Potensi Laut Disulap Jadi Cuan, Makan Ikan Serap Delapan Karyawan

Hera Marylia • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 05:19 WIB
KREATIF: Pemilik usaha kuliner Makan Ikan Hidayaturrahman (kiri) bersama pelanggannya di restorannya, Jalan Adirasa, Desa Kolor, Kecamatan Kota Sumenep. (HIDAYATURRAHMAN UNTUK JPRM)
KREATIF: Pemilik usaha kuliner Makan Ikan Hidayaturrahman (kiri) bersama pelanggannya di restorannya, Jalan Adirasa, Desa Kolor, Kecamatan Kota Sumenep. (HIDAYATURRAHMAN UNTUK JPRM)

SUMENEP, RadarMadura.id – Melimpahnya hasil laut di Sumenep menjadi peluang ekonomi bagi Hidayaturrahman.

Warga asal Pulau Kangean tersebut mengolah potensi laut menjadi usaha kuliner bernama Restoran Makan Ikan Sumenep. 

Empat tahun berjalan, usaha yang dirintis sejak September 2022 itu kini mampu mempekerjakan delapan karyawan.

Restoran yang berlokasi di Jalan Adirasa, Desa Kolor, Kecamatan Kota Sumenep, tersebut lahir dari kegelisahan sekaligus peluang bisnis.

Hidayaturrahman melihat hasil laut Sumenep yang melimpah belum banyak diterjemahkan menjadi identitas kuliner daerah.

Baca Juga: Resep Balado Ikan Bandeng dengan Bumbu Merah Pedas Gurih, Cara Masaknya Praktis di Rumah 

Sumenep dikenal memiliki kekayaan hasil laut yang beragam.

Mulai ikan bernilai tinggi seperti kerapu ekspor hingga ikan konsumsi dengan harga lebih terjangkau.

"Selama ini kalau orang dari luar datang ke Sumenep, makanan yang ditawarkan biasanya sate, rujak, dan kaldu. Padahal kita punya hasil laut yang sangat besar," katanya.

Ragam menu di Restoran Makan Ikan Sumenep
Ragam menu di Restoran Makan Ikan Sumenep

Kondisi tersebut kemudian menjadi peluang bagi Hidayaturrahman.

Dia membangun usaha kuliner yang menjadikan ikan sebagai menu utama sekaligus memperkenalkan hasil laut Sumenep kepada konsumen.

Pemilihan nama Makan Ikan juga bukan tanpa alasan.

Nama tersebut diharapkan mudah diingat sekaligus menjadi bagian dari branding kuliner daerah.

"Kalau orang datang ke Sumenep, kemudian ditanya mau makan apa, harapannya jawabannya Makan Ikan,” ujar Hidayaturrahman.

Dari sisi konsep, Makan Ikan menawarkan cara yang cukup sederhana.

Pelanggan dapat memilih sendiri ikan yang ingin disantap.

Ikan tersebut kemudian ditimbang di depan pelanggan sebelum ditentukan cara pengolahannya.

Baca Juga: Xerox Kembali ke Indonesia dengan Kekuatan Baru, Xerox Lexmark Resmi Bawa C200 dan C300 

Momen pengunjung menikmati hidangan berbagai menu ikan di Restoran Makan Ikan Sumenep.
Momen pengunjung menikmati hidangan berbagai menu ikan di Restoran Makan Ikan Sumenep.

Pilihan olahannya pun beragam. Tidak hanya dibakar atau digoreng, ikan dapat dimasak dengan saus padang, asam manis, telur asin, kuah, mentega, rica, dan berbagai pilihan lainnya.

 "Untuk menunya juga dilengkapi udang, cumi, kepiting, serta hasil laut lainnya,” ucapnya.

Menurut Hidayaturrahman, sebagian besar bahan baku ikan didatangkan dari wilayah kepulauan Sumenep, terutama Kepulauan Sapeken dan Gili Genting.

Menariknya, jenis ikan yang biasa menjadi komoditas ekspor seperti kerapu merah juga ditawarkan kepada konsumen.

Hal tersebut menjadi salah satu nilai jual usahanya.

Masyarakat bisa menikmati ikan berkualitas dengan harga yang relatif lebih terjangkau dibandingkan restoran di kota-kota besar.

"Jadi masyarakat bisa menikmati ikan berkualitas dengan harga yang relatif lebih terjangkau dibandingkan restoran di kota-kota besar,” ucap pengusaha yang kini berdomisili di Desa/Kecamatan Batuan itu.

Di sisi pemasaran, Makan Ikan masih mengandalkan pola sederhana.

Promosi dari pelanggan menjadi salah satu cara utama untuk memperkenalkan usaha tersebut.

Baca Juga: Bikin Sendiri di Rumah, Resep Ayam Gepuk Sambal Kacang Lebih Hemat dan Enak Rasa Bintang Lima

Pelanggan yang merasa cocok biasanya kembali bersama keluarga atau mengajak teman dan kolega.

Belakangan, sejumlah pengguna media sosial juga ikut mengenalkan Makan Ikan secara sukarela.

"Bisa dibilang dari mulut turun ke hati. Pelanggan yang pernah datang kemudian mengajak keluarga atau temannya," tuturnya.

Pelanggan yang datang pun cukup beragam.

Mulai keluarga hingga kelompok korporasi dari instansi pemerintah maupun swasta. Mayoritas berasal dari Sumenep dan wilayah kepulauan.

Salah satu menu ikan berkuah
Salah satu menu ikan berkuah

"Untuk konsumen dari luar daerah umumnya datang saat akhir pekan maupun libur kerja,” tukas Hidayaturrahman.

Bagi Hidayaturrahman, perjalanan membangun UMKM kuliner tidak bisa dilepaskan dari tantangan.

Sejak merintis hingga sekarang, berbagai persoalan harus dihadapi.

Namun, dia menganggap tantangan tersebut sebagai bagian dari proses belajar membangun usaha.

Dia menilai bisnis kuliner membutuhkan waktu untuk menemukan pola yang tepat.

Konsistensi menjadi salah satu faktor penting agar usaha mampu melewati masa awal.

Baca Juga: Bukan Toyota Alphard, Mobil Buatan Pakistan yang Punya Desain Serupa dan Dijual di Bawah Rp200 Juta

Ragam menu di Restoran Makan Ikan Sumenep
Ragam menu di Restoran Makan Ikan Sumenep

"Usaha kuliner itu butuh waktu belajar satu sampai tiga tahun. Kalau setelah itu masih eksis, insyaallah bisa berkembang, asal konsisten," katanya.

Kini, keberadaan delapan karyawan menjadi salah satu hasil dari perjalanan usaha tersebut.

Bagi Hidayaturrahman, Makan Ikan bukan sekadar menjual makanan.

Usaha itu juga menjadi upaya mengolah potensi sumber daya laut menjadi peluang ekonomi.

Dari ikan yang ditangkap nelayan kepulauan, bahan baku itu kemudian masuk ke rantai usaha kuliner dan berakhir di meja konsumen.

Rantai sederhana tersebut menjadi gambaran bagaimana potensi lokal dapat diolah menjadi kegiatan ekonomi melalui UMKM. (iqb/han)

Editor : Hera Marylia
Makan Ikan kuliner daerah Kepulauan Sumenep usaha kuliner hasil laut