alexametrics
23.8 C
Madura
Wednesday, August 17, 2022

PHE WMO Kembangkan Inovasi Produk Fortifikasi Garam

BANGKALAN – Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) mengembangkan inovasi produk fortifikasi garam di Desa Banyusangka, Kecamatan Tanjungbumi. Upaya tersebut untuk meningkatkan perekonomian dengan mengoptimalkan potensi hasil garam yang dikelola masyarakat.

Inovasi itu merupakan pengembangan rumah garam yang dilaksanakan PHE WMO sejak 2018 lalu. Namun, saat itu sempat terhenti karena terkendala cuaca ekstrem dan pandemi Covid-19. Inovasi yang dikembangkan bersama LPPM UTM itu membangkitkan kembali harapan masyarakat untuk menerapkan teknologi tepat guna dan melakukan pelatihan pengembangan produk fortifikasi garam berupa pangan dan nonpangan.

”Kami berterima kasih kepada PHE WMO atas program yang telah dilakukan di Banyusangka, khususnya dengan adanya pelatihan untuk menciptakan olahan produk garam ini,” ungkap Kepala Desa Banyusangka Abd. Syukur.

Baca Juga :  Unikama Akan Cetak Ribuan Mahasiswa Andal

Pelatihan tersebut menyasar kelompok PKK dan pelaku usaha ikan asin dengan 30 orang sebagai penerima manfaat. Seusai pelatihan, semua kelompok mampu meningkatkan wawasan dalam pembuatan produk olahan garam. Materi pelatihan terdiri dari sembilan produk olahan.

Yaitu, tiga produk olahan nonpangan dan enam produk olahan pangan. Contoh produk nonpangan yang dihasilkan berupa eco detergen (cair), sabun cuci tangan ramah lingkungan, dan garam relaksasi. Sedangkan produk pangan yang dihasilkan dari pelatihan itu berupa pembuatan dendeng beserta bumbu dan kemasannya. Lalu, sea salt caramel, sea salt nougat candy, bumbu tabur, garam bumbu.

”Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat Desa Banyusangka, karena komersialnya sangat bagus, terlebih produk-produk yang digunakan merupakan produk ramah lingkungan. Semoga dengan pelatihan ini, kelompok bisa mengembangkan olahan produknya,” harapnya. (jup/onk)

Baca Juga :  BNI Serahkan Bantuan CSR kepada Pelaku UMKM

BANGKALAN – Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) mengembangkan inovasi produk fortifikasi garam di Desa Banyusangka, Kecamatan Tanjungbumi. Upaya tersebut untuk meningkatkan perekonomian dengan mengoptimalkan potensi hasil garam yang dikelola masyarakat.

Inovasi itu merupakan pengembangan rumah garam yang dilaksanakan PHE WMO sejak 2018 lalu. Namun, saat itu sempat terhenti karena terkendala cuaca ekstrem dan pandemi Covid-19. Inovasi yang dikembangkan bersama LPPM UTM itu membangkitkan kembali harapan masyarakat untuk menerapkan teknologi tepat guna dan melakukan pelatihan pengembangan produk fortifikasi garam berupa pangan dan nonpangan.

”Kami berterima kasih kepada PHE WMO atas program yang telah dilakukan di Banyusangka, khususnya dengan adanya pelatihan untuk menciptakan olahan produk garam ini,” ungkap Kepala Desa Banyusangka Abd. Syukur.

Baca Juga :  IAIN Madura Bakal Buka Dua Prodi Eksakta

Pelatihan tersebut menyasar kelompok PKK dan pelaku usaha ikan asin dengan 30 orang sebagai penerima manfaat. Seusai pelatihan, semua kelompok mampu meningkatkan wawasan dalam pembuatan produk olahan garam. Materi pelatihan terdiri dari sembilan produk olahan.

Yaitu, tiga produk olahan nonpangan dan enam produk olahan pangan. Contoh produk nonpangan yang dihasilkan berupa eco detergen (cair), sabun cuci tangan ramah lingkungan, dan garam relaksasi. Sedangkan produk pangan yang dihasilkan dari pelatihan itu berupa pembuatan dendeng beserta bumbu dan kemasannya. Lalu, sea salt caramel, sea salt nougat candy, bumbu tabur, garam bumbu.

”Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat Desa Banyusangka, karena komersialnya sangat bagus, terlebih produk-produk yang digunakan merupakan produk ramah lingkungan. Semoga dengan pelatihan ini, kelompok bisa mengembangkan olahan produknya,” harapnya. (jup/onk)

Baca Juga :  Pesimistis Penuhi Target Akseptor Baru

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/