SUMENEP, RadarMadura.id - Hasil produksi mesin refuse derived fuel (RDF) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumenep tidak maksimal.
Indikasinya, saat beroperasi, mesin tersebut hanya bisa mengolah sampah sebanyak dua ton.
Kepala UPT Pengelolaan Sampah DLH Sumenep Achmad Junaidi mengakui bahwa hasil produksi mesin tersebut tidak maksimal.
"Salah satu pemicunya, jadwal operasional dan jumlah sumber daya manusia (SDM) terbatas. Hanya menghasilkan dua ton', katanya.
Junaidi menuturkan, institusinya berencana melakukan pengembangan dan penambahan SDM.
Sehingga, jadwal operasional dapat lebih teratur dan hasil produksi kian meningkat. "Nanti akan ada penambahan alat", tuturnya.
Dijelaskan, Pemkab Sumenep telah menandatangani perjanjian kerja sama (PKS) dengan PT Solusi Bangun Indonesia (SBI).
"Sejak awal beroperasi, kami baru mengirim 24 ton RDF ke PT SBI", imbuhnya.
Dikonfirmasi di tempat terpisah, Ketua Komisi III DPRD Sumenep M. Muhri mengingatkan agar penggunaan mesin pengolah sampah senilai Rp 2,8 miliar itu harus dimaksimalkan.
Harus memberikan kontribusi nyata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Selain mengatasi persoalan sampah, tujuan DLH membeli alat itu kan untuk meningkatkan pendapatan daerah. "Karena itu, produksinya harus maksimal", tandasnya. (tif/yan)
Editor : Amin Basiri