Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Lesbumi PCNU Sumenep Gelar Malem Salekoran, Perkuat Ekosistem Kesenian di Kota Keris

Ina Herdiyana • Senin, 8 Juni 2026 | 20:15 WIB
GUYUB: Dari kiri, Tenaga Ahli Bupati Bidang IPTEK dan Kebudayaan Ibnu Hajar, Ketua PCNU Sumenep KH Md Widadi Rahim, dan Maniro AF mengisi acara Malem Salekoran di lantai II Kantor PCNU Sumenep, Minggu (7/6).
GUYUB: Dari kiri, Tenaga Ahli Bupati Bidang IPTEK dan Kebudayaan Ibnu Hajar, Ketua PCNU Sumenep KH Md Widadi Rahim, dan Maniro AF mengisi acara Malem Salekoran di lantai II Kantor PCNU Sumenep, Minggu (7/6).

SUMENEP – Lesbumi PCNU Sumenep menggelar Malem Salekoran bertema Titik Koma Kesenian Sumenep di lantai II Kantor PCNU Sumenep, Minggu (7/6).

Kegiatan rutinan setiap tanggal 21 Hijriah itu menjadi platform untuk membedah dinamika kesenian dan kebudayaan di Kabupaten Sumenep.

Hadir Ketua PCNU Sumenep KH Md Widadi Rahim serta Tenaga Ahli Bupati Bidang IPTEK dan Kebudayaan Ibnu Hajar sebagai narasumber.

Baca Juga: KONI Sumenep Ingatkan Cabor Intens Bina Atlet

Kiai Widadi menilai perkembangan kesenian di Sumenep bergerak melalui komunitas yang berjalan secara organik.

"Kita melihat kesenian di Sumenep ini kadang masih berjalan di ruang masing-masing. Seni rupa punya jalannya sendiri, sastra sendiri, komunitas lain juga begitu. Padahal kalau dirangkul bersama, dampaknya akan lebih besar," paparnya.

Berangkat dari perspektif Nahdlatul Ulama (NU), Kiai Widadi memandang kesenian tidak hanya sarana ekspresi. Lebih dari itu, juga dapat menjadi media dakwah untuk mengusung nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah atau Aswaja.

"Kesenian bagi NU menjadi panggung dakwah untuk menyampaikan nilai-nilai Aswaja dengan cara yang lebih dekat dengan masyarakat," ujarnya.

Baca Juga: Inkai Bakal Gelar Gashuku, Dijadwalkan Tiga Hari di WTC Jombang

Ibnu Hajar menyampaikan, perkembangan dan dinamika kesenian dan kebudayaan di Sumenep tidak bisa lepaskan dari tradisi pesantren yang selama ini menjadi salah satu penyangga kehidupan budaya di Kota Keris.

"Kalau bicara kesenian Sumenep, kita tidak bisa memisahkannya dari pesantren. Banyak dinamika kebudayaan di daerah ini lahir dan tumbuh dari tradisi pesantren," kata Ibnu.

Ibnu juga menceritakan dibentuknya Lesbumi di Sumenep. Menurut dia, gerakan tersebut memiliki keterkaitan dengan aktivitas Jaringan Seniman Sumenep (JSS) yang pada masanya menjadi ruang berkumpul para pegiat seni dan budaya.

"Dulu ada ruang yang mempertemukan para seniman, salah satunya JSS. Dari situ kemudian lahir semangat yang ikut menjadi bagian dari tumbuhnya Lesbumi di Sumenep," jelasnya.

Baca Juga: Proyek Jalan Bulangan Barat-Tlagah Belum Digarap

Dia menyinggung perjalanan Lesbumi pada masa kepemimpinan Ketua PCNU Sumenep Kiai Ilyasi Siradj.

Lesbumi disebut pernah melahirkan buku antologi puisi Kampung Indonesia Pasca Kerusuhan yang dieterbitkan LKiS.

Sastrawan angkatan 1990-an itu mengajak Lesbumi Sumenep agar tidak berhenti pada forum kegiatan seremonial semata, tetapi juga bergerak secara substantif.

Dia mengibaratkan Lesbumi seperti seorang koki yang tinggal mengolah kembali warisan para seniman sebelumnya.

Baca Juga: Perkuat Pengetahuan Berbasis Keislaman, FKis UTM Launching Tiga Program di Momentum Milad Ke-12

"Lesbumi ini seperti koki, bumbunya sudah disiapkan para pendahulu. Tinggal bagaimana diolah menjadi sesuatu yang relevan dengan kebutuhan hari ini," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Lesumi PCNU Sumenep Moh Junaidi mengatakan, apa yang disampaikan dua narasumber di atas akan menjadi catatan penting. Terutama untuk merealisasikan berbagai program yang sudah dibentuk.

“Itu spirit dan perspektif yang harus kami terima sebagai catatan bagaimana Lesbumi akan berjalan ke depan,” ungkapnya.

Dia menegaskan, bahwa kesenian dan kebudayaan itu tidak melulu perkara tontonan semata. Melainkan juga menjadi ruang poduksi ide, gagasan, dan kekaryaan.

Baca Juga: BRImo Dukung QRIS Cross Border di China, Belanja Tanpa Tukar Uang Tunai Jadi Lebih Praktis

Karena itu, tugas Lesbumi, kata dia adalah memosisikan diri sebagai fasilitator. Tujuannya, turut mengintervensi ekosistem kesenian dan kebudayaan yang tidak hanya bertumpu pada panggung dan pertunjukan semata.

Makanya, Malem Salekoran ini, sebagai warisan dari kepengurusan Lesbumi sebelumnya tetap kami adopsi. Tertama sebagai bagian dari proses transfer pengetahun,” pungkasnya. 

Editor : Ina Herdiyana
#dorong kolaborasi #penguat ekosistem #lesbumi #PCNU Sumenep #kesenian