alexametrics
29.4 C
Madura
Friday, August 12, 2022

Alasan Murni Pelayanan, Direktur RSUD Syamrabu Bangkalan Dinonaktifkan

BANGKALAN – Belum genap sebulan bertugas Bupati Bangkalan R. Abdul Latif Amin Imron mulai melakukan pemberhentian pejabat. Tertanggal 3 Oktober 2018 Direktur RSUD Syarifah Ambani Rato Ebu (Syamrabu) dinonaktifkan. Orang nomor satu di Kota Salak itu beralasan pergantian yang dilakukan murni untuk meningkatkan pelayanan.

Sejak (4/10) Yusro, Direktur RSUD Syamrabu sudah tidak melaksanakan kewajibannya. Itu berdasarkan keputusan bupati nomor 862/195/433.202/2018. Pertimbangannya, keputusan itu untuk menghindari berbagai kepentingan dan netralitas dalam pemeriksaan khusus terkait kinerja pelayanan publik di rumah sakit di Jalan Pemuda Kaffa itu.

”Dipandang perlu untuk membebaskan sementara dari jabatan direktur RSUD Syamrabu,” ujar Abdul Latif saat dihubungi, Kamis (4/10). 

Dia menerangkan, keputusan tersebut untuk pembenahan di sektor pelayanan kesehatan. Diakui, selama ini banyak aduan dan laporan dari masyarakat terkait pelayanan kesehatan RSUD Syamrabu. Dinilai perlu adanya pergantian untuk memperbaiki pelayanan kepada masyarakat yang dilakukan RSUD Syamrabu.

Baca Juga :  Toko Modern Marak, Perda Masih Lemah

Dijelaskan, tindakan itu tidak serta merta dilakukan. Namun pihaknya sudah melakukan pemeriksaan khusus dari inspektorat sebagai pemeriksa internal pemkab. ”Makanya, kami nonaktifkan dulu untuk penilaian rumah sakit itu sendiri,” ucapnya.

Abdul Latif mengungkapkan, dulu ada istri wartawan media elektronik didiagnosis penyakit liver. Akan tetapi, setelah dibawa ke rumah sakit PHC Surabaya, ternyata kanker rahim stadium tiga. Terbaru, ada salah satu pasien yang juga didiagnosis liver. Setelah diperiksa di Surabaya ternyata ginjal.

”Ini bentuk dasar kami menonaktifkan direktur RSUD Syamrabu. Selalu salah melakukan diagnosis,” terangnya.

Ditegaskan jika pemberhentian sementara ini tidak berkaitan dengan politik. Murni urusan pelayanan. Tidak ada hubungannya aparatur sipil negara (ASN) mendukung dirinya atau tidak pada saat pemilihan kepala daerah (pilkada) lalu.

Baca Juga :  Bangkalan Dapat Kucuran Rp 22 Miliar

”Sekarang ini semua masyarakat saya. Tidak ada kaitannya dengan politik. Murni ya pelayanan,” tegasnya.

Menanggapi keputusan bupati, Direktur RSUD Syamrabu nonaktif drg Yusro mengaku pasrah. Sebagai pembantu bupati, dia tidak ingin memberikan tanggapan yang mungkin justru dapat menyinggung bupati.

”Kan saya pembantu bupati. Saya ikhlas. Yang penting masyarakat bisa menilai. Rumah sakit dulu seperti apa, dan rumah sakit sekarang seperti apa,” katanya. 

BANGKALAN – Belum genap sebulan bertugas Bupati Bangkalan R. Abdul Latif Amin Imron mulai melakukan pemberhentian pejabat. Tertanggal 3 Oktober 2018 Direktur RSUD Syarifah Ambani Rato Ebu (Syamrabu) dinonaktifkan. Orang nomor satu di Kota Salak itu beralasan pergantian yang dilakukan murni untuk meningkatkan pelayanan.

Sejak (4/10) Yusro, Direktur RSUD Syamrabu sudah tidak melaksanakan kewajibannya. Itu berdasarkan keputusan bupati nomor 862/195/433.202/2018. Pertimbangannya, keputusan itu untuk menghindari berbagai kepentingan dan netralitas dalam pemeriksaan khusus terkait kinerja pelayanan publik di rumah sakit di Jalan Pemuda Kaffa itu.

”Dipandang perlu untuk membebaskan sementara dari jabatan direktur RSUD Syamrabu,” ujar Abdul Latif saat dihubungi, Kamis (4/10). 


Dia menerangkan, keputusan tersebut untuk pembenahan di sektor pelayanan kesehatan. Diakui, selama ini banyak aduan dan laporan dari masyarakat terkait pelayanan kesehatan RSUD Syamrabu. Dinilai perlu adanya pergantian untuk memperbaiki pelayanan kepada masyarakat yang dilakukan RSUD Syamrabu.

Baca Juga :  Toko Modern Marak, Perda Masih Lemah

Dijelaskan, tindakan itu tidak serta merta dilakukan. Namun pihaknya sudah melakukan pemeriksaan khusus dari inspektorat sebagai pemeriksa internal pemkab. ”Makanya, kami nonaktifkan dulu untuk penilaian rumah sakit itu sendiri,” ucapnya.

Abdul Latif mengungkapkan, dulu ada istri wartawan media elektronik didiagnosis penyakit liver. Akan tetapi, setelah dibawa ke rumah sakit PHC Surabaya, ternyata kanker rahim stadium tiga. Terbaru, ada salah satu pasien yang juga didiagnosis liver. Setelah diperiksa di Surabaya ternyata ginjal.

”Ini bentuk dasar kami menonaktifkan direktur RSUD Syamrabu. Selalu salah melakukan diagnosis,” terangnya.

Ditegaskan jika pemberhentian sementara ini tidak berkaitan dengan politik. Murni urusan pelayanan. Tidak ada hubungannya aparatur sipil negara (ASN) mendukung dirinya atau tidak pada saat pemilihan kepala daerah (pilkada) lalu.

Baca Juga :  Berharap Tahun Ini Bisa Kelola PI

”Sekarang ini semua masyarakat saya. Tidak ada kaitannya dengan politik. Murni ya pelayanan,” tegasnya.

Menanggapi keputusan bupati, Direktur RSUD Syamrabu nonaktif drg Yusro mengaku pasrah. Sebagai pembantu bupati, dia tidak ingin memberikan tanggapan yang mungkin justru dapat menyinggung bupati.

”Kan saya pembantu bupati. Saya ikhlas. Yang penting masyarakat bisa menilai. Rumah sakit dulu seperti apa, dan rumah sakit sekarang seperti apa,” katanya. 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/