Beranikan Diri Lompat ke Laut meski Tak Bisa Berenang, Cerita Edi Mulyadi dan Muhammad Disty Pratama, Korban Selamat Tragedi KM Mutiara Sentosa 2

Hera Marylia Damayanti • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 05:36 WIB
KORBAN SELAMAT: Edi Mulyadi menjalani perawatan di RSI Kalianget Sumenep, Senin (3/8). (MOH. LATIF/JPRM)
KORBAN SELAMAT: Edi Mulyadi menjalani perawatan di RSI Kalianget Sumenep, Senin (3/8). (MOH. LATIF/JPRM)

SUMENEP, RadarMadura.id – Kobaran api, kepulan asap, dan kepanikan penumpang menjadi pemandangan yang tak pernah dilupakan Edi Mulyadi.

Laut yang biasanya menjadi jalur perjalanan berubah menjadi medan perjuangan hidup bagi Edi Mulyadi.

Dia satu di antara ratusan penumpang selamat KM Mutiara Sentosa 2 yang karam di Perairan Sumenep pasca mengalami kebakaran di tengah laut.

Saat peristiwa itu terjadi, Edi dihadapkan dengan situasi yang serba kacau di atas kapal.

Baca Juga: Kejari Datangi Kantor Dinas PUPR Pamekasan, Sejumlah Ruangan Digeledah

Di kepalanya hanya ada satu angan-angan. Yaitu, bagaimana caranya bisa keluar dari kapal yang mulai dilalap si jago merah.

Tak ada satu pun barang yang dibawa bisa diselamatkan.

Sehingga, hanya pakaian yang melekat di tubuh menjadi satu-satunya yang tersisa setelah dia berhasil lolos kecelakaan laut yang mengancam maut tersebut.

Warga Garut, Jawa Barat, itu menceritakan, saat kebakaran terjadi Edi tengah tertidur lelap.

Dia terbangun setelah mengetahui kobaran api semakin membesar hingga ke atas kapal.

Baca Juga: Penyidik Bawa Komputer dan Dua Kardus Dokumen, Saat Geledah Kantor Dinas PUPR Pamekasan

Tanpa berpikir panjang, dia segera mengenakan pelampung, lalu memberanikan diri terjun ke laut meski sebenarnya tidak bisa berenang.

Dalam kepanikan itu, dia terus berusaha menyelamatkan diri sambil membaca salawat.

Edi tidak sendirian saat melompat dari kapal yang perlahan mulai karam itu. Dia bergandengan tangan dengan rekannya.

Mereka berusaha tetap bertahan di tengah laut hingga akhirnya mendapatkan pertolongan.

”Alhamdulillah saya bisa selamat,” ucapnya sambil bersyukur.

Bagi Edi, kejadian tersebut merupakan pengalaman pertama sekaligus meninggalkan kesan mendalam.

Sebab, perjalanan yang awalnya bertujuan untuk merantau justru harus berakhir dengan trauma.

Baca Juga: Prabowo Pimpin Akad Massal 62 Ribu Debitur FLPP, BRI Perkuat Pembiayaan Program 3 Juta Rumah

”Saya trauma dengan kejadian ini, gak mau lagi. Paling nanti jualan di Jawa Barat saja, di sekitar Karawang dan Bandung,” imbuhnya.

Peristiwa tersebut juga membuat Edi kehilangan sejumlah barang bawaannya. Tidak ada satu pun barang yang berhasil dia selamatkan.

Bahkan, hingga menjalani perawatan di RSI Kalianget Sumenep, dia belum bisa menghubungi keluarganya karena telepon genggam miliknya rusak setelah insiden itu.

TURUT PRIHATIN: Wabup Sumenep Imam Hasyim menjenguk korban tragedi KM Mutiara Sentosa 2 Muhammad Disty Ibnu Pratama di RSI Kalianget Sumenep, Senin (3/8). (MOH. LATIF/JPRM)
TURUT PRIHATIN: Wabup Sumenep Imam Hasyim menjenguk korban tragedi KM Mutiara Sentosa 2 Muhammad Disty Ibnu Pratama di RSI Kalianget Sumenep, Senin (3/8). (MOH. LATIF/JPRM)

Di balik cerita Edi, ada pula kisah lain dari orang-orang yang berada di atas KM Mutiara Sentosa 2.

Salah satunya Muhammad Disty Ibnu Pratama, anak buah kapal (ABK) yang baru sekitar sepekan bekerja di kapal yang melayani jalur SurabayaMakassar itu.

Saat kapal yang ditumpangi terbakar, Disty juga tengah tertidur. Kabar kebakaran mulai terdengar sekitar pukul 06.00 WIB.

Berdasar informasi yang diterimanya, sumber api berasal dari bagian bawah muatan, diduga dari mobil bunker yang membawa tiner.

Sebenarnya api sempat dipadamkan. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama, kobaran api kembali muncul dan perlahan meluas.

Para penumpang kemudian diminta bergerak ke bagian atas kapal untuk menyelamatkan diri.

Baca Juga: Pemotor Tabrakan di Suramadu, Nekat Masuk Jalur Kendaraan Roda Empat

Para penumpang diarahkan naik kebagian atas kapal untuk menyelamatkan diri. Juga diminta menggunakan jaket pelampung dan disuruh berkumpul di bagian depan kapal.

Dalam kondisi genting itu, Disty melihat adanya penumpang yang lebih dulu melompat ke laut sebelum instruksi resmi dari kapten diberikan. Beruntung, penumpang tersebut berhasil selamat.

Kini, setelah mendapatkan perawatan medis di RSI Kalianget, kondisi Disty berangsur membaik.

Berbeda dengan Edi yang mengaku masih menyimpan trauma, Disty mengaku tak trauma akibat kejadian tersebut. Keluarganya juga telah mengetahui musibah yang dialaminya.

”Sekarang kondisi sudah membaik. Saya tidak merasa trauma dengan kejadian ini. Keluarga sudah tahu,” tandasnya.

Bagi para korban, KM Mutiara Sentosa 2 bukan lagi sekadar kapal yang membawa mereka menuju tujuan.

Kapal itu menjadi bagian dari pengalaman yang akan terus mereka ingat, tentang api, laut, kepanikan, dan detik-detik keselamatan menjadi satu-satunya tujuan. (*/jup)

Editor : Hera Marylia Damayanti
KM Mutiara Sentosa 2 penumpang selamat kebakaran kecelakaan laut karam