Dari Modal Rp 400 Ribu, BMT MU Jatim Kini Punya Aset Rp 1,5 T dengan Beragam Layanan dan Penghargaan

Amin Basiri • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 00:57 WIB
VISIONER: Dirut BMT NU Jatim Masyudi Kanzillah menerima penghargaan dari Gubernur Khofifah Indar Parawansa pada puncak acara Harkopnas 2026 di Pamekasan.
VISIONER: Dirut BMT NU Jatim Masyudi Kanzillah menerima penghargaan dari Gubernur Khofifah Indar Parawansa pada puncak acara Harkopnas 2026 di Pamekasan.

SUMENEP, RadarMadura.id – Di kawasan timur Madura, tepatnya di Kecamatan Gapura, Sumenep, hidup masyarakat dengan etos kerja tinggi.

Mereka terbiasa asapo’ angen abantal omba’ (berselimut angin dan berbantal ombak). Sebuah ungkapan yang menggambarkan kerja keras tanpa kenal lelah.

Ironisnya, hal itu tak selalu berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan. Kondisi inilah yang pada awal 2000-an menggugah keprihatinan pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Gapura, Sumenep.

Berbagai ikhtiar dilakukan, mulai dari pelatihan kewirausahaan pada April 2003 hingga lokakarya dan temu usaha sepanjang 2004.

Namun, satu masalah paling mendesak adalah ketergantungan pelaku usaha kecil pada rentenir dan bank harian. 

Berdasarkan data yang dihimpun saat itu, sedikitnya 3.311 pedagang kecil di wilayah Gapura dan sekitarnya terjerat pinjaman berbunga hingga 50 persen per bulan.

”Di sinilah kami merasa NU tidak boleh diam,” tutur Direktur Utama KSPPS BMT Nuansa Umat Jatim Masyudi Kanzillah yang saat itu menjabat ketua Lembaga Perekonomian NU MWCNU Gapura.

Dia kemudian menggagas pendirian BMT. Awalnya, trauma kegagalan koperasi di masa lalu membuat sebagian pengurus dan tokoh masyarakat waswas.

Namun, setelah melalui pembahasan panjang, pada Kamis, 1 Juli 2004, disepakati berdirinya BMT NU Gapura.

Perjalanan awal BMT NU Jatim jauh dari kata mudah. Dari 36 orang pendiri, hanya 17 orang yang benar-benar menyetor simpanan.

Modal awal yang terkumpul hanya Rp 400.000. Pengurus bekerja tanpa gaji, bahkan menanggung biaya operasional sendiri.

”Pelayanan dilakukan di pasar, di jalan, bahkan di rumah anggota. Administrasi kami kerjakan di rumah,” kenang Masyudi

Hingga akhir 2004, aset BMT NU Jatim baru mencapai Rp 2,1 juta, dengan laba bersih Rp 42 ribu.

Anggota pun belum genap 35 orang. Kondisi ini membuat pengurus berada di titik hampir menyerah.

Di tengah keputusasaan itulah, sebuah peristiwa tak terlupakan terjadi. Suatu pagi, empat ibu pedagang kecil yang terdiri atas penjual ikan, pembuat tikar, penjual bubur, dan soto menangis saat menerima pinjaman Rp 200 ribu dari BMT NU. 

”Mereka bilang, bukan sedih, tapi terharu. Baru kali ini merasa diperhatikan NU setelah bertahun-tahun terjerat rentenir,” tutur Masyudi dengan suara bergetar. Tangisan itu menjadi titik balik bahwa perjuangan ini harus dilanjutkan.

APRESIASI: Dirut BMT NU Jatim Masyudi Kanzillah menerima penghargaan dari menteri koperasi RI.
APRESIASI: Dirut BMT NU Jatim Masyudi Kanzillah menerima penghargaan dari menteri koperasi RI.

Sejak 2006, BMT NU Jatim mulai menunjukkan perkembangan signifikan. Aset meningkat, anggota bertambah, dan kepercayaan masyarakat tumbuh. Pada Desember 2006, aset mencapai lebih dari Rp 30 juta dengan 182 anggota.

Aset BMT NU hingga Juni 2026 mencapai Rp 1,56 triliun dan telah memiliki 116 kantor cabang di 12 kabupaten se-Jawa Timur. Meliputi Kabupaten Sumenep, Pamekasan, Sampang, Bangkalan, Probolinggo, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Trenggalek, dan Magetan. Jumlah anggota 234.564 orang, penabung 322.195 orang, dan 192.917 mitra.

Adapun penghimpunan dana maal (infak dan wakaf) hingga 2025 tembus Rp 12,2 miliar. Smentara penyaluran mencapai Rp 9,7 miliar.

Dana itu diwujudkan dalam berbagai kegiatan sosial. Antara lain 19 unit ambulans gratis, bantuan kepada 17.037 anak yatim dan duafa, 1.320 guru ngaji, serta 2.098 siswa berprestasi. 

