27.9 C
Madura
Monday, June 5, 2023

Tes Cepat Dua Dokter Positif

BANGKALAN – Dua dokter asal Kecamatan Klampis, Bangkalan, menjalani isolasi mandiri. Pasalnya, berdasar hasil tes cepat (rapid test) mereka dinyatakan positif Covid-19. Namun, kepastian itu harus menunggu hasil uji swab kedua.

Kedua dokter itu sudah dilakukan swab tenggorokan pertama di Surabaya. Hasilnya belum turun. Sementara waktu dua dokter tersebut kembali isolasi mandiri di rumahnya selama 14 hari ke depan.

Sebelumnya, pada 9–18 Maret dokter berinisial A itu mengikuti pelatihan di Surabaya. Sebab, yang bersangkutan sebagai tenaga medis Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) dari Bangkalan.

Sesuai SOP penanganan Covid-19, dokter umum itu terindikasi sebagai kelompok risiko tinggi. Atas dasar itu, yang bersangkutan dilakukan isolasi mandiri. A bersama suaminya, inisial Z kemudian dilakukan rapid test. Hasil rapid test mereka positif.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Bangkalan Farhat Suryaningrat mengutarakan, A satu klaster dengan pasien positif Covid-19 asal Kediri yang sudah meninggal dunia. A ada riwayat kontak dengan pasien positif selama mengikuti pelatihan. ”Setelah pelatihan itu, pihak rumah sakit mengisolasi dokter tersebut di rumahnya, semacam isolasi mandiri,” kata dia kemarin (3/4).

Setelah isolasi mandiri selama 14 hari itu, A beserta suaminya dilakukan rapid test. Hasilnya positif. Tetapi, kondisinya tetap sehat dan tidak ada keluhan. ”Sekarang dua dokter itu sudah dilakukan swab pertama di rumah sakit Unair. Dan, hasilnya belum turun,” ujarnya.

Wadir RSUD Syamrabu Bangkalan itu menyatakan, hasil rapid test itu tidak memastikan yang bersangkutan positif korona. Sebab, sesuai standar Kementerian Kesehatan yang bersangkutan perlu dilakukan swab tenggorokan dengan metode polymerasse chain reaction (PCR). ”Rapid test itu untuk screening dalam rangka memantau pasien-pasien yang berisiko. Maka, tindakan selanjutnya harus swab,” jelasnya.

Menanggapi hasil rapid test ini Farhat meminta masyarakat tidak perlu khawatir dan panik. Sebab, kalaupun nanti hasil swab pertama positif, mereka tetap akan dilakukan isolasi. ”Beliau sudah komitmen untuk isolasi,” turunya.

Baca Juga :  Diduga Curi Duit Tetangga Desa, 2 Pemuda di Bangkalan Disergap Polisi

Sebagai ketua IDI, Farhat prihatin atas tindakan masyarakat yang mulai mengucilkan kedua dokter tersebut. Apalagi, sekarang masih hasil rapid test, bukan swab. ”Waspada boleh, tapi panik jangan. Karena kedua dokter itu belum confirm positif Covid-19. Baru hasil rapid test saja,” tuturnya.

Humas Gugus Tugas Covid-19 Bangkalan juga menyatakan, kedua dokter itu belum dinyatakan confirm positif. Sebab, hingga sekarang masih menunggu hasil pemeriksaan swab. ”Masih harus menjalani serangkaian pemeriksaan lanjutan untuk mendukung kepastian diagnosis,” tandasnya.

Pelatihan PPIH ini diikuti 415 peserta. Terdiri atas 166 tim pemandu dari Kemenag dan 249 petugas dari dinas kesehatan. Dari Bangkalan terdapat tujuh peserta.

Kepala Kemenag Bangkalan Abdul Haris menyampaikan, awal mula persebaran Covid-19 di acara pelatihan PPIH tersebut diketahui setelah peserta pulang ke daerah masing-masing. Salah seorang instruktur diduga positif terpapar Covid-19. Dengan demikian, semua peserta di setiap daerah menjalani isolasi mandiri selama 14 hari. ”Peserta dari Kemenag Bangkalan ada dua orang. Sudah melakukan isolasi mandiri dan menjalani rapid test. Hasilnya negatif,” jelasnya.

