SUMENEP, RadarMadura.id – Keluhan terhadap program makan bergizi gratis (MBG) di Kabupaten Sumenep juga terjadi di Kecamatan Batang-Batang.
Kali ini keluhan datang dari penerima manfaat yang dilayani Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Batang-Batang Daya di bawah naungan Yayasan Bakti Bunda Berjaya.
Keluhan itu disampaikan karena makanan yang disalurkan ke sekolah beberapa kali diduga tidak layak konsumsi.
Mulai ditemukan ulat, makanan beraroma tak sedap, hingga penyajian menu yang dinilai tidak memenuhi standar gizi.
Dapur MBG yang berlokasi di Dusun Taroman, Desa Batang-Batang Daya, Kecamatan Batang-Batang, itu disebut sudah beberapa kali menyalurkan makanan bermasalah.
Berdasarkan catatan yang dihimpun Jawa Pos Radar Madura, temuan tersebut meliputi selada berulat pada Senin (2/2), lauk ayam basi pada Rabu (8/4), serta nasi berulat pada Rabu (22/4).
Keluhan terbaru muncul pada penyaluran menu pada Selasa (5/5). Kali ini, siswa mempertanyakan ukuran buah pisang yang diterima karena tidak seragam.
Dalam satu paket MBG, ada pisang berukuran kecil hingga besar sehingga dinilai tidak sesuai standar porsi.
”Saya kira dapur ini sudah tiga kali menyalurkan makanan tidak layak konsumsi dan satu kali menyalurkan menu yang tidak layak disebut makanan bergizi. Terakhir anak-anak mempertanyakan ukuran pisangnya yang berbeda-beda,” ujar salah seorang guru di sekolah penerima manfaat di Desa Kolpo, Kecamatan Batang-Batang, yang enggan disebutkan namanya.
Menurut dia, pihak sekolah telah beberapa kali menyampaikan keluhan kepada Kepala SPPG Batang-Batang Daya Zainuddin. Namun, persoalan serupa terus berulang.
”Saya rasa dapur ini sudah tidak layak beroperasi lagi dan harus di-suspend permanen,” tegasnya.
Dia mengaku khawatir apabila makanan bermasalah tersebut telanjur dikonsumsi siswa tanpa diketahui pihak sekolah.
Apalagi, temuan ulat dalam makanan dinilai sangat membahayakan kesehatan siswa.
Baca Juga: Keluarkan Aroma Tak Sedap, Wali Murid Protes Menu MBG dari SPPG Sumenep Dungkek Candi Basi
”Bagaimana kalau makanan berulat itu telanjur dimakan siswa dan kami tidak mengetahuinya?” keluhnya.
Karena itu, dia berharap Badan Gizi Nasional (BGN) bersama satuan tugas yang membawahi operasional dapur MBG segera turun tangan melakukan evaluasi.
”Harus ada evaluasi tegas, termasuk kemungkinan penghentian operasional dapur apabila kejadian serupa terus berulang,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala SPPG Batang-Batang Daya Zainuddin belum memberikan keterangan. Saat dihubungi melalui nomor telepon yang biasa digunakan, yang bersangkutan tidak merespons. (tif/han)
Editor : Hera Marylia Damayanti