alexametrics
24.1 C
Madura
Wednesday, August 10, 2022

15 Kasus Kekerasan Anak di Bangkalan! Inilah Pendapat UNICEF

BANGKALAN – Kekerasan pada anak dan perempuan di Kabupaten Bangkalan tergolong tinggi. Sejak awal tahun hingga September 2018 sudah terjadi 15 kasus. Mulai persetubuhan, pencabulan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), penculikan, hingga kekerasan psikis.

Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Bangkalan mencatat, kasus yang menimpa anak-anak mencapai 6 kejadian. Perinciannya, 3 kasus persetubuhan, 1 penelantaran anak, 1 penculikan anak, dan 1 kasus kekerasan fisik pada anak.

Kemudian, kekerasan yang menimpa perempuan sebanyak 9 kasus. Diantaranya 4 kasus persetubuhan, 1 kasus kekerasan psikis, 4 kasus KDRT.

Kasatreskrim Polres Bangkalan AKP Jeni Al Jauza menyampaikan, tahun 2017 kekerasan pada perempuan dan anak mencapai 31 kasus. Perinciannya, 17 kasus menimpa perempuan dan 14 kasus menimpa anak-anak. Sementara pada 2016 sebanyak 27 kasus. Terdiri 11 kasus menimpa anak-anak dan 16 kasus menimpa perempuan.

”Setiap tahunnya kasus yang menimpa perempuan dan anak masih sering kami terima. Kami terus proses setiap laporan yang masuk,” ujarnya selasa (2/10).

Baca Juga :  Target Perbaikan Jembatan Galis Selesai Jumat

Dijelaskan, kekerasan dan kasus seksual pada anak dapat merusak masa depannya. Tidak hanya fisik, kasus kekerasan juga dapat merusak psikis atau kejiwaan anak maupun perempuan. Untuk itu, dia mengimbau agar pengawasan aktivitas anak lebih ditingkatkan.

”Setiap aktivitas anak harus dipantau. Jangan sampai menjadi korban kekerasan seksual,” kata Jeni saat dikonfirmasi.

Sementara itu, Kepala Perwakilan United Nations Children’s Fund (UNICEF) Wilayah Jawa Arie Rukmantara menyayangkan tingginya kasus kekerasan. Khususnya pada anak-anak. Mengingat, generasi bangsa ini sepatutnya dirawat dan diberikan pembinaan. ”Sangat disayangkan,” ungkap dia.

Menurut dia, siklus kekerasan pada anak perlu diputus. Sebab, berdampak buruk bagi masa depannya. Setelah dewasa dan menjadi orang tua, tidak menutup kemungkinan anak yang menjadi korban kekerasan akan ikut melakukan tindak kekerasan pada generasi berikutnya.

”Berputar seperti itu. Jadi kami ingin memutus siklus kekerasan pada anak. Orang tua harus diberikan pemahaman bahwa mendidik anak itu bukan dengan kekerasan,” katanya.

Baca Juga :  Tim Gabungan Lakukan Penyekatan di Jalan Raya Torjun

Arie mengaku, UNICEF sudah bekerja sama dengan pemerintah untuk mengentas dan menekan angka kekerasan pada anak. Kerja sama yang dilakukan di antaranya untuk bersama memenuhi kebutuhan dasar anak, seperti pendidikan dan kesehatan. Dengan demikian, tumbuh kembang anak baik dan terjamin.

Kemudian, lingkungan yang layak untuk anak. Semua kegiatan anak diisi dengan aktivitas positif. Selain itu, pihaknya juga bekerja sama dengan dinas pendidikan provinsi untuk bersama menyuarakan anti-bullying.

”Kami ingin ciptakan sekolah ramah anak. Proses belajar mengajar yang menyenangkan. Bertukar ilmu dan pengetahuan. Tidak boleh ada kekerasan fisik, psikis pada anak,” paparnya.

Arie menambahkan, setiap kasus kekerasan pada anak diharapkan dilaporkan pada pihak berwajib. ”Pelaporan yang konsisten dan aktif diperlukan. Menjunjung tinggi penegakan hukum. Jangan disamakan hukum kekerasan pada anak dengan orang dewasa,” tukasnya.