Kepala Dinkes Bangkalan Sudiyo melalui Kasi Surveilans dan Imunisasi Siska Damayanti menyebutkan keadaan petugas kesehatan peserta pelatihan sedang baik-baik saja.

Salah satu orang dalam pantauan (ODP) PPIH Bangkalan menjelaskan, pada saat pelatihan tidak ada gejala atau tanda-tanda dari instruktur acara. Dia juga kaget setelah mendengar kabar bahwa instruktur tersebut positif korona. ”Sejak saat itu saya diinstruksikan untuk isolasi mandiri di rumah dan menjaga jarak dengan keluarga,” ungkapnya.

Dua dari delapan orang PPIH asal Pamekasan yang mengikuti pelatihan di Surabaya beberapa hari lalu sedang dirawat di ruang isolasi RSUD dr Slamet Martodirdjo sejak Rabu (1/4). Dua orang tersebut masuk daftar pasien dalam pengawasan (PDP).

Keduanya punya gejala yang mengarah ke Covid-19. Namun, tes swab kedua pasien laki-laki tersebut belum keluar. ”Setelah keluar hasil swab-nya baru bisa dipastikan apakah terpapar Covid-19 atau tidak,” ungkapnya.

Baca Juga :  NU-Muhammadiyah Sepakat Syaichona Cholil sebagai Pahlawan Nasional

Kepala Kemenag Pamekasan Afandi menjelaskan, empat pelatihan ke Surabaya berasal dari Kemenag dan empat tenaga medis dari dinkes. Dua PDP itu terdiri atas perwakilan kemenag dan seorang dari dinkes. ”Laporan yang saya terima, kondisi yang lainnya sehat,” ungkapnya.

Ketua Umum/Koordinator Satgas Penanggulangan Bencana Nonalam dan Pencegahan Covid-19 Pamekasan Totok Hartono menyampaikan, enam orang PPIH tidak menunjukkan indikasi sakit dan mengarah ke Covid-19. Namun, mereka masuk daftar orang dalam pemantauan (ODP).

Peserta pelatihan PPIH dari Sampang lima orang. Terdiri atas dua petugas kemenag dan tiga tenaga kesehatan. Kasi Haji Kemenag Sampang Fathorrahman memastikan mereka negatif korona. ”Yang lebih kompeten memang dari tim kesehatan yang menjawab,” ungkapnya.

Plt Kepala DinkesSampang Agus Mulyadi mengatakan, kelima petugas yang mengikuti pelatihan PPIH tidak apa-apa. Semuakembali ke Sampang dalam kondisi sehat. ”Semuanya sehat,” katanya.

Kasi Penyelengaraan Haji dan Umrah Kemenag Sumenep Moh. Rifa’i menyampaikan, pihaknya mendelegasikan dua orang untuk mengikuti pelatihan PPIH. Satu orang sebagai ketua kloter dan satu orang lagi pembimbing calon jamaah haji 2020.

Sampai sekarang kondisi mereka berdua dalam keadaan sehat dengan hasil pemeriksaan negatif. Dalam pelatihan terpadu itu terdiri atas sepuluh kelas. Ada dua kelas ditengarai terjadi kontak fisik dengan korban meninggal. Kebetulan, petugas dari Sumenep tidak ada yang sekelas dengan dua korban meninggal tersebut.

Meski demikian, pantauan tetap dilakukan kepada mereka. Mereka diminta melakukan isolasi mandiri dan bekerja dari rumah. Kecuali ada hal yang mendesak, mereka diperkenankan datang ke kantor. Dengan catatan menyesuaikan SOP kesehatan.

