24 C
Madura
Saturday, January 28, 2023

Diarahkan Jadi PNS, Fokus Geluti Bisnis

Ketua BPC Hipmi Bangkalan Zhavira Ayu Ratri Aldania

Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Kalimat itu cocok untuk menggambarkan sosok pengusaha muda sukses, Zhavira Ayu Ratri Aldania.

JUPRI, Bangkalan, Jawa Pos Radar Madura

ZHAVIRA Ayu Ratri Aldania terlahir dari keluarga berlata rbelakang pengusaha. Ibundanya, Yuni Purwandari, dan ayahnya, Saleh Farhat, merupakan salah satu distributor pupuk di Bangkalan. Kendati demikian, sebenarnya keduanya tidak ingin buah hati mereka mengikuti jejak karirnya di dunia bisnis. Tetapi, lebih menginginkan anak-anaknya menjadi seorang abdi negara atau pegawai negeri sipil (PNS).

Keinginan itu karena mereka menganggap pendapatan dan kesejahteraan pegawai negeri lebih terjamin. Sementara pendapatan pengusaha fluktuatif. ”Kalau di dunia bisnis jika lagi turun ya turun, kalau usahanya lagi bagus omzetnya naik,” ucap perempuan kelahiran 1994 tersebut.

Namun, karir orang tuanya itu sudah mendarah daging. Meskipun diarahkan agar berkarir di dunia birokrasi, pilihannya tetap ada pada dunia yang sama dengan orang tuanya, yakni menjadi seorang pengusaha.

Zhavira memulai pendidikannya di SDN Demangan 1. Kemudian, melanjutkan ke SMPN 2 Bangkalan. Lalu, perempuan asal Jalan KH Hasyim Asy’ari, Demangan, itu melanjutkan ke SMAN 1 Bangkalan.

Lalu, anak ketiga lima saudara itu melanjutkan studinya di Universitas Ciputra, Surabaya, pada 2012. Jurusan yang dipilih program studi international business management. Jiwa entrepreneur-nya tumbuh sejak awal dia masuk kampus swasta tersebut. ”Sejak Ospek, aplikasi bisnis saya mulai tumbuh dan terlihat,” imbuhnya.

Baca Juga :  Anggota Dewan Belum Setor Lokasi Pokir

Di jurusannya, semua mahasiswa dituntut memiliki bisnis sejak semester awal. Setiap semester diwajibkan menyampaikan pertanggungjawaban berupa keikutsertaannya di dunia bisnis, seperti pameran produk.

Karena itu, ibu dua anak itu sering mengikuti berbagai event pameran di dalam maupun luar negeri. Produk yang dipamerkan berupa aksesori yang terbuat dari kulit. Tetapi dikombinasikan dengan bahan lain seperti kain, bambu, dan kayu. Jenis produknya berupa tas, gelang, gantungan kunci, dan dompet. ”Produk itu diberi nama Radin Craft,” ujarnya.

Pembuatan produk aksesoris itu memberdayakan seorang eks narapidana yang memiliki keterampilan menjahit sejak dari dalam Lapas Sidoarjo. Dari situlah Zhavira mulai mendapat arahan untuk memperbanyak pekerjaan dengan memberdayakan warga binaan di balik jeruji besi. ”Hasil jahitan dari para napi itu juga bagus dan rapi,” tutur istri dari Ellinas Jalusamya Djatmiko itu.

Bisnis yang dirintis sejak di bangku kuliah tersebut terus digeluti hingga 2014 sebelum akhirnya banting setir ke bisnis makanan dan minuman. Itu berawal saat dirinya menyanggupi ajakan rekan untuk overkontrak sebuah kafe di Kota Pahlawan. Lambat laun usaha itu berkembang.

Pada 2016, Zhavira mengembangkan kafetaria dengan menawarkan makanan menu Moshi-Moshi. Tetapi karena tempatnya dianggap terlalu besar, akhirnya dia menganggap perlu adanya varian makanan yang dijual. Sehingga produk yang dijuak berupa mi, sushi, dan lain sebagainya.

Baca Juga :  Pembahasan KUA-PPAS Gagal

Zhavira menjadi direktur PT Madura Consultant 2015–2016. Perusahaan itu bergerak di bidang pengadaan barang dan jasa. Kemudian, pada 2019 mengembangkan usaha dengan menjadi owner dari kedaimie.Id, food coma, dan moshi moshi japanese food.

Berbagai binis yang dikembangkan Zhavira tidak lepas dari peran orang tua. Tetapi tidak secara langsung seperti memberikan modal usaha. Mengingat sejak awal kedua orang tuanya lebih menginginkan anaknya menjadi ASN. Support yang diberikan berupa fasilitas sertifikat tanah. ”Jadi waktu usia saya 21, saya coba bawa ke bank untuk ’sekolahkan’ sertifikat itu,” kenangnya.

Meski giat berwirausaha, ibunda Zaydan Ammar Makarim dan Syarifah Hagia Sophia itu tidak lantas meninggalkan dunia akademik. Seharusnya dia memperoleh gelar sarjana ekonomi pada 2016. Tetapi, pada 2015 Zhavira mengambil jalur khusus untuk melanjutkan studi masgiter di kampus yang sama dengan memilih coorporate entrepreneurship. ”Saya lulus S-2 pada 2017,” ujar Zhavira.

