alexametrics
20.7 C
Madura
Thursday, May 26, 2022

Sosiologi UMM Promosikan Konservasi Lingkungan Lewat Film

MALANG – Media audio visual merupakan perantara yang mengombinasikan  pandangan dan pendengaran agar membuat penontonnya mudah menangkap pesan yang disampaikan. Salah satu media audio visual yang akrab di masyarakat adalah film.

Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mencoba menyebarkan semangat secara masif agar masyarakat lebih peduli menjaga dan mencintai lingkungannya. Salah satunya melakukan pengabdian masyarakat dengan membuat film terkait cinta lingkungan.

Rachmad K. Dwi Susilo selaku Dosen Mata Kuliah Sosiologi Lingkungan menerangkan, melalui film pendek yang diproduksi mahasiswa, Jurusan Sosiologi UMM bisa sekaligus mempromosikan nilai-nilai konservasi lingkungan kepada masyarakat. Pemberian tugas ini juga membuat mahasiswa belajar memproduksi sebuah karya yang bisa menginspirasi orang lain.

”Mereka bisa memilih tema apa saja, saya bebaskan sesuai keputusan kelompok masing-masing,” ujarnya.

Baca Juga :  Bupati Ra Latif Letakkan Batu Pertama Wisata Religi Bukit Geger

Salah satu karya mahasiswa Sosiologi UMM yang sangat menginsipirasi adalah video Sang Inspirator Lingkungan. Film  ini menceritakan bagaimana Ribut Hartono, seniman dan aktivis lingkungan yang memperjuangkan ketersediaan air bagi lingkungannya.

Berawal dari mengantar air secara manual ember per ember kepada para warga kurang mampu saat masih anak-anak. Setelah dewasa, Ribut akhirnya berhasil memperluas penyaluran air kepada masyarakat Kukuk, Desa Punten, Kecamatan Bumiaji, Batu.

Ribut yang juga merupakan alumnus pendidikan dokter hewan itu melakukan banyak hal untuk mengubah kondisi desanya. Meski pernah didemo warga pada 2010 silam atas idenya menyalurkan air dari sumber air Banyuning ke rumah-rumah warga, namun langkahnya tak gentar. Dia bahkan berhasil mengairi hampir seluruh Desa Punten dengan ”air meteran” yang digagasnya.

Menurut Rahadi, pembina UKM Kelompok Studi Sinematografi Kine Klub UMM, apa yang dilakukan Prodi Sosiologi UMM merupakan suatu langkah yang tepat. Sebuah karya audio visual bisa menjadi media yang efektif untuk menyampaikan pesan terkait isu-isu tertentu. Hal itu karena pesan yang dikemas dalam sebuah karya audio visual lebih mudah dipahami.

Baca Juga :  Hardiknas di Tengah Ribuan Ruang Kelas Rusak

Meski demikian, proses produksi film yang dilakukan harus tetap dilaksanakan dengan cermat agar pesan yang disampaikan tepat sasaran. ”Pengerjaan konten audio visual harus benar-benar efektif serta jelas tujuannya,” tegasnya.

Dia menambahkan, soal bagaimana karya itu berdampak bagi masyarakat, itu semua bergantung pada audiensnya. ”Efeknya bisa berupa kognitif, afektif, dan behaviour,” katanya.

Selain film Sang Inspirator Lingkungan, terdapat juga beberapa film lain. Di antaranya adalah Kampung Impian, Talun Temalun, Petuah, dan Greatly Outdoor.

 

MALANG – Media audio visual merupakan perantara yang mengombinasikan  pandangan dan pendengaran agar membuat penontonnya mudah menangkap pesan yang disampaikan. Salah satu media audio visual yang akrab di masyarakat adalah film.

Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mencoba menyebarkan semangat secara masif agar masyarakat lebih peduli menjaga dan mencintai lingkungannya. Salah satunya melakukan pengabdian masyarakat dengan membuat film terkait cinta lingkungan.

Rachmad K. Dwi Susilo selaku Dosen Mata Kuliah Sosiologi Lingkungan menerangkan, melalui film pendek yang diproduksi mahasiswa, Jurusan Sosiologi UMM bisa sekaligus mempromosikan nilai-nilai konservasi lingkungan kepada masyarakat. Pemberian tugas ini juga membuat mahasiswa belajar memproduksi sebuah karya yang bisa menginspirasi orang lain.


”Mereka bisa memilih tema apa saja, saya bebaskan sesuai keputusan kelompok masing-masing,” ujarnya.

Baca Juga :  Pembuatan Peta Berbasis Geospasial Dianggarkan Rp 200 Juta

Salah satu karya mahasiswa Sosiologi UMM yang sangat menginsipirasi adalah video Sang Inspirator Lingkungan. Film  ini menceritakan bagaimana Ribut Hartono, seniman dan aktivis lingkungan yang memperjuangkan ketersediaan air bagi lingkungannya.

Berawal dari mengantar air secara manual ember per ember kepada para warga kurang mampu saat masih anak-anak. Setelah dewasa, Ribut akhirnya berhasil memperluas penyaluran air kepada masyarakat Kukuk, Desa Punten, Kecamatan Bumiaji, Batu.

Ribut yang juga merupakan alumnus pendidikan dokter hewan itu melakukan banyak hal untuk mengubah kondisi desanya. Meski pernah didemo warga pada 2010 silam atas idenya menyalurkan air dari sumber air Banyuning ke rumah-rumah warga, namun langkahnya tak gentar. Dia bahkan berhasil mengairi hampir seluruh Desa Punten dengan ”air meteran” yang digagasnya.

Menurut Rahadi, pembina UKM Kelompok Studi Sinematografi Kine Klub UMM, apa yang dilakukan Prodi Sosiologi UMM merupakan suatu langkah yang tepat. Sebuah karya audio visual bisa menjadi media yang efektif untuk menyampaikan pesan terkait isu-isu tertentu. Hal itu karena pesan yang dikemas dalam sebuah karya audio visual lebih mudah dipahami.

Baca Juga :  Hardiknas di Tengah Ribuan Ruang Kelas Rusak

Meski demikian, proses produksi film yang dilakukan harus tetap dilaksanakan dengan cermat agar pesan yang disampaikan tepat sasaran. ”Pengerjaan konten audio visual harus benar-benar efektif serta jelas tujuannya,” tegasnya.

Dia menambahkan, soal bagaimana karya itu berdampak bagi masyarakat, itu semua bergantung pada audiensnya. ”Efeknya bisa berupa kognitif, afektif, dan behaviour,” katanya.

Selain film Sang Inspirator Lingkungan, terdapat juga beberapa film lain. Di antaranya adalah Kampung Impian, Talun Temalun, Petuah, dan Greatly Outdoor.

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/