alexametrics
20.9 C
Madura
Sunday, July 3, 2022

Sarankan Petani Timbun Garam

BANGKALAN – Sejumlah petani di Kwanyar tetap memproduksi garam dengan sistem rumah garam prisma. Mereka berharap harga garam bisa terus naik.

Mahdori Aprianto, warga Dusun Bujur, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kwanyar, menilai harga garam stagnan. ”Harganya tidak seberapa,” ucapnya saat ditemui RadarMadura.id kemarin (2/2).

Menurut dia, biasanya harga garam merangkak naik saat musim penghujan. Hal itu yang mendorongnya tetap memproduksi garam dengan sistem rumah garam prisma.

”Biasanya kalau penghujan kan tidak ada produksi, jadi biasanya lebih mahal,” ujarnya.

Harga garam saat ini Rp 1,4 juta per ton dengan untuk kualitas 1 (kw-1). Sementara untuk Kw-2 Rp 1,2 juta per ton. Itu belum termasuk biaya transportasi ke pabrik yang menerima produksi garam. Meski demikian, Mahdori menilai harga itu masih rendah.

Baca Juga :  Petani Garam Enggan Gunakan Geomembran

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Bangkalan Budi Utomo mengaku tidak memiliki kewenangan untuk mengendalikan harga garam. Harga garam dipengaruhi persediaan. ”Saran saya ditimbun dulu. Kalau sudah mulai mahal, baru dijual,” sarannya.

Anggota Komisi B DPRD Bangkalan M. Husni Syakur meminta agar pemerintah tidak tutup mata terkait kondisi yang dihadapi masyarakat. ”Selain perlu pengendalian harga, perlu juga difasilitasi penjualannya,” pintanya. (jup)

BANGKALAN – Sejumlah petani di Kwanyar tetap memproduksi garam dengan sistem rumah garam prisma. Mereka berharap harga garam bisa terus naik.

Mahdori Aprianto, warga Dusun Bujur, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kwanyar, menilai harga garam stagnan. ”Harganya tidak seberapa,” ucapnya saat ditemui RadarMadura.id kemarin (2/2).

Menurut dia, biasanya harga garam merangkak naik saat musim penghujan. Hal itu yang mendorongnya tetap memproduksi garam dengan sistem rumah garam prisma.


”Biasanya kalau penghujan kan tidak ada produksi, jadi biasanya lebih mahal,” ujarnya.

Harga garam saat ini Rp 1,4 juta per ton dengan untuk kualitas 1 (kw-1). Sementara untuk Kw-2 Rp 1,2 juta per ton. Itu belum termasuk biaya transportasi ke pabrik yang menerima produksi garam. Meski demikian, Mahdori menilai harga itu masih rendah.

Baca Juga :  Butuh Bukti, Bukan Janji, Makanya Aksi Lagi

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Bangkalan Budi Utomo mengaku tidak memiliki kewenangan untuk mengendalikan harga garam. Harga garam dipengaruhi persediaan. ”Saran saya ditimbun dulu. Kalau sudah mulai mahal, baru dijual,” sarannya.

Anggota Komisi B DPRD Bangkalan M. Husni Syakur meminta agar pemerintah tidak tutup mata terkait kondisi yang dihadapi masyarakat. ”Selain perlu pengendalian harga, perlu juga difasilitasi penjualannya,” pintanya. (jup)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/