Di bidang keagamaan dan lingkungan, BMT NU merehabilitasi 1.151 masjid/musala, membangun 6 musala baru, serta mewujudkan 517 kampung berseri sebagai upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Di sektor sosial, BMT NU juga merehabilitasi 34 rumah layak huni, membangun 31 unit MCK untuk masjid/musala. 

Seluruh ikhtiar ini menegaskan peran BMT NU sebagai lembaga keuangan syariah yang tidak hanya membangun ekonomi, tetapi juga menguatkan kemanusiaan dan keberkahan sosial.

Sesuai dengan salah satu cikal pendirian BMT NU, di samping untuk meningkatkan kemandirian ekonomi warga NU juga ditujukan dalam rangka meningkatkan kemandirian Nahdlatu Ulama secara jam’iyah.

Karena itu, 10 persen dari laba BMT NU dikonstribusikan untuk membantu perjuangan Nahdlatul Ulama di tingkat MWC NU dan PCNU yang berdiri BMT NU Cabang. 

Hingga Juni 2026, BMT NU juga telah mengucurkan dana pengembangan NU sebesar Rp 35,6 miliar. Di tahun 2025 saja, dana pengembangan NU mencapai Rp 6,4 miliar.

Perjalanan BMT NU semakin kokoh dengan berbagai pengakuan dan penghargaan nasional. Pada 2025, masuk 100 Koperasi Besar Terbaik Indonesia dan mengantarkan direktur utamanya pada 2014 mendapatkan penghargaan bhakti koperasi dari Presiden RI.

Pada 2025 sebagai tokoh Koperasi Penggerak pratama tingkat nasional, tahun 2026 sebagai Tokoh Penggerak Koperasi Syariah Nasional dan mendapatkan penghargaan dari gubernur Jawa Timur sebagai tokoh penggerak koperasi. 

Prestasi ini melanjutkan capaian 2024 sebagai Tokoh Penggerak Koperasi Pratama serta masuk 100 Tokoh Koperasi Indonesia. Bahkan, sejak 2012–2014, kiprah BMT NU mendapat apresiasi melalui Liputan 6 SCTV Award, MNCTV Pahlawan untuk Indonesia, serta Koperasi Berprestasi Nasional kategori Koperasi Simpan Pinjam dan KSP Award untuk pertumbuhan aset, keanggotaan, serta tata kelola keuangan terbaik.

Di tingkat Jawa Timur, sejumlah penghargaan diraih. Meliputi, juara I Koperasi Berkinerja Terbaik kategori KJKS (2010), juara II Koperasi Terbaik kategori KJK Konvensional–Syariah (2012), serta juara I Koperasi Berprestasi kategori Koperasi Simpan Pinjam (2014). Pengakuan internal NU juga diraih melalui PWNU Jatim Award 2019.

APRESIASI: Dirut BMT NU Jatim Masyudi Kanzillah menerima penghargaan dari dari MNCTV.
APRESIASI: Dirut BMT NU Jatim Masyudi Kanzillah menerima penghargaan dari dari MNCTV.

Pada 8 Maret 2011, BMT NU membentuk koperasi sektor riil dengan manajemen yang terpisah. Yakni Koperasi Syariah Nusa Umat. Kehadiran koperasi menjadi langkah strategis memperluas manfaat ekonomi langsung kepada masyarakat.

Hingga kini, koperasi telah mengelola sembilan unit swalayan dengan aset Rp 58 miliar yang tersebar di Kabupaten Sumenep, Pamekasan, dan Sampang.

Koperasi juga mengembangkan unit usaha lain seperti toko elektronik, gadget store, toko peralatan listrik, Graha Nuansa, hingga Nuansa Coffee.

BMT NU juga merespons kebutuhan spiritual anggotanya. Sejak 2018, BMT NU mulai melayani anggota yang hendak beribadah umrah.

Komitmen ini semakin diteguhkan dengan berdirinya Nuansa Umat Travelindo yang resmi memperoleh izin pada 18 Februari 2025.

Kini, Nuansa Umat Travelindo telah memberangkatkan 2.411 jamaah, serta mengembangkan layanan pendukung berupa sewa bus pariwisata.

Langkah ini menegaskan BMT NU Jatim bukan sekadar lembaga keuangan, melainkan ekosistem ekonomi dan pelayanan umat terintegrasi. Dari swalayan hingga travel umrah.

Seluruh unit usaha dirancang untuk satu tujuan besar: menghadirkan keberkahan ekonomi, kemudahan ibadah, dan kemaslahatan umat secara berkelanjutan serta meningkatkan kemandirian NU.

”BMT NU lahir bukan dari modal besar, tapi dari kepedulian, keikhlasan, dan air mata rakyat kecil. Selama masih ada masyarakat yang butuh pertolongan, kami akan terus berjalan,” tegas Masyudi. (*/luq)

Editor : Amin Basiri
BMTNU Jawa Timur MWCNU Gapura sumenep prestasi