GILI IYANG
SUMENEP, RadarMadura.id -Tumpahan minyak mentah kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) di pesisir Pulau Gili Iyang, Kecamatan Dungkek, Sumenep, berdampak pada aktivitas nelayan setempat.
Mereka harus pindah lokasi pencarian ikan sekitar dua mil dari titik lokasi kejadian.
Hingga sekarang proses penyedotan CPO yang tumpah belum tuntas. Kapal tongkang Indo Ocean Marine juga belum dievakuasi dari lokasi kejadian.
Kabid Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup DLH Sumenep Mohammad Yunianto mengatakan, proses pembersihan di area pantai melibatkan warga setempat.
Sementara di area lepas pantai, pembersihan dilakukan sendiri oleh perusahaan pemilik kapal.
Hingga sekarang, proses pembersihan sudah berjalan sekitar 15 hari, katanya kemarin (9/2).
Dia mengutarakan, kapal tongkang Indo Ocean Marine belum dievakuasi dari lokasi kejadian.
Menurutnya, saat ini kapal tengah diperbaiki karena mengalami kebocoran. "Belum dievakuasi, masih diperbaiki kebocorannya", tuturnya.
Tumpahan minyak mentah tersebut tidak hanya mencemari perairan Gili Iyang. Berdasarkan data DLH Sumenep, tumpahan minyak menyebar hingga ke wilayah lain, seperti Pantai Pulau Sapudi dan Pulau Raas.
Yunian menyebut, proses pembersihan CPO di dua pulau tersebut sudah tuntas.
"Kalau yang di Sapudi dan Raas sudah tuntas proses pembersihannya. Saat ini hanya tinggal yang di Pulau Gili Iyang", ungkapnya.
Dia menuturkan, hasil penelitian terhadap tumpahan minyak juga belum keluar.
Yunian mengaku belum mengetahui dampak lingkungan yang ditimbulkan akibat peristiwa tersebut.
Tapi, berdasarkan pantauan sementara, DLH menyebut tumpahan minyak itu tidak berdampak signifikan terhadap lingkungan.
"Kami ke sana bawa tim penyelam. Sementara belum berdampak karena minyaknya mengambang tidak turun ke bawah", tandasnya.
Editor : Amin Basiri