alexametrics
21.3 C
Madura
Sunday, June 26, 2022

Bupati Bangkalan Apresiasi Deklarasi KMM 18+

BANGKALAN – Bupati Bangkalan Abdul Latif Amin Imron menghadiri deklarasi Kalangan Muda Madura (KMM) 18+ di Gedung Merdeka Rabu (3/2). Deklarasi mengusung tema Kekayaan Madura Milik Siapa? Bupati mengapresiasi dibentuknya KMM 18+.

Menurut dia, organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan seperti KMM 18+ sangat bagus. Setidaknya ada forum untuk sama-sama berupaya memajukan pembangunan Pulau Madura ke depan. ”Terus terang saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas deklarasinya KMM 18+,” katanya.

Bupati menyampaikan, tujuan pembangunan ekonomi semata-mata untuk peningkatan pendapatan riil per kapita. Juga adanya unsur keadilan atau pemerataan dalam penghasilan dan kesempatan berusaha. Strategi pengembangan potensi itu sangat penting supaya lebih terarah.

”Alhasil, strategi tersebut akan menjadi pedoman bagi pemerintah daerah dalam mengembangkan potensi lokal,” ujarnya.

Ra Latif menyatakan, Pulau Madura sebagai salah satu daerah berkembang memiliki berbagai potensi, baik potensi sumber daya alam, produk unggulan, maupun potensi sumber daya mansuia (SDM) yang produktif. Hal itu seharusnya mampu dikelola sebagai tiang pembangunan ekonomi empat kabupaten.

”Banyak strategi pengembangan ekonomi berbasis potensi dan kearifan lokal yang dapat dilakukan oleh pemerintah daerah, termasuk di Kabupaten Bangkalan,” terangnya. Salah satunya, memberdayakan produk unggulan daerah. Proses ini dilakukan dengan mengidentifikasi sumber daya lokal.

Baca Juga :  Urunan Beli Sabu Sabu, Juru Parkir di Bangkalan Diringkus Polisi

Selanjutnya, dikembangkan dalam bentuk potensi pariwisata, sumber daya, dan energi maupun produk unggulan yang bernilai ekonomi. Misalnya, memberdayakan sektor industri maupun usaha kecil menengah (UKM) yang bersifat padat karya. Dengan demikian, ke depan benar-benar mampu menggerakkan sektor ekonomi mandiri daerah.

”Potensi lokal itu sebagai bagian dari identitas kekayaan daerah menjadi kata kunci dalam pembangunan kota kreatif. Kota kreatif bukan sekadar city branding, tetapi lebih kepada komitmen untuk mengangkat dan mengembangkan potensi kekayaan lokal,” ucapnya.

Visi dan komitmen pemerintah serta keterlibatan forum kreatif menjadi sangat penting dalam pembangunan kota kreatif dan mandiri yang berkelanjutan. Penguatan berbagai kearifan lokal terutama di tiap desa baik Kabupaten Bangkalan maupun tiga kabupaten lainnya di Madura bisa mewujudkan itu.

”Kami harap, mari ke depan bersama-sama untuk terus dikembangkan sehingga menjadi lokomotif penggerak kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi desa yang mandiri,” sebutnya.

Ra Latif menjelaskan, ada beberapa faktor yang perlu dilakukan dalam mengembangkan berbagai kekayaan serta potensi di Madura. Yakni, dukungan ekosistem yang kuat, baik dari sisi kebijakan dan regulasi, infrastruktur, SDM, pendanaan, maupun kelembagaan. Kemudian, keterpaduan seluruh rangkaian proses kreasi-produksi-distribusi, serta tahapan pembangunan yang terukur dengan memperhatikan potensi lokal dan tingkat kesiapan pendukung.

Baca Juga :  Utamakan Kenyamanan dan Pelayanan Prima

”Seperti sarana dan prasarana, sumber daya alam, pelaku usaha, visi dan komitmen baik dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Juga keterlibatan aktif dan kerja sama dari seluruh pemangku kepentingan dengan pembagian peran yang jelas dan proporsional,” tuturnya.

Kepala Diskominfo Bangkalan Agus Zein menambahkan, kekayaan Madura sebagai bagian dari sumber daya alam akan sangat tergantung pada apresiasi masyarakat. Terutama kalangan generasi muda. ”Kalau kita ingin menjadikan kekayaan lokal sebagai identitas jati diri yang bisa bernilai, maka kaum muda harus memulainya dengan mencintai sebenar-sebenarnya,” imbuhnya.

Kemudian, memperlakukan kekayaan lokal yang beraneka jenis itu sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Sederhananya, perihal pakaian adat. Yang terjadi, pakaian adat hanya digunakan pada momen tertentu sehingga terkesan kurang memberikan apresiasi. Lalu, bandingkan dengan yang dilakukan masyarakat Bali.

