
SUMENEP, RadarMadura.id – Suasana di Pondok Pesantren Mathali'ul Anwar (PPMA) Pangarangan, Sumenep, lebih ramai dibandingkan biasanya.
Para alumni beserta keluarga mendatangi ponpes yang beralamat di Desa Pangarangan, Kecamatan Kota itu.
Tamu yang datang silih berganti untuk bertakziah atas wafatnya KH Moh. Said Abdullah, yang merupakan pengasuh PPMA Pangarangan.
Putra Kiai Abdullah bin Husein itu wafat pada Selasa (9/6) malam.
Baca Juga: Tergugat Tolak Pencabutan Gugatan Perdata, Kasus Dugaan Penipuan Umrah PT ABW Masih Bergulir
Sebelum tutup usia, KH Moh. Said Abdullah sempat dibawa ke fasilitas kesehatan untuk menjalani pemeriksaan.
Sebab, KH Moh. Said Abdullah mengidap stroke sejak 2008. Penyakit yang diderita itu sempat sembuh. Tetapi, kembali kambuh pada 2024 lalu.
Kabar duka wafatnya KH Moh. Said Abdullah membuat santri dan alumni kehilangan.
Sebab, pemuka agama kelahiran 1953 itu dikenal sebagai sosok yang memiliki kharisma kuat.
Juga dikenal sebagai pengasuh yang sabar dan telaten dalam mendidik santrinya.
Jenazah KH Moh. Said Abdullah dikebumikan di kompleks pemakaman keluarga PPMA, Rabu (10/6).
KH Moh. Said Abdullah merupakan penerus perjuangan pendidikan pesantren yang dirintis ayahandanya, KH Abdullah bin Husain.
Berdasarkan catatan sejarah pesantren, PPMA berdiri sekitar 1930 atau 1933. Estafet kepemimpinan di ponpes itu diserahkan ke KH Moh. Said Abdullah pada 1985.
Suami Hj Shofiyah Aliwafa itu merupakan anak kelima dari tujuh bersaudara. Dia memiliki lima anak.
Yakni Moh. Saifa Ebidillah, Zahairah Munfi'ah (almh), Saivia amatillah, Moh. Saifa Ibadillah, dan Moh. Saifa Abudillah.
KH Moh. Said Abdullah tercatat pernah menimba ilmu agama di berbagai tempat. Mulai dari tanah Madura hingga Arab.
Sedangkan guru yang dijadikan tempat menempa bukan bertumpu pada satu orang, melainkan banyak guru yang dijadikan tempat untuk belajar.
Moh. Saifa Ebidillah selaku putra pertama KH Moh. Said Abdullah menyatakan, ayahandanya merupakan sosok penting bagi dirinya.
Karena sering mengajarkan dan membimbing dirinya untuk terus memegang ilmu agama dengan sebaik mungkin.
”Saya sangat kehilangan sosok Abah. Beliau selalu mengingatkan kepada saya untuk beribadah dengan baik,” katanya sambil meneteskan air mata.
Pihaknya pernah bekerja di luar Kota Keris. Namun, dirinya diingatkan ayahandanya agar tidak tergila-gila mengejar duniawi.
Sehingga, dirinya pulang dan fokus mengelola pondok pesantren.
”Abah menitip pondok agar saya mengajar santri. Abah juga berpesan, jika memperjuangkan ilmu Allah tidak akan dipersulit urusan dunia,” imbuhnya.
Di tempat yang sama, Moh. Saifa Ibadillah yang merupakan anak keempat KH Moh. Said Abdullah menyatakan ayahandanya sudah lama sakit.
Namun, meski kesehatannya terganggu, tetap memaksakan diri mengajar santri.
”Saat stroke ringan, beliau tetap mengajar santri,” katanya.
Selama hidup, KH Moh. Said Abdullah sering mengingatkan kepada putra dan putrinya agar tidak meninggalkan salat. Juga memerintahkan untuk rajin mengaji.
”Kami ditekankan agar menjaga salat lima waktu, zikir, dan sering mengaji. Dan, harus selalu ikhlas mengajar santri,” imbuhnya. (*/jup)
Editor : Hera Marylia Damayanti