Kegiatan itu dinilai menjadi ruang bagi peserta didik untuk menumbuhkan kecintaan, kebanggaan, sekaligus keterampilan dalam menggunakan bahasa dan sastra daerah, khususnya bahasa Madura.
Kepala Dispendik Sumenep Moh. Iksan melalui Kasi Analisis Kebijakan Subkor Peserta Didik dan Pembangunan Karakter SD Ahmad Rasul Hariz mengatakan, FTBI menjadi salah satu upaya menjaga keberlangsungan bahasa Madura di tengah perubahan zaman.
”Festival ini menjadi wadah untuk melatih kemampuan peserta didik dalam menggunakan bahasa daerah, khususnya bahasa Madura,” katanya.
Menurutnya, pengenalan bahasa daerah perlu dilakukan dengan cara yang menarik agar peserta didik tidak hanya memahami, tetapi memiliki kebanggaan untuk menggunakannya.
Melalui FTBI, siswa dapat mengekspresikan kemampuan berbahasa dan bersastra melalui berbagai cabang lomba.
Mulai dari pidato, puisi, cerita, tembang, lawakan, karya tulis, hingga aksara Carakan Madura.
Beragam bentuk tersebut menjadi sarana bagi siswa untuk mengenal bahasa daerah sekaligus mengembangkan kreativitas.
”Pelestarian bahasa daerah merupakan bagian dari upaya menjaga identitas kekayaan budaya, dan warisan bangsa,” ucapnya.
Dia berharap pengalaman yang diperoleh peserta selama FTBI tidak berhenti setelah perlombaan selesai.
Sebaliknya, kemampuan dan kecintaan terhadap bahasa Madura dapat terus diterapkan di sekolah, keluarga, maupun lingkungan masyarakat.
”Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar dalam menanamkan kesadaran pada generasi muda bahwa bahasa Madura merupakan bagian dari identitas budaya yang perlu dijaga,” harapnya.
Diketahui, ajang talenta daerah jenjang SD tingkat Kabupaten Sumenep itu digelar di SDN Karang Duak 1, Kamis (24/9). Kegiatan itu diikuti peserta didik perwakilan dari setiap kecmatan di Kota Keris. (tif/han)
Editor : Hera Marylia