Gembleng Siswa Pintar, Alim, dan Kreatif, Yayasan Nurul Islam Al Mannan Djasuli Padukan Ilmu Umum, Agama, dan Seni

Hera Marylia Damayanti • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 18:20 WIB
PEDULI: Kegiatan bakti sosial pembagian sembako dalam rangkaian Matamuda 2026. (DOKUMEN YAYASAN)
PEDULI: Kegiatan bakti sosial pembagian sembako dalam rangkaian Matamuda 2026. (DOKUMEN YAYASAN)

SUMENEP, RadarMadura.id – Usai menggelar Masa Taaruf Murid Madrasah (Matamuda) Yayasan Nurul Islam Al Mannan Djasuli Dasuk, Sumenep, kembali menegaskan komitmennya mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga kuat iman dan berjiwa seni.

Yayasan yang didirikan 1978 oleh KH Abdul Mannan Djasuli ini menaungi enam lembaga pendidikan.

Yakni, raudatul atfal (RA), madrasah ibtidaiyah (MI), madrasah tsanawiyah (MTs), madrasah aliyah (MA), madrasah diniyah (MD), dan pondok pesantren (ponpes).

”Visi kami jelas. Anak-anak harus pintar ilmu umum, alim ilmu agama, berakhlak mulia, dan kreatif. Tiga pilar itu tidak bisa dipisahkan,” ujar Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam KH. Abdul Basyid Mujib, Minggu (26/7).

KOMPAK: Guru dan siswa Yayasan Nurul Islam Al Mannan Djasuli mengikuti kirab budaya. (DOKUMEN YAYASAN)
KOMPAK: Guru dan siswa Yayasan Nurul Islam Al Mannan Djasuli mengikuti kirab budaya. (DOKUMEN YAYASAN)

Untuk mewujudkan visi itu, setiap jenjang memiliki program unggulan yang berbeda.

Di tingkat RA, anak-anak digembleng hafalan surah-surah pendek. Masuk MI, targetnya naik ke Tahfidz Al-Qur’an Juz 30. 

Jenjang MTs fokus pada Tahsinul Qur’an agar bacaan lebih tartil.

Sementara MA ditantang menghafal kitab nahwu-shorof klasik, Imrithi dan Alfiyah.

Pilar ilmu umum dipenuhi melalui pelajaran formal di madrasah. Adapun pilar seni dan karakter diasah lewat 7 ekstrakurikuler: Pramuka, seni bela diri, kajian kitab kuning, retorika 3 bahasa, olahraga, seni Hadrah Al Banjari, hingga penguasaan IT.

”Hadrah melatih kekompakan dan rasa seni. Retorika 3 bahasa melatih mental dan wawasan. IT wajib, karena santri juga harus melek zaman. Bela diri dan Pramuka untuk disiplin dan akhlak,” jelasnya.

KEAGAMAAN: Salat duha dan baca Al-Qur’an menjadi agenda rutin Yayasan Nurul Islam Al Mannan Djasuli tiap pagi. (DOKUMEN YAYASAN)
KEAGAMAAN: Salat duha dan baca Al-Qur’an menjadi agenda rutin Yayasan Nurul Islam Al Mannan Djasuli tiap pagi. (DOKUMEN YAYASAN)

Komitmen itu sudah berbuah prestasi. Santri binaan yayasan pernah menyabet Juara Tahfidz Al-Qur’an tingkat Madura, Juara Tahfidz tingkat Kabupaten Sumenep, serta Juara Baca Kitab tingkat Kabupaten Sumenep.

Anggota Pramuka juga telah membuktikan eksistensi dengan berbagai prestasi.

Bagi yayasan, trofi hanyalah bonus. Tujuan utama tetap membentuk insan kamil.

”Kami tidak ingin melahirkan robot hafalan atau juara lomba yang kering spiritual. Harus seimbang. Otaknya encer, hatinya bersih, tangannya terampil,” tegas Kiai Abdul Basyid.

Dengan kombinasi ilmu umum, agama, dan seni itu, Yayasan Nurul Islam Al Mannan Djasuli berharap lulusannya mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan akar pesantren.

DISIPLIN: Pramuka merupakan kegiatan ekstrakurikuler yang banyak digandrungi siswa Yayasan Nurul Islam Al Mannan Djasuli Dasuk. (DOKUMEN YAYASAN)
DISIPLIN: Pramuka merupakan kegiatan ekstrakurikuler yang banyak digandrungi siswa Yayasan Nurul Islam Al Mannan Djasuli Dasuk. (DOKUMEN YAYASAN)

”Anak Dasuk harus bisa bersaing di mana saja. Tapi tetap santun, tetap hafal Qur’an, dan tetap bisa menabuh hadrah,” imbuhnya.

Dia berharap santri di semua jenjang pendidikan semangat belajar. Matamuda merupakan pintu awal untuk memulai pembelajaran setahun ke depan.

”Dukungan dan kerja sama masyarakat, terutama wali murid berkontribusi besar terhadap kemajuan pendidikan,” pungkasnya. (*/luq)

Editor : Hera Marylia Damayanti
Yayasan Nurul Islam Al Mannan Djasuli Matamuda membentuk insan kamil Visi program unggulan