Perempuan berhijab tersebut sempat mengajar selama dua tahun di kampus tempatnya menimba ilmu. Namun, berhenti mengejar saat akan melahirkan anak kedua. Dia memiliki keinginan untuk kembali mengajar sebagai dosen. (*/luq)

Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Kalimat itu cocok untuk menggambarkan sosok pengusaha muda sukses, Zhavira Ayu Ratri Aldania.

JUPRI, Bangkalan, Jawa Pos Radar Madura

ZHAVIRA Ayu Ratri Aldania terlahir dari keluarga berlata rbelakang pengusaha. Ibundanya, Yuni Purwandari, dan ayahnya, Saleh Farhat, merupakan salah satu distributor pupuk di Bangkalan. Kendati demikian, sebenarnya keduanya tidak ingin buah hati mereka mengikuti jejak karirnya di dunia bisnis. Tetapi, lebih menginginkan anak-anaknya menjadi seorang abdi negara atau pegawai negeri sipil (PNS).


Keinginan itu karena mereka menganggap pendapatan dan kesejahteraan pegawai negeri lebih terjamin. Sementara pendapatan pengusaha fluktuatif. ”Kalau di dunia bisnis jika lagi turun ya turun, kalau usahanya lagi bagus omzetnya naik,” ucap perempuan kelahiran 1994 tersebut.

Namun, karir orang tuanya itu sudah mendarah daging. Meskipun diarahkan agar berkarir di dunia birokrasi, pilihannya tetap ada pada dunia yang sama dengan orang tuanya, yakni menjadi seorang pengusaha.

Zhavira memulai pendidikannya di SDN Demangan 1. Kemudian, melanjutkan ke SMPN 2 Bangkalan. Lalu, perempuan asal Jalan KH Hasyim Asy’ari, Demangan, itu melanjutkan ke SMAN 1 Bangkalan.

Lalu, anak ketiga lima saudara itu melanjutkan studinya di Universitas Ciputra, Surabaya, pada 2012. Jurusan yang dipilih program studi international business management. Jiwa entrepreneur-nya tumbuh sejak awal dia masuk kampus swasta tersebut. ”Sejak Ospek, aplikasi bisnis saya mulai tumbuh dan terlihat,” imbuhnya.

Baca Juga :  Anggota Dewan Belum Setor Lokasi Pokir
- Advertisement -

Di jurusannya, semua mahasiswa dituntut memiliki bisnis sejak semester awal. Setiap semester diwajibkan menyampaikan pertanggungjawaban berupa keikutsertaannya di dunia bisnis, seperti pameran produk.

Karena itu, ibu dua anak itu sering mengikuti berbagai event pameran di dalam maupun luar negeri. Produk yang dipamerkan berupa aksesori yang terbuat dari kulit. Tetapi dikombinasikan dengan bahan lain seperti kain, bambu, dan kayu. Jenis produknya berupa tas, gelang, gantungan kunci, dan dompet. ”Produk itu diberi nama Radin Craft,” ujarnya.

Pembuatan produk aksesoris itu memberdayakan seorang eks narapidana yang memiliki keterampilan menjahit sejak dari dalam Lapas Sidoarjo. Dari situlah Zhavira mulai mendapat arahan untuk memperbanyak pekerjaan dengan memberdayakan warga binaan di balik jeruji besi. ”Hasil jahitan dari para napi itu juga bagus dan rapi,” tutur istri dari Ellinas Jalusamya Djatmiko itu.

Bisnis yang dirintis sejak di bangku kuliah tersebut terus digeluti hingga 2014 sebelum akhirnya banting setir ke bisnis makanan dan minuman. Itu berawal saat dirinya menyanggupi ajakan rekan untuk overkontrak sebuah kafe di Kota Pahlawan. Lambat laun usaha itu berkembang.

Pada 2016, Zhavira mengembangkan kafetaria dengan menawarkan makanan menu Moshi-Moshi. Tetapi karena tempatnya dianggap terlalu besar, akhirnya dia menganggap perlu adanya varian makanan yang dijual. Sehingga produk yang dijuak berupa mi, sushi, dan lain sebagainya.

Baca Juga :  Amalia Hariyanti Tegaskan Pandemi Bukan Penghalang untuk Berkreasi

Zhavira menjadi direktur PT Madura Consultant 2015–2016. Perusahaan itu bergerak di bidang pengadaan barang dan jasa. Kemudian, pada 2019 mengembangkan usaha dengan menjadi owner dari kedaimie.Id, food coma, dan moshi moshi japanese food.

Berbagai binis yang dikembangkan Zhavira tidak lepas dari peran orang tua. Tetapi tidak secara langsung seperti memberikan modal usaha. Mengingat sejak awal kedua orang tuanya lebih menginginkan anaknya menjadi ASN. Support yang diberikan berupa fasilitas sertifikat tanah. ”Jadi waktu usia saya 21, saya coba bawa ke bank untuk ’sekolahkan’ sertifikat itu,” kenangnya.

Meski giat berwirausaha, ibunda Zaydan Ammar Makarim dan Syarifah Hagia Sophia itu tidak lantas meninggalkan dunia akademik. Seharusnya dia memperoleh gelar sarjana ekonomi pada 2016. Tetapi, pada 2015 Zhavira mengambil jalur khusus untuk melanjutkan studi masgiter di kampus yang sama dengan memilih coorporate entrepreneurship. ”Saya lulus S-2 pada 2017,” ujar Zhavira.

Perempuan berhijab tersebut sempat mengajar selama dua tahun di kampus tempatnya menimba ilmu. Namun, berhenti mengejar saat akan melahirkan anak kedua. Dia memiliki keinginan untuk kembali mengajar sebagai dosen. (*/luq)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/