SUMENEP, RadarMadura.is – Pengabdian selama lebih dari tiga dekade membawa Zainur, S.P., penyuluh kehutanan PNS pada Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Wilayah Sumenep, menorehkan prestasi di tingkat nasional.
Kiprahnya dalam mendampingi masyarakat kepulauan mengantarkan dirinya meraih Terbaik I Nasional Kategori Penyuluh Kehutanan PNS dalam Lomba Wana Lestari 2024.
Selama 32 tahun 4 bulan mengabdi, Zainur memiliki wilayah binaan yang tidak biasa. Dia mendampingi 84 Kelompok Tani Hutan (KTH) yang tersebar di 115 pulau di Kabupaten Sumenep.
"Menjadi penyuluh di wilayah kepulauan memang memiliki tantangan tersendiri. Akses dan karakter masyarakat berbeda-beda, sehingga pendekatannya juga harus menyesuaikan kondisi di lapangan," katanya.
Bagi Zainur, penyuluhan tidak sekadar menyampaikan program pemerintah. Dia berupaya membangun kesadaran masyarakat agar memiliki kepedulian terhadap lingkungan.
Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah Mangrovisme, yakni gerakan yang mengajak masyarakat kepulauan menanam dan merawat mangrove secara berkelanjutan.
"Kami terus mengajak masyarakat untuk melihat bahwa mangrove bukan hanya tanaman di pesisir, tetapi juga bagian penting untuk menjaga lingkungan dan kehidupan masyarakat," terangnya.
Upaya tersebut berjalan beriringan dengan berbagai inovasi. Salah satunya Restu Tani di Pulau Raas yang memadukan tanaman jati dengan jagung ketan putih melalui pola agroforestri.
Pola tersebut tidak hanya menjaga kawasan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
"Konsepnya bagaimana kelestarian lingkungan tetap berjalan, tetapi masyarakat juga mendapatkan manfaat dan tambahan pendapatan dari usaha yang mereka kelola," ujarnya.
Tidak berhenti pada rehabilitasi kawasan, Zainur juga mendorong pengembangan potensi ekonomi dan wisata masyarakat.
Di antaranya melalui inisiasi wisata pesisir Wismang Janjang yang dikelola KTH Sumber Kokap Jaya. Kawasan tersebut kemudian diresmikan pada 2024 sebagai Bahari Wana Wisata.
Di Pulau Sapudi, dia menginisiasi program Kasi Sarapan dengan menanam gmelina dan lamtoro sebagai sumber pakan sapi karapan.
Berbagai persoalan lingkungan di tengah masyarakat juga menjadi sasaran inovasinya.
Melalui Mainan Jukir, limbah olahan ikan dimanfaatkan menjadi pupuk organik cair untuk mengurangi pencemaran.
Sementara Takjil Peduli Lingkungan digunakan untuk membangun kepedulian masyarakat terhadap rehabilitasi kawasan pesisir.
"Kami ingin setiap kegiatan penyuluhan punya dampak nyata, baik untuk lingkungan maupun peningkatan kesejahteraan masyarakat," ucapnya.
Konsistensi tersebut membuahkan hasil. Tutupan lahan pesisir terus meningkat, sementara KTH binaannya mengembangkan berbagai usaha produktif, seperti minyak kelapa, kerajinan tangan, madu, dan produk agroforestri.
Prestasi Zainur juga berlanjut pada 2026. Dia meraih Juara II Inovasi Rimbawan kategori Inovasi Individu melalui SI RUPA BUMI atau Sistem Rumpun Pasak Bumi.
"Penghargaan ini menjadi motivasi bagi saya untuk terus berinovasi dan mendampingi masyarakat, khususnya dalam menjaga hutan dan lingkungan di wilayah kepulauan," ucapnya.
Zainur bercerita, inovasi tersebut berawal dari persoalan tingkat keberhasilan penanaman mangrove yang masih rendah, khususnya di kawasan pesisir yang langsung berhadapan dengan laut.
Kondisi substrat berupa batu dan pasir serta hempasan ombak membuat bibit mangrove yang ditanam kerap tidak bertahan.
Menurutnya, selama ini tingkat keberhasilan penanaman mangrove sekitar 50 persen sudah dianggap cukup baik.
Berbagai kegiatan penanaman, baik secara swadaya maupun melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR), juga masih menghadapi kendala serupa di wilayah kepulauan.
"Awalnya berangkat dari kegagalan teknis penanaman. Selama ini, mangrove itu disinyalir kalau hidupnya 50 persen sudah sangat bagus. Beberapa kegiatan, baik swadaya maupun CSR yang ada di kepulauan, banyak yang gagal, terutama apabila ditanam di lokasi yang berhadapan dengan ombak," jelasnya.
Kondisi tersebut mendorong Zainur bersama kelompok masyarakat mencari metode yang lebih kuat.
Berbagai percobaan dilakukan saat kegiatan penanaman mangrove, termasuk dengan memanfaatkan bambu sebagai penahan bibit.
Awalnya, dia mencoba menancapkan bambu dan mengikat tanaman mangrove pada bagian tersebut. Namun, cara itu belum mampu menahan bibit dari hempasan ombak. Tanaman tetap terangkat meski bambu telah ditancapkan.
"Saya coba lagi pakai paku, tapi lepas juga. Akhirnya saya memakai bambu batang bawah yang dibentuk menyilang seperti jari-jari empat. Setelah itu saya tanam, ternyata kuat dan aman," ucapnya.
Menurut Zainur, pada awalnya metode tersebut belum dianggap sebagai sebuah inovasi.
Tujuannya sederhana, yakni mencari cara agar bibit mangrove yang ditanam dapat bertahan dan tidak mudah tercabut oleh gelombang.
"Waktu itu saya belum berpikir itu adalah sebuah inovasi. Saya hanya memikirkan bagaimana mangrove yang ditanam aman," ujarnya.
Setelah metode tersebut dinilai berhasil, Zainur kemudian berkonsultasi dan mengikutsertakannya dalam sejumlah ajang perlombaan inovasi, salah satunya dalam rangka Hari Bakti Rimbawan. Inovasi yang kemudian dikenal dengan nama RUPA BUMI itu berhasil menembus sejumlah tahapan penilaian.
"Setelah semua persyaratan dipenuhi, ternyata masuk nominasi 10 besar. Dari 10 besar itu masuk lima besar. Setelah itu baru ada sesi tanya jawab," katanya.
Dalam proses presentasi dan penilaian, inovasi RUPA BUMI mendapat sejumlah tanggapan positif.
Selain membantu memperkuat bibit mangrove agar lebih tahan terhadap kondisi pesisir, metode tersebut juga dinilai memiliki manfaat ekologis lain.
"Inovasi SI RUPA BUMI ini selain dapat memperkuat penanaman mangrove, juga dapat memperkaya biota laut," tandasnya. (tif/han)
Editor : Amin Bashiri