SEGTA 2026 FTMM Unair Diapresiasi Warga Gili Iyang, Terbukti Memberikan Manfaat dan Perubahan Lingkungan

Amin Basiri • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 11:31 WIB
BERMANFAAT: Dosen Teknik Elektro FTMM Unair Yoga Uta Nugraha, S.T., M.T. (kiri) saat menjelaskan tentang pemanfaatan limbah plastik menjadi produk bernilai jual dalam kegiatan SEGTA 2026 di Pulau Gili Iyang, Kecamatan Dungkek, Sumenep, pada Jumat (31/7).
BERMANFAAT: Dosen Teknik Elektro FTMM Unair Yoga Uta Nugraha, S.T., M.T. (kiri) saat menjelaskan tentang pemanfaatan limbah plastik menjadi produk bernilai jual dalam kegiatan SEGTA 2026 di Pulau Gili Iyang, Kecamatan Dungkek, Sumenep, pada Jumat (31/7).

SUMENEP, RadarMadura.id – Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Universitas Airlangga (Unair) sukses menggelar program Sustainable Energy and Green Technology Applications (SEGTA) 2026 di Kabupaten Sumenep. 

Program pengabdian masyarakat (pengmas) berskala internasional itu dipusatkan di Pulau Gili Iyang, Kecamatan Dungkek, serta di SDN Marengan Daya 1 dan SDN Kertasada, Kecamatan Kalianget, pada Jumat (31/7).

  Kegiatan pengmas berskala internasional FTMM Unair dengan melibatkan peserta SEGTA 2026 di Sumenep itu berakhir Sabtu (1/8). Acaranya diisi dengan pertunjukan budaya (cultural performance) oleh para peserta SEGTA yang berasal dari 5 negara, yakni Malaysia, Tiongkok, Hongkong, Prancis, Pakistan. Semua peserta dan tamu undangan mengenakan busana nasional atau adat masing-masing.

      Kegiatan tersebut melibatkan 119 peserta, terdiri atas 21 staf dan 98 mahasiswa dari berbagai negara. Program SEGTA 2026 juga terintegrasi dengan Airlangga Community Development Hub sebagai bagian dari upaya mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). 

   Program ini secara khusus mendukung sejumlah poin utama. Mulai dari SDGs 1 pengentasan kemiskinan, SDGs 4 pendidikan berkualitas, SDGs 6 air bersih dan sanitasi layak, SDGs 7 energi bersih dan terjangkau. Serta SDGs 8, 9, 13, dan 17 yang berfokus pada pertumbuhan ekonomi, inovasi industri, aksi iklim, serta kemitraan global.

  Seluruh inovasi diarahkan untuk mendukung pembangunan masyarakat di Pulau Gili Iyang dan kawasan sekitarnya melalui penerapan teknologi yang ramah lingkungan. Pulau Gili Iyang dipilih sebagai lokasi pengabdian karena dikenal memiliki kadar oksigen yang sangat tinggi.

Sehingga, selaras dengan pengembangan teknologi hijau yang mengedepankan keberlanjutan lingkungan.

  Tokoh masyarakat Gili Iyang Ahyak Ulumuddin menyampaikan apresiasinya atas pelaksanaan SEGTA 2026. Menurutnya, berbagai inovasi yang diperkenalkan tim FTMM Unair memberikan manfaat nyata bagi masyarakat karena menjawab sejumlah persoalan yang dihadapi warga.

  "Teknologi yang dibawa sangat beragam dan cukup canggih. Salah satunya alat pengolah sampah plastik. Ini sangat bermanfaat untuk mengurangi limbah, serta membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat," ujarnya.

  Ahyak menyampaikan, hubungan FTMM Unair dengan masyarakat setempat telah terjalin selama beberapa tahun terakhir melalui berbagai program pengabdian. Menurutnya, setiap kegiatan yang dilaksanakan selalu memberikan manfaat nyata bagi warga. 

  "Kami berharap kerja sama ini tidak berhenti sampai di sini. Semakin banyak inovasi yang diterapkan, semakin besar pula manfaat yang bisa dirasakan masyarakat," pungkasnya.

Sementara itu, Ketua SEGTA 2026 FTMM Unair Yoga Uta Nugraha, S.T., M.T. mengatakan, pelaksanaan SEGTA 2026 dirancang tidak sekadar menjadi kegiatan pengabdian masyarakat. 

Tetapi, juga membangun kolaborasi jangka panjang antara perguruan tinggi, masyarakat, dan mitra internasional. 

Seluruh program yang dijalankan disusun berdasarkan kebutuhan riil masyarakat sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.

  "Sejak beberapa tahun terakhir FTMM Unair memang konsisten mendampingi masyarakat melalui berbagai program. Tahun ini kami membawa berbagai inovasi yang diharapkan mampu memberikan solusi nyata terhadap berbagai persoalan di masyarakat,” ujarnya.

  Uta menambahkan, keterlibatan peserta dari berbagai negara menjadi nilai tambah dalam pelaksanaan SEGTA 2026.

Menurutnya, kolaborasi internasional memungkinkan terjadinya pertukaran pengetahuan dan pengalaman sehingga inovasi yang diterapkan semakin relevan dengan tantangan pembangunan berkelanjutan.

  "FTMM Unair akan terus menjaga komunikasi dan pendampingan dengan masyarakat agar inovasi yang sudah diterapkan benar-benar dimanfaatkan secara optimal. Kami ingin Gili Iyang menjadi contoh penerapan teknologi hijau dan pengembangan masyarakat berbasis SDGs,” pungkasnya. (iqb/han)

Editor : Amin Basiri
FTMM Unair SEGTA 2026