Kepala Dinkes Sumenep Agus Mulyono menyampaikan, peserta pelatihan dari tim kesehatan juga sehat. Hasil pemeriksaan mereka, tidak ada yang positif Covid-19. Apalagi, saat ini sudah melampaui masa inkubasi untuk melakukan isolasi. ”Bahkan, kemarin sudah ada yang ikut rapat dengan saya,” tandasnya. (hel/ky/jun)

BANGKALAN – Dua dokter asal Kecamatan Klampis, Bangkalan, menjalani isolasi mandiri. Pasalnya, berdasar hasil tes cepat (rapid test) mereka dinyatakan positif Covid-19. Namun, kepastian itu harus menunggu hasil uji swab kedua.

Kedua dokter itu sudah dilakukan swab tenggorokan pertama di Surabaya. Hasilnya belum turun. Sementara waktu dua dokter tersebut kembali isolasi mandiri di rumahnya selama 14 hari ke depan.

Sebelumnya, pada 9–18 Maret dokter berinisial A itu mengikuti pelatihan di Surabaya. Sebab, yang bersangkutan sebagai tenaga medis Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) dari Bangkalan.


Sesuai SOP penanganan Covid-19, dokter umum itu terindikasi sebagai kelompok risiko tinggi. Atas dasar itu, yang bersangkutan dilakukan isolasi mandiri. A bersama suaminya, inisial Z kemudian dilakukan rapid test. Hasil rapid test mereka positif.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Bangkalan Farhat Suryaningrat mengutarakan, A satu klaster dengan pasien positif Covid-19 asal Kediri yang sudah meninggal dunia. A ada riwayat kontak dengan pasien positif selama mengikuti pelatihan. ”Setelah pelatihan itu, pihak rumah sakit mengisolasi dokter tersebut di rumahnya, semacam isolasi mandiri,” kata dia kemarin (3/4).

Setelah isolasi mandiri selama 14 hari itu, A beserta suaminya dilakukan rapid test. Hasilnya positif. Tetapi, kondisinya tetap sehat dan tidak ada keluhan. ”Sekarang dua dokter itu sudah dilakukan swab pertama di rumah sakit Unair. Dan, hasilnya belum turun,” ujarnya.

Wadir RSUD Syamrabu Bangkalan itu menyatakan, hasil rapid test itu tidak memastikan yang bersangkutan positif korona. Sebab, sesuai standar Kementerian Kesehatan yang bersangkutan perlu dilakukan swab tenggorokan dengan metode polymerasse chain reaction (PCR). ”Rapid test itu untuk screening dalam rangka memantau pasien-pasien yang berisiko. Maka, tindakan selanjutnya harus swab,” jelasnya.

- Advertisement -

Menanggapi hasil rapid test ini Farhat meminta masyarakat tidak perlu khawatir dan panik. Sebab, kalaupun nanti hasil swab pertama positif, mereka tetap akan dilakukan isolasi. ”Beliau sudah komitmen untuk isolasi,” turunya.

Baca Juga :  Jadi Pusat Perhatian Warga

Sebagai ketua IDI, Farhat prihatin atas tindakan masyarakat yang mulai mengucilkan kedua dokter tersebut. Apalagi, sekarang masih hasil rapid test, bukan swab. ”Waspada boleh, tapi panik jangan. Karena kedua dokter itu belum confirm positif Covid-19. Baru hasil rapid test saja,” tuturnya.

Humas Gugus Tugas Covid-19 Bangkalan juga menyatakan, kedua dokter itu belum dinyatakan confirm positif. Sebab, hingga sekarang masih menunggu hasil pemeriksaan swab. ”Masih harus menjalani serangkaian pemeriksaan lanjutan untuk mendukung kepastian diagnosis,” tandasnya.

Pelatihan PPIH ini diikuti 415 peserta. Terdiri atas 166 tim pemandu dari Kemenag dan 249 petugas dari dinas kesehatan. Dari Bangkalan terdapat tujuh peserta.

Kepala Kemenag Bangkalan Abdul Haris menyampaikan, awal mula persebaran Covid-19 di acara pelatihan PPIH tersebut diketahui setelah peserta pulang ke daerah masing-masing. Salah seorang instruktur diduga positif terpapar Covid-19. Dengan demikian, semua peserta di setiap daerah menjalani isolasi mandiri selama 14 hari. ”Peserta dari Kemenag Bangkalan ada dua orang. Sudah melakukan isolasi mandiri dan menjalani rapid test. Hasilnya negatif,” jelasnya.

