Memelihara Kuda, Merawat Tradisi: Dari Hobi Mampu Mendatangkan Rezeki

Amin Basiri • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 10:17 WIB
ATRAKTIF: Mulyadi saat melatih kudanya berdiri di Desa Matanair, Kecamatan Rubaru, Sumenep, .
ATRAKTIF: Mulyadi saat melatih kudanya berdiri di Desa Matanair, Kecamatan Rubaru, Sumenep, .

SUMENEP, RadarMadura – Kecintaan terhadap kuda bukan sekadar hobi bagi Mulyadi. Baginya, merawat dan memelihara kuda termasuk upaya menjaga tradisi masyarakat Madura.

Kecintaannya terhadap hewan bernama latin equus caballus tersebut diwariskan oleh pendahulunya.

Karena itu, pria yang berstatus sebagai aparatur sipil negara (ASN) tersebut memilih merawat kuda bersama komunitas Parjugha Jaran Serek.

Komunitas tersebut menjadi wadah bagi para pemilik dan pehobi kuda. Serta mempertahankan keberadaan jaran serek sebagai salah satu tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat. 

Setiap kali berkumpul, jumlah kuda yang hadir bahkan bisa mencapai lebih dari 50 ekor. Kuda-kuda tersebut tidak hanya berasal dari satu wilayah. Para pemiliknya datang dari berbagai daerah di Kabupaten Sumenep.

Pertemuan para pehobi itu menjadi kesempatan untuk saling berbagi pengalaman, terutama mengenai perawatan dan pelatihan kuda.

Pria yang menjabat sebagai Kasi Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja dan Olahraga pada Dinkes P2KB Sumenep itu tidak hanya menjadi pemilik kuda. Dia juga ikut melatih kuda bersama rekan-rekan sesama pehobi.

 Aktivitas itu memberikan pengalaman berharga, sebab setiap hewan memiliki karakter yang berbeda. ”Melatih dan merawat kuda ini ada seninya, saya memiliki lima kuda sekarang,” katanya. 

Mulyadi menyatakan, melatih kuda membutuhkan kesabaran. Sebab, kuda bukan hewan yang langsung dapat mengikuti perintah. Setiap kuda memiliki kemampuan memahami latihan yang berbeda-beda. 

”Ada yang gampang mengerti ketika dilatih, ada yang sulit,” jelasnya.

Dia mencontohkan kuda dengan manusia. Terdapat kuda yang cepat menangkap latihan, dan ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama. Karena itu, pendekatan yang diberikan kepada setiap kuda tidak selalu sama.

Menurutnya, jenis kuda yang banyak digunakan dalam kegiatan jaran serek adalah jenis sandel. Kuda tersebut berasal dari Sumbawa dan dikenal memiliki ketangguhan.

Meski demikian, posturnya cenderung tidak terlalu tinggi jika dibandingkan dengan kuda hasil persilangan.

”Kuda yang banyak kami gunakan umumnya jenis sandel dari Sumbawa. Tangguh kudanya, meskipun tidak terlalu tinggi dibandingkan kuda silangan,” ucapnya.

Keberadaan kuda juga tidak terlepas dari berbagai kegiatan masyarakat. Selain untuk pertunjukan jaran serek, kuda dapat digunakan untuk memeriahkan acara pernikahan, selamatan, maupun kegiatan lainnya. Hal itu membuat keberadaan pemilik kuda tetap memiliki nilai ekonomi.

Kuda memiliki nilai pasaran yang beragam. Harganya di kisaran Rp 30 juta hingga Rp 35 juta.

Sementara kuda yang sudah jadi dan siap digunakan bisa memiliki nilai jual yang cukup tinggi, yakni bisa mencapai Rp 90 juta.

Kuda peliharaan Mulyadi telah mampu menghasilkan uang. Yakni, dari sewa jasa saat tampil dalam berbagai acara.

 Tarif yang dikenakan minimal sekitar Rp 1 juta. Angka tersebut dapat bertambah sesuai jarak tempuh dan lokasi acara, terutama jika berada di luar daerah.

”Kalau untuk mengundang jaran serek, tarifnya minimal Rp 1 juta. Itu bergantung jauhnya perjalanan. Kalau ke luar daerah tentu bisa lebih,” ungkapnya. 

Kuda milik Mulyadi telah diberi nama atau julukan. Yakni, Prabu Siliwangi, Mahkota Agung, dan Putra Mahkota. Bagi dia, merawat dan melatih kuda bukan hanya soal nilai ekonomi.

Namun juga untuk mempertahankan hobi yang diwariskan orang tua sekaligus ikut menjaga tradisi jaran serek agar tetap dikenal dan diminati generasi berikutnya. (tif/jup) 

Editor : Amin Basiri
kuda sumenep hobi