alexametrics
20.7 C
Madura
Thursday, May 19, 2022

Rektor: Kebiasaan Baik untuk Karakter Baik

PEMBENTUKAN Kampung Karakter untuk melahirkan kader bangsa berkualitas dan berakhlakul karimah. Cita-cita itu disandarkan pada tiga hal. Pertama, visi-misi UTM yang dalam statuta mencantumkan berakhlakul karimah. Kedua, Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter, dan ketiga adalah keinginan Pemkab Bangkalan mendeklarasikan Kota Zikir dan Salawat.

Rektor UTM Dr. Drs. Ec. H. Muh. Syarif, M.Si. menerangkan, membangun karakter berarti membangun manusia yang mengarah pada sentuhan ruang jiwa atau rohani sehingga dibutuhkan energi dan sinergi besar. ”Energi dibutuhkan dalam merumuskan desain, kebijakan, dan strategi, bahkan butuh pendekatan 24 jam. Sedangkan sinergi dibutuhkan agar ketercapaian yang diharapkan bisa mencapai derajat maksimal,” terangnya.

Baca Juga :  10 Bulan, Polisi Tangkap 246 Orang dan Sita 2 Kilogram Lebih Sabu-Sabu

Klik dan Download Aplikasi Radar Madura Disini..!!

Proyeksi terbesar difokuskan pada pembangunan satu atau dua karakter yang nampak. Misalnya, peduli dan amanah. Seperti peduli pada lingkungan sekitar dan amanah dalam menjalankan tugas.

Syarif mengungkapkan, strategi yang digunakan ada tiga. Pertama yaitu membangun paradigma. Sebab, paradigma memengaruhi sikap, perilaku, dan tindakan seseorang. Paradigma dipengaruhi oleh pengetahuan. Sementara pengetahuan tentang manfaat karakter yang baik akan memengaruhi tindakan masyarakat.

Pemahaman terkait manfaat perilaku baik, kata Syarif, akan memengaruhi sikap masyarakat. Semakin masyarakat mengetahui dan memahami efek positif dari karakter bagi dirinya sendiri, maka semakin kuat dorongan melakukan kebaikan. Hal ini perlu gerakan masif dari semua stakeholder.

Baca Juga :  Tarif Parkir Naik 100 Persen

Kedua adalah habituasi. Pasalnya pembentukan karakter paling efektif adalah pembiasaan. Good habits for good character. Habituasi bisa dimulai dari sesuatu yang sederhana, tidak memberatkan, dan sasarannya sesuatu yang nampak. ”Misalkan tertib dalam mengerjakan aktivitas kuliah dan ibadah, membuang sampah pada tempatnya,” jelasnya.

Ketiga adalah sistem kontrol dan evaluasi. Di antara kunci keberhasilan membentuk karakter adalah sistem kontrol. ”Jika masyarakat semuanya terlibat dan berperan dalam pembentukan karakter, tentu akan ada percepatan dalam pembangunan karakter,” tutup Syarif. 

- Advertisement -

PEMBENTUKAN Kampung Karakter untuk melahirkan kader bangsa berkualitas dan berakhlakul karimah. Cita-cita itu disandarkan pada tiga hal. Pertama, visi-misi UTM yang dalam statuta mencantumkan berakhlakul karimah. Kedua, Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter, dan ketiga adalah keinginan Pemkab Bangkalan mendeklarasikan Kota Zikir dan Salawat.

Rektor UTM Dr. Drs. Ec. H. Muh. Syarif, M.Si. menerangkan, membangun karakter berarti membangun manusia yang mengarah pada sentuhan ruang jiwa atau rohani sehingga dibutuhkan energi dan sinergi besar. ”Energi dibutuhkan dalam merumuskan desain, kebijakan, dan strategi, bahkan butuh pendekatan 24 jam. Sedangkan sinergi dibutuhkan agar ketercapaian yang diharapkan bisa mencapai derajat maksimal,” terangnya.

Baca Juga :  10 Bulan, Polisi Tangkap 246 Orang dan Sita 2 Kilogram Lebih Sabu-Sabu

Klik dan Download Aplikasi Radar Madura Disini..!!


Proyeksi terbesar difokuskan pada pembangunan satu atau dua karakter yang nampak. Misalnya, peduli dan amanah. Seperti peduli pada lingkungan sekitar dan amanah dalam menjalankan tugas.

Syarif mengungkapkan, strategi yang digunakan ada tiga. Pertama yaitu membangun paradigma. Sebab, paradigma memengaruhi sikap, perilaku, dan tindakan seseorang. Paradigma dipengaruhi oleh pengetahuan. Sementara pengetahuan tentang manfaat karakter yang baik akan memengaruhi tindakan masyarakat.

Pemahaman terkait manfaat perilaku baik, kata Syarif, akan memengaruhi sikap masyarakat. Semakin masyarakat mengetahui dan memahami efek positif dari karakter bagi dirinya sendiri, maka semakin kuat dorongan melakukan kebaikan. Hal ini perlu gerakan masif dari semua stakeholder.

Baca Juga :  Enam Kecamatan Tak Bisa Rekam E-KTP

Kedua adalah habituasi. Pasalnya pembentukan karakter paling efektif adalah pembiasaan. Good habits for good character. Habituasi bisa dimulai dari sesuatu yang sederhana, tidak memberatkan, dan sasarannya sesuatu yang nampak. ”Misalkan tertib dalam mengerjakan aktivitas kuliah dan ibadah, membuang sampah pada tempatnya,” jelasnya.

Ketiga adalah sistem kontrol dan evaluasi. Di antara kunci keberhasilan membentuk karakter adalah sistem kontrol. ”Jika masyarakat semuanya terlibat dan berperan dalam pembentukan karakter, tentu akan ada percepatan dalam pembangunan karakter,” tutup Syarif. 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/