alexametrics
21.1 C
Madura
Friday, May 27, 2022

Bahasa Ibu Pertiwi Terancam

BANGKALAN – Ekspansi bahasa asing berkembang pesat. Keberadaannya sangat mengancam bahasa nasional. Terutama, penggunaan dalam berkomunikasi, baik verbal maupun nonverbal.

Peneliti Madya Balai Bahasa Jawa Timur (BBJT) Amir Mahmud menerangkan, penggunaan bahasa Indonesia di masyarakat mengalami penurunan. Tidak drastis, tapi tanda-tanda itu sudah ada. Bahkan, pelan-pelan akan tergerus dengan bahasa asing. ”Miris melihatnya. Penggunaan bahasa negara malah menurun di negeri kita,” kata dia kemarin (3/10).

Menurut Amir, penggunaan bahasa Indonesia yang paling tampak menurun ketika digunakan di media luar ruang. Banyak iklan, papan pengumuman, pamflet, dan lainnya sudah menggunakan bahasa asing. Hal tersebut tidak boleh terjadi dan harus dicegah.

”Maka dari itu, Balai Bahasa Jawa Timur rutin menggelar penyuluhan supaya bahasa Indonesia tetap terjaga,” ujarnya.

Baca Juga :  SL Akui Berbuat Asusila dan Terancam Hukuman Maksimal 20 Tahun Penjara

Mantan kepala BBJT itu menyampaikan, penggunaan bahasa nasional di media luar ruang di kota-kota besar saat ini mayoritas campur-campur. Bahkan yang parah, menggunakan bahasa asing penuh. ”Ketika hal itu dibiarkan, tentu akan merambat ke kota-kota kecil. Termasuk di Bangkalan,” ucapnya.

Sebab itu, pemerintah kabupaten dan pengusaha serta masyarakat harus diberikan pengertian. Bahwa, bahasa nasional di atas segala-galanya. ”Jangan sampai bahasa ibu pertiwi jadi asing di negeri sendiri,” tuturnya.

Dia mengajak semua pihak menjaga dan bertanggung jawab terhadap kelestarian bahasa negara. Jika hanya dibebankan ke pemerintah, namun masyarakat acuh tak acuh tidak akan maksimal. ”Masyarakat dan pemerintah harus sama-sama ikut menjaga. Karena kita tidak mau bahasa Indonesia tergerus,” sebutnya.

Baca Juga :  Direktur Radar Madura Online Berencana Bikin Radar Madura Mall

Amir mencontohkan dari hal kecil seperti pada keset di rumah atau di masjid. Sekarang banyak yang tertulis ”welcome”, bukan ”selamat datang”. ”Itu bukti jika bahasa Indonesia mulai jadi tamu di negeri sendiri,” jelasnya.

Amir menambahkan, belajar bahasa asing itu tidak masalah. Tidak ada larangan. Tetapi, dudukkan bahasa negara paling depan. Menurut dia, alasan para pengusaha tidak menggunakan bahasa Indonesia sangat tidak masuk akal.

”Bahasa asing lebih laku dijual, kata mereka. Alasan sangat tidak mendasar. Makanya, bahasa Indonesia harus jadi prioritas utama dalam hal apa pun,” pungkasnya.

BANGKALAN – Ekspansi bahasa asing berkembang pesat. Keberadaannya sangat mengancam bahasa nasional. Terutama, penggunaan dalam berkomunikasi, baik verbal maupun nonverbal.

Peneliti Madya Balai Bahasa Jawa Timur (BBJT) Amir Mahmud menerangkan, penggunaan bahasa Indonesia di masyarakat mengalami penurunan. Tidak drastis, tapi tanda-tanda itu sudah ada. Bahkan, pelan-pelan akan tergerus dengan bahasa asing. ”Miris melihatnya. Penggunaan bahasa negara malah menurun di negeri kita,” kata dia kemarin (3/10).

Menurut Amir, penggunaan bahasa Indonesia yang paling tampak menurun ketika digunakan di media luar ruang. Banyak iklan, papan pengumuman, pamflet, dan lainnya sudah menggunakan bahasa asing. Hal tersebut tidak boleh terjadi dan harus dicegah.


”Maka dari itu, Balai Bahasa Jawa Timur rutin menggelar penyuluhan supaya bahasa Indonesia tetap terjaga,” ujarnya.

Baca Juga :  UTM Fokus Kembangkan Potensi Madura

Mantan kepala BBJT itu menyampaikan, penggunaan bahasa nasional di media luar ruang di kota-kota besar saat ini mayoritas campur-campur. Bahkan yang parah, menggunakan bahasa asing penuh. ”Ketika hal itu dibiarkan, tentu akan merambat ke kota-kota kecil. Termasuk di Bangkalan,” ucapnya.

Sebab itu, pemerintah kabupaten dan pengusaha serta masyarakat harus diberikan pengertian. Bahwa, bahasa nasional di atas segala-galanya. ”Jangan sampai bahasa ibu pertiwi jadi asing di negeri sendiri,” tuturnya.

Dia mengajak semua pihak menjaga dan bertanggung jawab terhadap kelestarian bahasa negara. Jika hanya dibebankan ke pemerintah, namun masyarakat acuh tak acuh tidak akan maksimal. ”Masyarakat dan pemerintah harus sama-sama ikut menjaga. Karena kita tidak mau bahasa Indonesia tergerus,” sebutnya.

Baca Juga :  SL Akui Berbuat Asusila dan Terancam Hukuman Maksimal 20 Tahun Penjara

Amir mencontohkan dari hal kecil seperti pada keset di rumah atau di masjid. Sekarang banyak yang tertulis ”welcome”, bukan ”selamat datang”. ”Itu bukti jika bahasa Indonesia mulai jadi tamu di negeri sendiri,” jelasnya.

Amir menambahkan, belajar bahasa asing itu tidak masalah. Tidak ada larangan. Tetapi, dudukkan bahasa negara paling depan. Menurut dia, alasan para pengusaha tidak menggunakan bahasa Indonesia sangat tidak masuk akal.

”Bahasa asing lebih laku dijual, kata mereka. Alasan sangat tidak mendasar. Makanya, bahasa Indonesia harus jadi prioritas utama dalam hal apa pun,” pungkasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/