SUMENEP, RadarMadura.id– Sekitar 100 pengelola informasi dari berbagai instansi dan lembaga mengikuti Pelatihan Kehumasan dan Pengelolaan Media Sosial yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumenep, Rabu (23/9).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Jege Tembe Universitas Bahaudin Mudhary (Uniba) Madura itu diikuti humas dan admin media sosial sejumlah instansi.
Peserta di antaranya berasal dari puskesmas, lembaga pendidikan di bawah Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur Wilayah Sumenep, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), serta lembaga pendidikan di bawah Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama Sumenep.
Ketua PWI Sumenep Faisal Warid mengatakan, pelatihan tersebut menjadi wadah berbagi pengalaman jurnalistik kepada pengelola informasi di berbagai lembaga.
Pengetahuan itu diharapkan dapat menunjang tugas komunikasi dengan masyarakat.
"Kami ingin berbagi pengetahuan pada para peserta, sehingg bisa menjalankan tugas dengan baik di lembaganya," katanya.
Menurut Warid, kemampuan mengelola informasi penting bagi lembaga yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Sebab, publik membutuhkan informasi mengenai layanan, prosedur, maupun berbagai kegiatan lembaga.
Dia juga mengingatkan agar media sosial instansi tidak sebatas menjadi etalase dokumentasi kegiatan.
Konten yang dipublikasikan harus memiliki nilai informasi dan menjawab kebutuhan masyarakat.
"Konten yang disajikan harus memiliki nilai dan dan juga bisa menjawab kebutuhan masyarakat," ucapnya.
Pemateri, Dwi Eko Lokononto menyoroti peran humas yang tidak sebatas mengejar konten viral.
Menurutnya, humas memiliki fungsi komunikasi yang lebih luas, terutama dalam menyampaikan informasi lembaga kepada masyarakat.
Dia juga menjelaskan perubahan pola distribusi konten di era digital. Pengelola media sosial tidak cukup mengandalkan judul atau materi yang dibuat untuk mengejar klik.
Kualitas dan orisinalitas konten menjadi hal yang perlu diperhatikan.
"Sekarang tidak lagi semata-mata berpedoman pada clickbait. Algoritma justru semakin mengarah kepada konten yang original," ucapnya.
Sementara itu, pemateri Andi Tausya membahas pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam produksi konten.
Sejumlah perangkat AI dapat membantu pengelola mulai dari mencari ide hingga membuat materi visual dan audio.
Perempuan yang akrab disapa Ocha itu mengenalkan sejumlah tools, seperti ChatGPT, Canva, CapCut, dan ElevenLabs.
Dia juga menekankan pentingnya tiga hingga lima detik pertama dalam sebuah konten untuk mempertahankan perhatian audiens.
"Kalau di tiga sampai lima detik pertama kita tidak bisa menarik perhatian audiens, kemungkinan mereka akan melewati konten kita. Karena itu, bagian awal harus dibuat semenarik mungkin," ujarnya.
Pemateri lainnya, Gunawan Sujana, mengingatkan agar pengelola tidak memperlakukan akun media sosial instansi sebagai akun pribadi.
Setiap konten harus mempertimbangkan posisi akun sebagai kanal resmi lembaga.
"Konten yang disajikan harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat, bukan disesuaikan dengan pemikiran pemilik akun," tegasnya. (tif)
Editor : Amin Bashiri