SUMENEP, RadarMadura.kd – Penanganan bencana kekeringan di wilayah terdampak di Kabupaten Sumenep mengalami kendala, terutama untuk wilayah kepulauan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep menyebut hanya memiliki dua unit armada pendistribusi air bersih.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Sumenep Kamiluddin mengatakan, keterbatasan armada membuat proses distribusi air bersih harus dilakukan secara bergiliran.
Menurutnya, kondisi tersebut juga menyulitkan bila kendaraan dari daratan harus dibawa menuju kepulauan.
“Kami hanya punya dua armada, untuk wilayah daratan saja sudah kewalahan, jadi harus bergiliran. Untuk kepulauan kita memang kesulitan, kalau armada itu dibawa ke pulau, yang di daratan juga tidak ada, kewalahan juga,” terangnya.
Menurutnya, untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga kepulauan, institusinya mencari alternatif lain.
Salah satunya dengan memanfaatkan kendaraan milik warga yang telah dimodifikasi agar bisa mengangkut air.
Dia mengungkapkan, pola tersebut telah diterapkan di wilayah Kecamatan Gayam, Pulau Sapudi.
“Seperti di Gayam, di sana ada pikap yang dimodifikasi, jadi kami langsung beli ke pemilik pikap itu untuk didistribusikan kepada warga,” ungkapnya.
Dia memastikan, proses distribusi air bersih ke wilayah terdampak kekeringan, baik daratan maupun kepulauan, akan tetap dioptimalkan.
“Untuk kepulauan, teknis pelaksanaannya akan disesuaikan dengan kondisi dan ketersediaan sarana di masing-masing wilayah,” ucapnya.
Selain itu, institusinya juga bakal mengupayakan anggaran guna mendukung distribusi air bersih ke wilayah kepulauan.
“Meski begitu, untuk pengadaan atau pengiriman armada ke wilayah kepulauan tidak memungkinkan,” tandasnya. (tif/yan)
Editor : Amin Bashiri