alexametrics
26.5 C
Madura
Wednesday, June 29, 2022

Ingin Lihat 17 Jenis Mangrove? Datang Saja ke Sepulu

BANGKALAN – Udara di Taman Pendidikan Mangrove segar. Padahal, dulu kawasan pesisir pantai Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu, Bangkalan, itu identik dengan panas akibat terik matahari.

Tak ayal, kawasan konservasi tersebut kini mulai dijadikan lokasi penelitian mahasiswa dan peneliti burung migran. Taman Pendidikan Mangrove dirawat dan dikelola sejak empat tahun. Taman seluas 3,5 hektare itu dipenuhi 17 jenis pohon bakau.

Di antaranya, sonneratia alba (prapat), rizhophora stylosa, stenggi, rhizopora apiculata, sonneratia alba, rhizophora mucronata, ceriops tagal, dan avicenna marina. Mangrove-mangrove tersebut kini tumbuh tinggi dan saling berdekatan.

Selain menciptakan udara sejuk, Taman Pendidikan Mangrove membuat pemandangan semakin indah. ”Pantai biasanya gersang dan panas,” kata Presiden/General Manager (GM) Pertamina Hulu Energy West Madura Offshore (PHE WMO) Kuncoro Kukuh Selasa (3/10).

Baca Juga :  Upaya Bupati Bangkalan Dapatkan Dana PI 10 Persen

”Tapi, di sini karena dipenuhi tanaman mangrove, udara terasa sejuk dan segar. Seolah berada di kawasan pegunungan,” imbuhnya.

Kehadiran Kukuh ke Taman Pendidikan Mangrove merupakan kali kedua. Menurut dia, dengan adanya Taman Pendidikan Mangrove, upaya melindungi dan mengelola lingkungan serta sumber daya alam di kawasan pesisir Desa Labuhan hasilnya mulai tampak.

”Lingkungan di sini sehat karena oksigen terpenuhi. Harus dijaga kelestariannya. Tunjukkan bahwa kita peduli pada lingkungan,” ujar pria asal Semarang itu.

Pihaknya lebih suka kondisi alam yang natural tanpa bangunan fisik hasil buatan manusia. Menurut dia, sesuatu yang alami seperti di taman mangrove menunjukkan ada hutan yang sesungguhnya. ”Biarkan ekosistem memainkan perannya,” ucap Kukuh.

Dia meminta penjagaan lingkungan Taman Pendidikan Mangrove benar-benar dijalankan dengan tegas. Apalagi taman tersebut mulai menjadi destinasi penelitian dan wisata alam pesisir. ”Jangan sampai aturan di sini kendur. Karena akan sulit untuk mengembalikan lagi. Sosialisasi harus lebih intens supaya masyarakat sekitar merasa ikut memiliki,” terangnya.

Baca Juga :  Warga Tolak Peresmian TPM

Moh. Syahril, sekretaris Kelompok Tani (Poktan) Cemara Sejahtera, mengungkapkan, Taman Pendidikan Mangrove setiap hari dibuka untuk umum mulai pukul 07.00–17.00. Selama jam sekolah, pihaknya tidak memperbolehkan anak-anak masuk taman mangrove.

Mengenai kebersihan di kawasan mangrove, Syahril berbagi tugas dengan anggota poktan yang lain. Menurut dia, Poktan Cemara Sejahtera saat ini beranggota 60 orang dan 23 orang di antaranya mantan TKI.

”Pengunjung masih banyak yang membuang sampah di taman mangrove. Karena itu, sampah kami kumpulkan di beberapa titik, kemudian kami angkut ke luar taman,” pungkasnya.

BANGKALAN – Udara di Taman Pendidikan Mangrove segar. Padahal, dulu kawasan pesisir pantai Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu, Bangkalan, itu identik dengan panas akibat terik matahari.

Tak ayal, kawasan konservasi tersebut kini mulai dijadikan lokasi penelitian mahasiswa dan peneliti burung migran. Taman Pendidikan Mangrove dirawat dan dikelola sejak empat tahun. Taman seluas 3,5 hektare itu dipenuhi 17 jenis pohon bakau.

Di antaranya, sonneratia alba (prapat), rizhophora stylosa, stenggi, rhizopora apiculata, sonneratia alba, rhizophora mucronata, ceriops tagal, dan avicenna marina. Mangrove-mangrove tersebut kini tumbuh tinggi dan saling berdekatan.


Selain menciptakan udara sejuk, Taman Pendidikan Mangrove membuat pemandangan semakin indah. ”Pantai biasanya gersang dan panas,” kata Presiden/General Manager (GM) Pertamina Hulu Energy West Madura Offshore (PHE WMO) Kuncoro Kukuh Selasa (3/10).

Baca Juga :  Gerindra Dampingi Ra Latif Kembalikan Berkas

”Tapi, di sini karena dipenuhi tanaman mangrove, udara terasa sejuk dan segar. Seolah berada di kawasan pegunungan,” imbuhnya.

Kehadiran Kukuh ke Taman Pendidikan Mangrove merupakan kali kedua. Menurut dia, dengan adanya Taman Pendidikan Mangrove, upaya melindungi dan mengelola lingkungan serta sumber daya alam di kawasan pesisir Desa Labuhan hasilnya mulai tampak.

”Lingkungan di sini sehat karena oksigen terpenuhi. Harus dijaga kelestariannya. Tunjukkan bahwa kita peduli pada lingkungan,” ujar pria asal Semarang itu.

Pihaknya lebih suka kondisi alam yang natural tanpa bangunan fisik hasil buatan manusia. Menurut dia, sesuatu yang alami seperti di taman mangrove menunjukkan ada hutan yang sesungguhnya. ”Biarkan ekosistem memainkan perannya,” ucap Kukuh.

Dia meminta penjagaan lingkungan Taman Pendidikan Mangrove benar-benar dijalankan dengan tegas. Apalagi taman tersebut mulai menjadi destinasi penelitian dan wisata alam pesisir. ”Jangan sampai aturan di sini kendur. Karena akan sulit untuk mengembalikan lagi. Sosialisasi harus lebih intens supaya masyarakat sekitar merasa ikut memiliki,” terangnya.

Baca Juga :  ASN Terlibat Kampanye Tak Disanksi, PMII Demo Kantor Pemkab Bangkalan

Moh. Syahril, sekretaris Kelompok Tani (Poktan) Cemara Sejahtera, mengungkapkan, Taman Pendidikan Mangrove setiap hari dibuka untuk umum mulai pukul 07.00–17.00. Selama jam sekolah, pihaknya tidak memperbolehkan anak-anak masuk taman mangrove.

Mengenai kebersihan di kawasan mangrove, Syahril berbagi tugas dengan anggota poktan yang lain. Menurut dia, Poktan Cemara Sejahtera saat ini beranggota 60 orang dan 23 orang di antaranya mantan TKI.

”Pengunjung masih banyak yang membuang sampah di taman mangrove. Karena itu, sampah kami kumpulkan di beberapa titik, kemudian kami angkut ke luar taman,” pungkasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/