menimbulkan kecanduan,” terangnya kemarin (25/6).

Ketika penggunaan gadget menjadi candu, dapat menimbulkan keluhan psikologis. Misalnya, perilaku tidak terkontrol, cemas, suka menghindar, dan menyendiri. Kemudian, tidak peduli dengan lingkungan sekitar, prestasi kerja atau sekolah menurun, kelelahan psikis, dan khawatir berlebihan.

Baca Juga :  Tips Isolasi Mandiri di Rumah

”Jika berbagai keluhan tersebut tidak segera ditangani dengan baik, akan menjadi lebih parah,” katanya.

Menurut Doni, ada beberapa tips agar orang yang kita cintai tidak kecanduan penggunaan gadget. Yaitu, menggunakan gadget secara bijak dengan menerapkan pola sesuaikan, seperlunya, dan seimbang (3S).

Sesuaikan maksudnya menyadari fungsi gadget yang digunakan. Seperlunya bertujuan mengontrol diri dari penggunaan gadget. Sementara seimbang di sini tujuannya menikmati proses dan menjadi bijak karena pada hakikatnya gadget merupakan sarana penunjang dan fokus terhadap diri sendiri yang merupakan makhluk sosial.

Jika tips 3S tersebut dapat dilakukan dengan baik, gadget akan membawa banyak manfaat untuk kehidupan sehari-hari. Dengan catatan, 3S itu harus diterapkan secara konsisten sehingga pengguna tidak mengalami keluhan psikologis.

Baca Juga :  Pencari Rumput Temukan Tengkorak Laki dan Perempuan Terikat

”Perlu diingat, gadget adalah alat komunkasi yang bersifat netral, tapi bisa berdampak buruk. Jadi, perlu kebijakan dalam penggunaannya,” imbaunya. (jup/onk)

BANGKALAN, Jawa Pos Radar Madura – Gadget menjadi kebutuhan utama bagi sebagian besar masyarakat. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Apalagi, di masa pandemi Covid-19 yang mengharuskan semua orang bergantung pada gadget.

Psikolog Klinis RSUD Syamrabu Doni Mustofa, S.Psi., M.Psi. menjelaskan, gadget merupakan perangkat atau instrumen elektronik yang bersifat netral dan memiliki fungsi berbeda sesuai penggunanya. Karena sifatnya netral, gadget mempunyai kelebihan dan kekurangan.

”Kelebihannya dapat membantu mobilitas kehidupan sehari-hari. Sementara kekuranganya dapat menimbulkan kecanduan,” terangnya kemarin (25/6).


Ketika penggunaan gadget menjadi candu, dapat menimbulkan keluhan psikologis. Misalnya, perilaku tidak terkontrol, cemas, suka menghindar, dan menyendiri. Kemudian, tidak peduli dengan lingkungan sekitar, prestasi kerja atau sekolah menurun, kelelahan psikis, dan khawatir berlebihan.

Baca Juga :  Divonis Korupsi, Pejabat Bangkalan Belum Disanksi

”Jika berbagai keluhan tersebut tidak segera ditangani dengan baik, akan menjadi lebih parah,” katanya.

Menurut Doni, ada beberapa tips agar orang yang kita cintai tidak kecanduan penggunaan gadget. Yaitu, menggunakan gadget secara bijak dengan menerapkan pola sesuaikan, seperlunya, dan seimbang (3S).

Sesuaikan maksudnya menyadari fungsi gadget yang digunakan. Seperlunya bertujuan mengontrol diri dari penggunaan gadget. Sementara seimbang di sini tujuannya menikmati proses dan menjadi bijak karena pada hakikatnya gadget merupakan sarana penunjang dan fokus terhadap diri sendiri yang merupakan makhluk sosial.

Jika tips 3S tersebut dapat dilakukan dengan baik, gadget akan membawa banyak manfaat untuk kehidupan sehari-hari. Dengan catatan, 3S itu harus diterapkan secara konsisten sehingga pengguna tidak mengalami keluhan psikologis.

Baca Juga :  Atap RSUD Syamrabu Terbakar, Pemicunya Diduga Karena Ini

”Perlu diingat, gadget adalah alat komunkasi yang bersifat netral, tapi bisa berdampak buruk. Jadi, perlu kebijakan dalam penggunaannya,” imbaunya. (jup/onk)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/