SUMENEP, RadarMadura.id – Bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sulit didapatkan di Kabupaten Sumenep.
Pengguna kendaraan harus berkeliling ke beberapa stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) untuk mendapat BBM bersubsidi. Jika ada, harus mengantre panjang.
Faisal, warga Kecamatan Pragaan mengaku beberapa kali gagal mendapatkan BBM jenis pertalite saat ke SPBU.
Alasannya, stok habis. Bahkan, pihaknya harus mendatangi SPBU yang sama hingga tiga kali dalam sehari.
"Saat itu saya pagi-pagi mau ngisi pertalite, kata petugas kosong, kemudian sekitar pukul 10.00 WIB datang lagi, tapi masih juga kosong," katanya.
Hal serupa juga dialami Hafizd, warga asal Kecamatan Batang-Batang.
Pihaknya terpaksa mengisi bahan bakar kendaraan roda empatnya dengan BBM jenis pertamax karena stok pertalite habis.
"Kendaraan tua seperti ini diisi dengan pertamax,” katanya.
Kabag Perekonomian dan SDA Setkab Sumenep Dadang Dedy Iskandar menyatakan, kelangkaan BBM yang dialami sejumlah warga bukan disebabkan pengurangan kuota.
Ketersediaan dan skema distribusinya masih sesusai dengan yang ditetapkan Pertamina.
”Yang harus digarisbawahi, tidak ada pengurangan kuota, baik BBM bersubsidi maupun BBM nonsubsidi,” ucapnya.
Perbedaan jumlah alokasi BBM pada Juni dan Mei memang kerap menimbulkan kekeliruan persepsi.
Mei lalu terdapat tambahan kebutuhan karena bertepatan dengan momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN). Sehingga, distribusinya ditambah.
Perubahan pilihan bahan bakar juga menjadi faktor utama yang menyebabkan pertalite cepat habis di sejumlah SPBU.
Selisih harga yang cukup signifikan antara BBM subsidi dan nonsubsidi membuat banyak pengguna kendaraan memilih alternatif yang lebih terjangkau.
Perubahan pola konsumsi itu tidak hanya terjadi pada kendaraan pribadi. Tetapi, juga terjadi pada kendaraan niaga yang berupaya mengurangi beban biaya operasional.
”Dampaknya, distribusi pertalite dan bio solar di sejumlah titik pengisian menjadi lebih cepat terserap dibandingkan perkiraan normal,” katanya.
Kondisi tersebut kemudian memunculkan antrean kendaraan yang lebih panjang.
Pihaknya memastikan stok BBM secara umum tetap tersedia dan distribusi tetap berjalan sesuai mekanisme yang berlaku.
Pihaknya mengaku terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memantau perkembangan konsumsi BBM di lapangan guna mengantisipasi potensi gangguan distribusi.
"Karena adanya kenaikan harga, masyarakat yang biasanya menggunakan pertamax akhirnya beralih ke BBM subsidi. Makanya, BBM subsidi menjadi lebih cepat habis," tandasnya. (tif/jup)
Editor : Hera Marylia Damayanti