Kayu Gelondongan Berstiker Kemenhut Berserakan di Pesisir Perairan Dungkek

Hera Marylia • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 07:39 WIB
BERJEJER: Warga berada di atas kayu yang terdampar di pesisir perairan Kecamatan Dungkek, Sumenep. (ISTIMEWA)
BERJEJER: Warga berada di atas kayu yang terdampar di pesisir perairan Kecamatan Dungkek, Sumenep. (ISTIMEWA)

SUMENEP, RadarMadura.id – Ratusan kayu gelondongan berukuran besar berserakan di pesisir perairan Kecamatan Dungkek, Sumenep, Sabtu (19/9) malam.

Kayu tersebut terdampar di Desa Bicabbi, Desa Romben Guna, dan Desa Dungkek.

Kayu itu disebut mulai berdatangan sekitar pukul 18.00 WIB. Hingga pukul 22.00 WIB, material tersebut terus terbawa gelombang dan memenuhi sejumlah titik di sepanjang pesisir.

Pada batang kayu yang ditemukan warga, terlihat stiker berbentuk persegi empat berwarna kuning dengan logo Kementerian Kehutanan (Kemenhut) Republik Indonesia.

Baca Juga: Bappeda Sumenep Perkuat Strategi Pengentasan Kemiskinan Berbasis Wilayah

Label tersebut memuat informasi identifikasi kayu, antara lain nama perusahaan, kode unik, kode QR, serta logo Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK) Indonesia.

Dua nama perusahaan yang tercantum ialah PT Utama Damai Indah Timber dan PT Karya Lestari.

Ahmad, warga Desa Bicabbi, mengatakan, kayu tersebut diketahui terdampar di wilayah pesisir perairan Kecamatan Dungkek sejak Minggu (20/9). Ukurannya disebut cukup besar.

"Beberapa batang diperkirakan memiliki diameter sekitar satu meter dan panjang mencapai lima meter," katanya.

Material tersebut kemudian menyebabkan kerusakan terhadap sejumlah perahu nelayan. Hingga Senin (21/9), enam perahu dilaporkan rusak.

Lima perahu berada di Desa Bicabbi, sedangkan satu perahu lainnya di Desa Dungkek.

Madsudi, warga Desa Bicabbi lainnya menyatakan, sebagian besar perahu mengalami kebocoran dengan tingkat kerusakan sedang hingga berat.

Baca Juga: Pemdes Montorna Prioritaskan Pelayanan Publik dan Penanganan Air Bersih

Kerusakan terjadi setelah kayu terbawa arus dan gelombang hingga menghantam perahu nelayan di sekitar pesisir.

"Yang rusak ada lima perahu di Bicabbi, satu di Dungkek. Mayoritas bocor, dengan tingkat kerusakan sedang sampai berat," ungkapnya.

Belakangan diketahui, kayu tersebut merupakan bagian dari muatan kapal tongkang yang mengalami insiden di perairan sekitar Pulau Gili Iyang.

James Malumbot, mualim I kapal tongkang menuturkan, kapal mengangkut 697 batang kayu dari Sungai Berau, Kalimantan Timur, menuju Probolinggo, Jawa Timur.

Kapal tersebut membawa 10 anak buah kapal (ABK) dan satu nakhoda.

Perjalanan yang biasanya ditempuh sekitar 11 hari molor menjadi sekitar 13 hari akibat cuaca buruk. 

Tongkang tiba di sekitar Pulau Gili Iyang pada Jumat (18/9) sekitar pukul 17.00 WIB.

"Berangkat dari Sungai Berau, menuju Probolinggo. Berangkat tanggal 5 September. Terdampar di sini karena cuaca buruk," tuturnya.

Dijelaskan, cuaca buruk terjadi saat tongkang melintasi perairan Pulau Jawa.

Menurutnya, kondisi tersebut berlangsung selama dua hari dengan ketinggian gelombang sekitar empat meter hingga menyebabkan tongkang miring.

Baca Juga: Sumber Taman Jadi Tumpuan Warga Desa Waru Timur, Manfaat Paling Terasa saat Musim Kemarau

"Saat melewati perairan Pulau Jawa, diperkirakan tanggal 13 hingga 14 September, cuaca sedang buruk dan berlangsung selama dua hari. Jadi tongkang kami miring," jelasnya.

Awak kapal kemudian memilih berlindung di sekitar Pulau Gili Iyang karena khawatir kondisi cuaca membahayakan keselamatan pelayaran.

Mereka juga berupaya menguras air yang diduga masuk ke dalam tongkang.

"Kami sempat kesulitan cari tempat berlindung, lokasi terdekat ya Pulau Gili Iyang ini," ucapnya.

Namun, upaya tersebut tidak mampu mencegah sebagian muatan kayu terlepas.

Dia menduga air masuk ke dalam tongkang akibat cuaca buruk, ditambah tekanan muatan kayu yang berat.

Menurutnya, setelah berkoordinasi dengan nakhoda, awak kapal memutuskan bertahan di sekitar Pulau Gili Iyang.

Saat kondisi tongkang miring, ikatan muatan kayu terlepas sehingga sebagian besar kayu tumbang ke laut dan terbawa arus.

"Meski cuaca buruk, kami terpaksa berlayar. Kemudian kami berkoordinasi dengan nakhoda, khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Untuk sementara, kami ambil keputusan berlindung di Pulau Gili Iyang," ulasnya.

Dari total 697 batang kayu yang diangkut, sekitar 405 batang terlepas dan terbawa arus.

Baca Juga: Menantu Habisi Mertua, Diduga Sakit Hati karena Diminta Bayar Utang

Ratusan batang tersebut kemudian terdampar di pesisir perairan Desa Bicabbi, Desa Dungkek, dan Desa Romben Guna.

"Kami mengupayakan menguras tongkang, tapi insiden tetap terjadi. Kayunya terbawa arus, hilang dari tongkang semua," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Resort Pemangkuan Hutan (KRPH) Sumenep Imam Syafi'i mengungkapkan, label pada kayu tersebut merupakan identitas yang berkaitan dengan legalitas dan penelusuran kayu.

Institusinya telah mendatangi lokasi untuk memastikan kondisi kayu yang terdampar.

"Jadi, kayu itu legal, kode unik dan kode QR pada label itu digunakan untuk membantu proses penelusuran riwayat kayu melalui sistem yang tersedia," pungkasnya. (tif/yan)

Editor : Hera Marylia
Kemenhut RI kayu gelondongan rusak perahu nelayan terdampar