SUMENEP, RadarMadura.id – Antrean panjang kembali terjadi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kabupaten Sumenep sejak awal Agustus. Kondisi tersebut dipicu stok BBM bersubsidi jenis Pertalite yang kerap habis di beberapa SPBU, terutama pada sore hingga malam hari.
Pantauan Jawa Pos Radar Madura, antrean kendaraan terlihat di sejumlah SPBU. Di antaranya SPBU Desa Kolor, Gedungan, Pamolokan, hingga Kalianget Barat. Bahkan, stok Pertalite di beberapa SPBU sudah habis sejak pagi hingga siang, sehingga antrean mengular saat pasokan kembali datang.
Salah seorang warga, Abema, mengaku kesulitan memperoleh BBM dalam beberapa hari terakhir. Dia mengaku telah mendatangi sejumlah SPBU di wilayah Kecamatan Kota Sumenep, namun stok Pertalite maupun Pertamax sama-sama kosong.
"Ada satu SPBU di Desa Kolor yang masih tersedia, tetapi antreannya sangat panjang," ujarnya.
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Setkab Sumenep Dadang Dedy Iskandar menegaskan, tidak ada pengurangan kuota BBM, baik bersubsidi maupun nonsubsidi. Menurut dia, antrean panjang bukan disebabkan kelangkaan stok, melainkan meningkatnya konsumsi Pertalite akibat peralihan pengguna dari Pertamax.
"Kuota untuk Kabupaten Sumenep tidak ada yang berubah. Memang setiap bulan besarannya bisa berbeda, tetapi tidak ada pengurangan kuota," katanya.
Dadang menjelaskan, penerapan sistem barcode dalam pembelian BBM bersubsidi juga menjadi salah satu penyebab antrean berlangsung lebih lama. Sistem tersebut diterapkan sebagai upaya memastikan penyaluran Pertalite tepat sasaran.
"Beberapa antrean di SPBU ini salah satunya karena peralihan pengguna dari Pertamax ke Pertalite. Selain itu juga karena pemberlakuan barcode untuk pembelian BBM bersubsidi, terutama kendaraan roda dua," ujarnya.
Dia menerangkan, setiap transaksi pembelian Pertalite senilai Rp 100 ribu harus melalui proses pemindaian barcode oleh petugas SPBU. Sementara untuk kendaraan roda empat, pembelian juga dibatasi maksimal sekitar 40 liter dalam satu kali transaksi.
Selain faktor peningkatan konsumsi dan penerapan barcode, keterlambatan distribusi BBM juga menjadi penyebab stok di sejumlah SPBU cepat habis. Saat ini, Pertamina mengoptimalkan distribusi BBM ke Madura dengan mengirim pasokan tidak hanya dari Terminal BBM Camplong, Sampang, tetapi juga dari Terminal BBM Perak, Surabaya.
"Karena jarak tempuhnya lebih jauh, pengiriman ke beberapa SPBU menjadi sedikit lebih lambat," jelasnya.
Pemkab Sumenep, lanjut Dadang, telah berkoordinasi dengan Pertamina untuk mengantisipasi keterlambatan distribusi tersebut. Salah satunya dengan menambah armada pengiriman dari Surabaya agar pasokan BBM ke SPBU kembali lancar.
"Secara pasti stok dan kuota aman. Antrean yang terjadi murni karena keterlambatan pengiriman," tandasnya. (tif/han)
Editor : Amin Basiri