Film pendek bergender horror budaya itu tidak hanya menghadirkan terror, tetapi juga membawa pesan tentang pentingnya menjaga adab dan menghormati kearifan lokal di tengah perkembangan zaman.
Film tersebut diproduksi oleh Rawikara Pictures bersama FTM24 Solidarity. Bisikan Luhur mengangkat kisah sekolompok mahasiswa yang datang ke sebuah desa dengan pola pikir modern.
Namun, sikap mereka yang mengabaikan aturan adat dan tidak menghargai nasihat para tetua justru memicu berbagai kejadian mistis yang menghantui mereka.
Sutradara film, Nufri Qolbi Haqiqi menjelaskan, bahwa pemilihan genre horror menjadi media untuk menyampaikan kritik sosial kepada generasi muda ini merupakan strategi menyampaikan pesan krusial tentang adab dengan cara yang lebih diterima oleh generasi Z.
Menurutnya, kemajuan teknologi dan arus modernisasi tidak seharusnya membuat seseorang melipakan nilai budaya, sopan santin, serta identitas daerah yang telah diwariskan secara turun-temurun.
”Lewat film ini kita ingin memberikan refleksi bahwa dimanapun kita berada, adab dan tata kelola krama harus tetap menjadi fondasi utama,” terangnya
Ia menegaskan, film tersebut juga ingin menunjukkan bahwa budaya Madura dan nilai keagamaan dapat berjalan berdampingan secara harmonis. Melalui cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat, penonton diajak untuk merenungkan kembali pentingnya tata krama saat berada di lingkungan mana pun.
”Film ini menjadi pembuktian bahwa kreativitas sineas daerah mampu menghasilkan karya sinematik yang tidak kalah dengan produksi professional. Ini merupakan langkah lanjutan bagi mahasiswa Uniba Madura setelah sebelumnya sukses memproduksi film Sangkilan Kona,” jelasnya.
Dia menambahkan, film pendek tersebut dijadwalkan akan segera tayang dalam waktu dekat untuk menyapa para pecinta film, akademisi, dan komunitas perfilman nasional.
Untuk diketahui, selain Nufri Qolbi Haqiqi sebagai sutradara, film ini juha dibintangi olah talenta muda berbakat. Diantaranya Ria Natalia, Alfin Maghfiroh, Yowanda, M. Rusly Al-Farodis.
Sedangkan urusan ketajaman cerita dan scenario digarap secara kolaboratif oleh tim penulis yang terdiri dari Andra Prasetyo Darmawan, Alfin Magfiroh, dan Ludianto. (tif)
Editor : Amin Basiri