Masih banyak kekayaan lokal yang kurang mendapatkan porsi. Belum lagi dengan kekayaan jenis lain yang sudah lama diabaikan karena terpengaruh sesuatu yang datang dari luar. ”Mari mulai hal-hal kecil yang semestinya jadi potensi besar,” ajak Agus. (daf/luq/par)

BANGKALAN – Bupati Bangkalan Abdul Latif Amin Imron menghadiri deklarasi Kalangan Muda Madura (KMM) 18+ di Gedung Merdeka Rabu (3/2). Deklarasi mengusung tema Kekayaan Madura Milik Siapa? Bupati mengapresiasi dibentuknya KMM 18+.


Menurut dia, organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan seperti KMM 18+ sangat bagus. Setidaknya ada forum untuk sama-sama berupaya memajukan pembangunan Pulau Madura ke depan. ”Terus terang saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas deklarasinya KMM 18+,” katanya.

Bupati menyampaikan, tujuan pembangunan ekonomi semata-mata untuk peningkatan pendapatan riil per kapita. Juga adanya unsur keadilan atau pemerataan dalam penghasilan dan kesempatan berusaha. Strategi pengembangan potensi itu sangat penting supaya lebih terarah.

”Alhasil, strategi tersebut akan menjadi pedoman bagi pemerintah daerah dalam mengembangkan potensi lokal,” ujarnya.

Ra Latif menyatakan, Pulau Madura sebagai salah satu daerah berkembang memiliki berbagai potensi, baik potensi sumber daya alam, produk unggulan, maupun potensi sumber daya mansuia (SDM) yang produktif. Hal itu seharusnya mampu dikelola sebagai tiang pembangunan ekonomi empat kabupaten.

”Banyak strategi pengembangan ekonomi berbasis potensi dan kearifan lokal yang dapat dilakukan oleh pemerintah daerah, termasuk di Kabupaten Bangkalan,” terangnya. Salah satunya, memberdayakan produk unggulan daerah. Proses ini dilakukan dengan mengidentifikasi sumber daya lokal.

Baca Juga :  Ditabrak Truk Bermuatan Semen, Pemotor dan Bayinya Langsung Meninggal

Selanjutnya, dikembangkan dalam bentuk potensi pariwisata, sumber daya, dan energi maupun produk unggulan yang bernilai ekonomi. Misalnya, memberdayakan sektor industri maupun usaha kecil menengah (UKM) yang bersifat padat karya. Dengan demikian, ke depan benar-benar mampu menggerakkan sektor ekonomi mandiri daerah.

”Potensi lokal itu sebagai bagian dari identitas kekayaan daerah menjadi kata kunci dalam pembangunan kota kreatif. Kota kreatif bukan sekadar city branding, tetapi lebih kepada komitmen untuk mengangkat dan mengembangkan potensi kekayaan lokal,” ucapnya.

Visi dan komitmen pemerintah serta keterlibatan forum kreatif menjadi sangat penting dalam pembangunan kota kreatif dan mandiri yang berkelanjutan. Penguatan berbagai kearifan lokal terutama di tiap desa baik Kabupaten Bangkalan maupun tiga kabupaten lainnya di Madura bisa mewujudkan itu.

”Kami harap, mari ke depan bersama-sama untuk terus dikembangkan sehingga menjadi lokomotif penggerak kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi desa yang mandiri,” sebutnya.

Ra Latif menjelaskan, ada beberapa faktor yang perlu dilakukan dalam mengembangkan berbagai kekayaan serta potensi di Madura. Yakni, dukungan ekosistem yang kuat, baik dari sisi kebijakan dan regulasi, infrastruktur, SDM, pendanaan, maupun kelembagaan. Kemudian, keterpaduan seluruh rangkaian proses kreasi-produksi-distribusi, serta tahapan pembangunan yang terukur dengan memperhatikan potensi lokal dan tingkat kesiapan pendukung.

Baca Juga :  Perbakin Jaring Bibit Baru Potensial

”Seperti sarana dan prasarana, sumber daya alam, pelaku usaha, visi dan komitmen baik dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Juga keterlibatan aktif dan kerja sama dari seluruh pemangku kepentingan dengan pembagian peran yang jelas dan proporsional,” tuturnya.

Kepala Diskominfo Bangkalan Agus Zein menambahkan, kekayaan Madura sebagai bagian dari sumber daya alam akan sangat tergantung pada apresiasi masyarakat. Terutama kalangan generasi muda. ”Kalau kita ingin menjadikan kekayaan lokal sebagai identitas jati diri yang bisa bernilai, maka kaum muda harus memulainya dengan mencintai sebenar-sebenarnya,” imbuhnya.

Kemudian, memperlakukan kekayaan lokal yang beraneka jenis itu sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Sederhananya, perihal pakaian adat. Yang terjadi, pakaian adat hanya digunakan pada momen tertentu sehingga terkesan kurang memberikan apresiasi. Lalu, bandingkan dengan yang dilakukan masyarakat Bali.

Masih banyak kekayaan lokal yang kurang mendapatkan porsi. Belum lagi dengan kekayaan jenis lain yang sudah lama diabaikan karena terpengaruh sesuatu yang datang dari luar. ”Mari mulai hal-hal kecil yang semestinya jadi potensi besar,” ajak Agus. (daf/luq/par)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/