SUMENEP, RadarMadura.id – Program pengabdian kepada masyarakat (pengmas) berskala internasional yang diselenggarakan Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Universitas Airlangga (UNAIR) melalui Sustainable Energy and Green Technology Applications (SEGTA) 2026 di Kabupaten Sumenep resmi ditutup pada Sabtu (1/8). Penutupan berlangsung meriah di Hotel Myze Sumenep.
Peserta SEGTA 2026 yang berasal dari Malaysia, Tiongkok, Hong Kong, Prancis, dan Pakistan menampilkan Cultural Performance pada acara penutupan.
Dalam pertunjukan tersebut, para peserta memperkenalkan budaya negara masing-masing melalui tarian, musik, pakaian adat, dan tradisi. FTMM UNAIR juga menampilkan kesenian Indonesia sebagai bagian dari pertukaran budaya sekaligus memperkenalkan keberagaman Nusantara kepada peserta internasional.
Sebelumnya, sebanyak 119 peserta SEGTA 2026 melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat di tiga lokasi, yakni Pulau Gili Iyang, SDN Marengan Daya I, dan SDN Kertasada. Penutupan kegiatan turut dihadiri perwakilan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep serta para mitra pelaksana.
Program SEGTA 2026 juga terintegrasi dengan Airlangga Community Development Hub sebagai bagian dari upaya mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Program tersebut secara khusus mendukung sejumlah tujuan SDGs.
Perinciannya meliputi SDGs 1 (Tanpa Kemiskinan), SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas), SDGs 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak), SDGs 7 (Energi Bersih dan Terjangkau), serta SDGs 8, 9, 13, dan 17 yang berfokus pada pertumbuhan ekonomi, inovasi industri, aksi terhadap perubahan iklim, dan kemitraan global.
Wakil Dekan III FTMM UNAIR Prastika Krisma Jiwanti, Ph.D., mengapresiasi dukungan seluruh pihak yang telah menyukseskan kegiatan tersebut. Menurutnya, SEGTA merupakan program akademik tahunan yang memadukan pembelajaran dengan pengembangan masyarakat melalui penerapan teknologi ramah lingkungan.
”Peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman teoretis, tetapi juga pengalaman langsung dalam memahami penerapan teknologi ramah lingkungan," ujarnya.
Prastika berharap pengalaman tersebut menjadi bekal bagi peserta untuk mengembangkan solusi inovatif yang berkelanjutan sekaligus memperkuat jejaring kolaborasi internasional di bidang pendidikan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat.
”Semoga program ini terus berkembang sebagai wadah pertukaran pengetahuan dan budaya yang memberikan manfaat bagi masyarakat maupun dunia akademik,” harapnya. (iqb/bil)
Editor : Anis Billah