Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

PP Nurul Islam: Tampilkan Wajah Pesantren yang Bersih dan Melek Teknologi

Amin Basiri • Selasa, 24 Maret 2026 | 06:24 WIB
BERWIBAWA: Ketua Yayasan Pondok Pesantren Nurul Islam KH Ilyas Siraj saat menyampaikan sambutan dalam acara Pondok Ramadan.
BERWIBAWA: Ketua Yayasan Pondok Pesantren Nurul Islam KH Ilyas Siraj saat menyampaikan sambutan dalam acara Pondok Ramadan.

SUMENEP, RadarMadura.id -  Hamparan halaman yang bersih, bangunan yang tertata rapi, serta layar videotron yang menampilkan informasi digital menyambut siapa saja yang memasuki kawasan Pesantren Nurul Islam di Desa Karangcampaka, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep.

Lingkungan pesantren itu tampak asri dan terawat, jauh dari kesan kumuh yang kerap dilekatkan pada sebagian pesantren.

Sentuhan teknologi modern yang berpadu dengan suasana religius membuat pesantren tersebut menghadirkan wajah baru lembaga pendidikan berbasis pesantren yang bersih, tertata, dan mengikuti perkembangan zaman.

"Kami ingin menggeser image orang tentang pesantren", kata Ketua Yayasan Ponpes Nurul Islam KH Ilyas Siraj membuka percakapan.

Ponpes Nurul Islam berupaya mengubah pandangan sebagian masyarakat yang selama ini menilai pesantren identik dengan lingkungan yang kurang bersih, kampungan, dan terkesan tertinggal dalam perkembangan teknologi.

KH Ilyas Siraj menyadari, stigma itu tidak sepenuhnya keliru. 

Tapi, Ponpes Nurul Islam memilih menjawabnya melalui tindakan nyata, bukan sekadar pernyataan atau penjelasan secara verbal. 

”Image itu barangkali ada benarnya, tapi kami coba menjawab dan mencoba tampil estetis, bukan hanya sekadar bersih. Kampungan kan erat hubungannya dengan gaptek, kami berusaha menjawab bahwa image itu tidak selamanya benar dan kami sudah bergeser dan berusaha menjawab tantangan", lanjutnya. 

Salah satu langkah yang dilakukan adalah dengan menghadirkan lingkungan pesantren yang lebih bersih, tertata, dan memiliki nilai estetika.

Upaya itu dilakukan untuk memberikan kesan berbeda bagi masyarakat yang berkunjung ke pesantren.

Menurutnya, citra pesantren yang dianggap kampungan juga sering melekat, karena memang banyak pesantren yang berdiri di wilayah pedesaan atau pelosok.

Namun, yang menjadi masalah, kesan kampungan kerap dikaitkan dengan kondisi yang jorok, tidak estetis, serta tertinggal dalam penguasaan teknologi. 

Sebab itu, Nurul Islam berusaha membuktikan bahwa pandangan itu tidak selalu benar.

Selain menjaga kebersihan dan estetika lingkungan, kami juga mendorong penguasaan teknologi di kalangan santri.

Salah satunya adalah pemanfaatan teknologi digital dalam berbagai kegiatan pesantren, katanya.

Ponpes Nurul Islam bahkan memiliki videotron sendiri yang digunakan untuk berbagai keperluan informasi dan kegiatan.

Tidak hanya memiliki perangkatnya, pengelolaan teknologi tersebut juga dilakukan secara mandiri oleh para santri.

Santri terlibat sebagai teknisi, programer, hingga operator dalam pengoperasian videotron.

Selain itu, para santri juga memproduksi berbagai konten digital, termasuk konten yang ditayangkan melalui kanal resmi pesantren seperti YouTube, TikTok, Instagram, dan Facebook dengan akun Nuriska.id.

Selain itu, berbagai tampilan digital seperti video outdoor dan running text di semua area lingkungan pesantren juga dirancang dan diprogram oleh santri sendiri.

Jika terjadi gangguan pada perangkat, perbaikan juga dilakukan secara mandiri oleh tim santri yang telah terlatih.

Ada nggak pesantren yang punya videotron sendiri. Boleh jadi ada, tapi apakah ia juga teknisi, programer dan operator sendiri, kami bukan hanya punya, bahkan lengkap dan semuanya dari kalangan santri, jelasnya.

KH Ilyas Siraj menuturkan, digitalisasi telah menjadi bagian dari kebijakan di lingkungan Ponpes Nurul Islam.

Salah satu penerapannya adalah dalam penyelenggaraan acara yang tidak lagi menggunakan banner sebagai latar belakang, tetapi harus memanfaatkan tampilan digital.

Digitalisasi ini kami juga jadikan sebagai standar operasional prosedur (SOP) dalam setiap kegiatan pesantren, tidak boleh ada kegiatan yang masih menggunakan banner, katanya.

Dia menambahkan, melalui berbagai inovasi itu, Ponpes Nurul Islam berupaya menunjukkan bahwa lembaga pendidikan berbasis pesantren sangat mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Selain itu juga guna mengubah stigma negatif yang selama ini melekat di sebagian masyarakat. (tif/han)

Editor : Amin Basiri
#nurul islam #sumenep #pesantren