SUMENEP, RadarMadura.id – Potensi garam Sumenep terus didorong agar tidak berhenti pada produksi bahan mentah. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumenep mengawal pengembangan komoditas tersebut melalui penguatan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus memperluas dampak ekonomi bagi masyarakat.
Komitmen itu terlihat saat Bappeda Sumenep mendampingi Kementerian PPN/Bappenas dalam kunjungan lapangan ke Sumenep pada 3–4 September 2026. Kunjungan tersebut salah satunya menyasar pengembangan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (WP3K), termasuk sektor garam yang menjadi salah satu potensi unggulan daerah.
Kepala Bappeda Sumenep Arif Firmanto mendampingi langsung tim Bappenas dalam kunjungan tersebut. Salah satu lokasi yang ditinjau ialah pengembangan hilirisasi garam di PT Mulya Anugerah Sumekar.
Di lokasi tersebut, garam tidak hanya diolah menjadi garam konsumsi premium. Produk turunan dengan nilai tambah juga mulai dikembangkan, salah satunya garam untuk kebutuhan spa.
Arif mengatakan, hilirisasi menjadi langkah penting untuk mengoptimalkan potensi garam Sumenep. Menurut dia, produksi garam tidak cukup hanya berorientasi pada volume. Pengolahan lanjutan diperlukan agar komoditas tersebut memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.
”Potensi garam kita cukup besar. Karena itu, pengembangannya harus diarahkan pada hilirisasi agar memiliki nilai tambah dan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas, terutama bagi masyarakat dan pelaku usaha lokal,” katanya.
Menurut Arif, penguatan hilirisasi juga sejalan dengan upaya mendorong pertumbuhan ekonomi pesisir. Semakin banyak produk turunan yang dihasilkan, makin besar pula peluang keterlibatan masyarakat dan pelaku usaha lokal dalam rantai ekonomi garam.
Bappeda, lanjut dia, akan menggunakan hasil pemetaan lapangan sebagai salah satu bahan dalam merumuskan arah kebijakan pengembangan garam dan ekonomi pesisir Sumenep. ”Hasil pemetaan lapangan nanti akan menjadi bahan dalam merumuskan kebijakan pengembangan garam dan ekonomi pesisir Sumenep ke depan,” imbuh Arif. (iqb/han)
Editor : Amin Bashiri