SUMENEP, RadarMadura.id – Yayasan Nurul Islam Al Mannan Djazuli kembali menggelar rangkaian haflah akhirussanah.
Rangkaian haflah akhirussanah tahun ini bersamaan dengan dan Haul Ke-48 Masyayikh. Kegiatan tersebut digelar pada 10 hingga 28 Juni 2026.
Seluruh kegiatan dipusatkan di lingkungan yayasan di Dusun Barakma, Desa Dasuk Laok, Kecamatan Dasuk, Sumenep.
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam KH. Abdul Basyid Mujib menjelaskan, rangkaian acara tahun ini dirancang untuk mensyukuri proses pendidikan selama setahun.
Acara dibuka dengan pelatihan kepenulisan untuk santri MTs dan MA pada 10 Juni 2026.
Baca Juga: Aliansi Jurnalis Sampang Berbagi Kebahagiaan Bersama Anak Yatim
Pelatihan ini menyasar kemampuan literasi santri agar mampu menuangkan gagasan secara runtut dan ilmiah dengan menghadirkan narasumber kompeten.
Lima hari berselang, tepatnya 15 Juni 2026, yayasan yang berdiri 1978 itu menggelar Tapak Tilas KH Abdul Mannan Djazuli. Rute tapak tilas menyusuri jejak perjuangan pendiri yayasan.
KH. Abdul Basyid Mujib berharap melalui tapak tilas, santri dapat meneladani sosok pendiri dalam keikhlasan, kesederhanaan, dan semangat mengabdi.
Memasuki pekan ketiga Juni, suasana pondok semakin semarak. Semarak lomba berlangsung 19–26 Juni 2026.
Berbagai cabang lomba digelar, mulai lomba keagamaan, akademik, hingga keterampilan. Lomba diikuti seluruh santri dari jenjang RA hingga MA.
Puncak kreasi seni ditampilkan pada 27 Juni 2026 melalui Pentas Seni.
Tahun ini pentas mengangkat cerita Arya Wiraja yang sarat nilai sejarah dan budaya Sumenep.
Tanggal 28 Juni 2026 menjadi hari puncak seluruh rangkaian. Empat agenda besar digelar berurutan sejak pagi hingga malam.
Agenda pertama adalah Pawai Budaya. Santri tampil dengan kostum adat dan atribut bernuansa islami-Madura.
Haul Ke-48 Masyayikh juga digelar 28 Juni 2026 untuk mendoakan para masyayikh dan pendiri yayasan.
Ribuan alumni, wali santri, dan masyarakat diprediksi hadir memadati halaman pondok untuk tahlil dan doa bersama.
Prosesi wisuda santri dilangsungkan pada hari yang sama. Wisuda menjadi simbol berakhirnya masa studi formal di bawah naungan yayasan.
Para wisudawan dilepas dengan harapan menjadi generasi yang berakhlak dan berilmu.
Penutup rangkaian adalah pengajian umum pada Minggu (28/6) malam. Majelis akbar ini menghadirkan ulama karismatik sebagai penceramah.
Pengajian terbuka untuk umum dan menjadi magnet bagi jemaah dari berbagai daerah di Madura.
Yayasan Nurul Islam Al Mannan Djazuli menaungi enam lembaga pendidikan.
Mulai dari raudatul atfal (RA), madrasah ibtidaiyah (MI), madrasah tsanawiyah (MTs), madrasah aliyah (MA), madrasah diniyah (MD), hingga pondok pesantren.
KH. Abdul Basyid Mujib menegaskan, seluruh rangkaian bukan sekadar seremoni.
Pihaknya ingin menanamkan spirit perjuangan para masyayikh kepada santri.
Dengan meneladani pendiri, diharapkan tidak melupakan asal dan jasanya sekaligus jadi pijakan santri untuk menatap masa depan lebih cemerlang.
”Terima kasih atas kepercayaan masyarakat. Semoga ilmu yang diperoleh santri barokah dan jadi bekal dunia akhirat,” pungkasnya. (luq)
Editor : Hera Marylia Damayanti