BANGKALAN – Kekerasan pada anak dan perempuan di Kabupaten Bangkalan tergolong tinggi. Sejak awal tahun hingga September 2018 sudah terjadi 15 kasus. Mulai persetubuhan, pencabulan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), penculikan, hingga kekerasan psikis.

Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Bangkalan mencatat, kasus yang menimpa anak-anak mencapai 6 kejadian. Perinciannya, 3 kasus persetubuhan, 1 penelantaran anak, 1 penculikan anak, dan 1 kasus kekerasan fisik pada anak.

Kemudian, kekerasan yang menimpa perempuan sebanyak 9 kasus. Diantaranya 4 kasus persetubuhan, 1 kasus kekerasan psikis, 4 kasus KDRT.


Kasatreskrim Polres Bangkalan AKP Jeni Al Jauza menyampaikan, tahun 2017 kekerasan pada perempuan dan anak mencapai 31 kasus. Perinciannya, 17 kasus menimpa perempuan dan 14 kasus menimpa anak-anak. Sementara pada 2016 sebanyak 27 kasus. Terdiri 11 kasus menimpa anak-anak dan 16 kasus menimpa perempuan.

”Setiap tahunnya kasus yang menimpa perempuan dan anak masih sering kami terima. Kami terus proses setiap laporan yang masuk,” ujarnya selasa (2/10).

Baca Juga :  Tim Gabungan Lakukan Penyekatan di Jalan Raya Torjun

Dijelaskan, kekerasan dan kasus seksual pada anak dapat merusak masa depannya. Tidak hanya fisik, kasus kekerasan juga dapat merusak psikis atau kejiwaan anak maupun perempuan. Untuk itu, dia mengimbau agar pengawasan aktivitas anak lebih ditingkatkan.

”Setiap aktivitas anak harus dipantau. Jangan sampai menjadi korban kekerasan seksual,” kata Jeni saat dikonfirmasi.

Sementara itu, Kepala Perwakilan United Nations Children’s Fund (UNICEF) Wilayah Jawa Arie Rukmantara menyayangkan tingginya kasus kekerasan. Khususnya pada anak-anak. Mengingat, generasi bangsa ini sepatutnya dirawat dan diberikan pembinaan. ”Sangat disayangkan,” ungkap dia.

Menurut dia, siklus kekerasan pada anak perlu diputus. Sebab, berdampak buruk bagi masa depannya. Setelah dewasa dan menjadi orang tua, tidak menutup kemungkinan anak yang menjadi korban kekerasan akan ikut melakukan tindak kekerasan pada generasi berikutnya.

”Berputar seperti itu. Jadi kami ingin memutus siklus kekerasan pada anak. Orang tua harus diberikan pemahaman bahwa mendidik anak itu bukan dengan kekerasan,” katanya.

Baca Juga :  Pendaftar CPNS Di Bangkalan Kesulitan Akses!

Arie mengaku, UNICEF sudah bekerja sama dengan pemerintah untuk mengentas dan menekan angka kekerasan pada anak. Kerja sama yang dilakukan di antaranya untuk bersama memenuhi kebutuhan dasar anak, seperti pendidikan dan kesehatan. Dengan demikian, tumbuh kembang anak baik dan terjamin.

Kemudian, lingkungan yang layak untuk anak. Semua kegiatan anak diisi dengan aktivitas positif. Selain itu, pihaknya juga bekerja sama dengan dinas pendidikan provinsi untuk bersama menyuarakan anti-bullying.

”Kami ingin ciptakan sekolah ramah anak. Proses belajar mengajar yang menyenangkan. Bertukar ilmu dan pengetahuan. Tidak boleh ada kekerasan fisik, psikis pada anak,” paparnya.

Arie menambahkan, setiap kasus kekerasan pada anak diharapkan dilaporkan pada pihak berwajib. ”Pelaporan yang konsisten dan aktif diperlukan. Menjunjung tinggi penegakan hukum. Jangan disamakan hukum kekerasan pada anak dengan orang dewasa,” tukasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/