Kepala Dinkes Bangkalan Sudiyo melalui Kasi Surveilans dan Imunisasi Siska Damayanti menyebutkan keadaan petugas kesehatan peserta pelatihan sedang baik-baik saja.

Salah satu orang dalam pantauan (ODP) PPIH Bangkalan menjelaskan, pada saat pelatihan tidak ada gejala atau tanda-tanda dari instruktur acara. Dia juga kaget setelah mendengar kabar bahwa instruktur tersebut positif korona. ”Sejak saat itu saya diinstruksikan untuk isolasi mandiri di rumah dan menjaga jarak dengan keluarga,” ungkapnya.

Dua dari delapan orang PPIH asal Pamekasan yang mengikuti pelatihan di Surabaya beberapa hari lalu sedang dirawat di ruang isolasi RSUD dr Slamet Martodirdjo sejak Rabu (1/4). Dua orang tersebut masuk daftar pasien dalam pengawasan (PDP).

Keduanya punya gejala yang mengarah ke Covid-19. Namun, tes swab kedua pasien laki-laki tersebut belum keluar. ”Setelah keluar hasil swab-nya baru bisa dipastikan apakah terpapar Covid-19 atau tidak,” ungkapnya.

Baca Juga :  Pasien Positif Korona Enggan Diisolasi

Kepala Kemenag Pamekasan Afandi menjelaskan, empat pelatihan ke Surabaya berasal dari Kemenag dan empat tenaga medis dari dinkes. Dua PDP itu terdiri atas perwakilan kemenag dan seorang dari dinkes. ”Laporan yang saya terima, kondisi yang lainnya sehat,” ungkapnya.

Ketua Umum/Koordinator Satgas Penanggulangan Bencana Nonalam dan Pencegahan Covid-19 Pamekasan Totok Hartono menyampaikan, enam orang PPIH tidak menunjukkan indikasi sakit dan mengarah ke Covid-19. Namun, mereka masuk daftar orang dalam pemantauan (ODP).

Peserta pelatihan PPIH dari Sampang lima orang. Terdiri atas dua petugas kemenag dan tiga tenaga kesehatan. Kasi Haji Kemenag Sampang Fathorrahman memastikan mereka negatif korona. ”Yang lebih kompeten memang dari tim kesehatan yang menjawab,” ungkapnya.

Plt Kepala DinkesSampang Agus Mulyadi mengatakan, kelima petugas yang mengikuti pelatihan PPIH tidak apa-apa. Semuakembali ke Sampang dalam kondisi sehat. ”Semuanya sehat,” katanya.

Kasi Penyelengaraan Haji dan Umrah Kemenag Sumenep Moh. Rifa’i menyampaikan, pihaknya mendelegasikan dua orang untuk mengikuti pelatihan PPIH. Satu orang sebagai ketua kloter dan satu orang lagi pembimbing calon jamaah haji 2020.

Sampai sekarang kondisi mereka berdua dalam keadaan sehat dengan hasil pemeriksaan negatif. Dalam pelatihan terpadu itu terdiri atas sepuluh kelas. Ada dua kelas ditengarai terjadi kontak fisik dengan korban meninggal. Kebetulan, petugas dari Sumenep tidak ada yang sekelas dengan dua korban meninggal tersebut.

Meski demikian, pantauan tetap dilakukan kepada mereka. Mereka diminta melakukan isolasi mandiri dan bekerja dari rumah. Kecuali ada hal yang mendesak, mereka diperkenankan datang ke kantor. Dengan catatan menyesuaikan SOP kesehatan.

Kepala Dinkes Sumenep Agus Mulyono menyampaikan, peserta pelatihan dari tim kesehatan juga sehat. Hasil pemeriksaan mereka, tidak ada yang positif Covid-19. Apalagi, saat ini sudah melampaui masa inkubasi untuk melakukan isolasi. ”Bahkan, kemarin sudah ada yang ikut rapat dengan saya,” tandasnya. (hel/ky/jun)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/