SUMENEP, RadarMadura.id – Malam di Kafe Kancakona, Jalan Jokotole, Desa Gedungan, Kecamatan Batuan, Sabtu (22/8) malam, terasa berbeda.
Sejumlah orang datang bukan sekadar menikmati suasana kafe, tetapi untuk menyelami cerita dari sebuah wilayah yang dipisahkan oleh bentangan laut.
Malam itu, Kafe Kancakona menjadi ruang perjumpaan dalam acara ngobrol buku bertajuk Masalembu: Suara dari Laut Seberang.
Kegiatan tersebut digelar melalui kolaborasi LESBUMI PCNU Sumenep dan Penerbit Literatus.
Baca Juga: BPK Temukan Pekerjaan Tak Sesuai RAB, Hasil Audit Proyek Puskesmas Karang Penang
Buku karya Mahéng itu dibedah bersama A. Dardiri Zubairi sebagai penanggap pertama dan Iskandar Dzulkarnain sebagai penanggap kedua. Diskusi dipandu Ummul Hasanah sebagai moderator.
Percakapan malam itu tidak berhenti pada proses kreatif di balik lahirnya sebuah buku. Masalembu dibicarakan dari berbagai sisi.
Mulai identitas Madura, keberagaman masyarakat, stereotipe yang melekat, hingga persoalan pembangunan kawasan kepulauan.
Bagi Mahéng, buku tersebut lahir bukan dari rencana panjang untuk menulis sebuah karya.
Gagasan justru tumbuh dari perjalanan dan cerita yang dia dengar tentang Masalembu.
Dari sana, dia menemukan banyak kisah yang menurutnya menarik untuk diabadikan.
Baca Juga: Vivo V70 Lite 4G Bikin Penasaran, Usung Baterai Super Besar 8.100 mAh dan Sertifikasi IP69 dalam Pon
Terutama karena berbagai cerita tentang Masalembu selama ini sering kali tertutup oleh stigma negatif.
”Sejelek-jeleknya tulisan adalah sekuat-kuatnya ingatan,” katanya.
Kalimat itu menjadi alasan mengapa pengalaman perjalanan perlu dituliskan.
Bagi Mahéng, tulisan bukan sekadar karya, tetapi juga cara untuk menyimpan pengalaman agar tidak hilang begitu saja.
Menurutnya, Masalembu selama ini kerap dilekatkan dengan sebutan “Segitiga Bermuda”.
Stigma tersebut menciptakan kesan bahwa wilayah kepulauan itu merupakan tempat yang berbahaya dan sebaiknya dihindari.
Melalui bukunya, Mahéng mencoba menghadirkan cerita dari sisi berbeda.
Dia tidak ingin Masalembu hanya dikenal melalui rumor dan stereotipe, tetapi juga melalui kehidupan masyarakat yang ditemuinya secara langsung.
Dengan pendekatan journalism feature, Mahéng merekam kehidupan masyarakat Masalembu yang beragam.
Di wilayah tersebut hidup berbagai kelompok masyarakat, termasuk Madura, Bugis, dan Mandar. Keberagaman itu justru menjadi salah satu kekuatan cerita yang ingin disampaikan.
Baca Juga: Anggota Komisi VIII DPR RI Ansari Dorong Perlindungan Korban Kekerasan Seksual
Laut yang secara geografis memisahkan Masalembu dari daratan, menurut Mahéng, tidak selalu berarti batas. Sebaliknya, laut dapat menjadi ruang pertemuan.
Dari laut, berbagai kebudayaan datang, berinteraksi, kemudian membentuk kehidupan masyarakat yang terus berkembang.
Karena itu, buku tersebut tidak dimaksudkan sebagai kajian ilmiah ataupun buku sejarah tentang Masalembu.
Mahéng menempatkannya sebagai catatan perjalanan dan pengalaman personal setelah mengunjungi wilayah kepulauan tersebut.
Dia ingin pembaca melihat Masalembu melalui kisah-kisah manusia.
Tentang bagaimana masyarakat menerima pendatang, bagaimana keberagaman hidup berdampingan, serta bagaimana kehidupan di pulau berlangsung jauh dari hiruk pikuk daratan.
Baginya, cerita-cerita sederhana itu justru penting untuk membangun pemahaman yang lebih utuh mengenai Masalembu.
Laut yang terbentang di antara Masalembu dan daratan tidak hanya berbicara tentang jarak.
Kata dia, di balik itu terdapat kehidupan, kebudayaan, dan pengalaman masyarakat yang layak didengar.
”Datang dan lihat sendiri, jangan hanya berdasarkan katanya,” pesannya.
Baca Juga: Kamera Wearable Makin Canggih, Insta360 Luna Pro Bisa Rekam Video Vertikal 4K Sambil Mengikuti Gerak
Pembahasan semakin luas ketika Iskandar Dzulkarnain memberikan pandangan mengenai posisi buku tersebut dalam melihat masyarakat Madura.
Menurutnya, karya Mahéng penting untuk menantang stereotipe lama tentang masyarakat Madura yang selama ini kerap dibentuk melalui perspektif kolonial.
Iskandar menilai kebudayaan Madura pada dasarnya tidak tumbuh dalam ruang tertutup.
Sejak dahulu, masyarakat Madura telah berinteraksi dengan berbagai kelompok dan kebudayaan lain.
Persilangan tersebut menjadi bagian dari perjalanan kebudayaan Madura.
Karena itu, keberadaan masyarakat dari berbagai latar belakang di Masalembu menunjukkan bahwa perjumpaan budaya bukan sesuatu yang asing.
”Dalam konteks ini, laut justru menjadi bagian dalam membentuk kehidupan masyarakat kepulauan. Laut tidak sekadar menjadi batas wilayah, tetapi juga jalur pertemuan manusia, kebudayaan, dan gagasan,” tegasnya.
Sementara itu, A. Dardiri Zubairi menegaskan, cerita tentang Masalembu tidak cukup berhenti pada persoalan identitas dan kebudayaan.
Ada persoalan pembangunan yang juga perlu mendapatkan perhatian.
Dia menyoroti pembangunan wilayah kepulauan yang masih cenderung berorientasi pada daratan.
Baca Juga: Puisi-puisi Moh. Riski Kohar
Padahal, karakteristik masyarakat kepulauan memiliki kebutuhan dan tantangan yang berbeda.
Persoalan akses kesehatan, ketersediaan listrik, lingkungan, hingga kebijakan pengelolaan sumber daya laut menjadi bagian dari pekerjaan yang perlu mendapat perhatian lebih serius.
Dengan begitu, buku Masalembu: Suara dari Laut Seberang tidak hanya menjadi sebuah buku perjalanan. Ia berkembang menjadi pintu masuk untuk melihat Masalembu dari jarak yang lebih dekat. (tif/bil)
Editor : Hera Marylia Damayanti