SUMENEP, RadarMadura.id – Pendirian BMT NU tidak mudah. Pada masa-masa awal menghadapi beragam tantangan. Namun, BMT NU berhasil menunjukkan eksistensi dengan berbagai gerakan, program, dan prestasi.
Masyudi Kanzillah selaku ketua lembaga perekonomian MWCNU pada 2004 menawarkan gagasan untuk mendirikan Baitul Maal wat Tamwil (BMT). Tujuan pendirian BMT sebagai lembaga keuangan mikro syariah yang bergerak di bidang usaha simpan pinjam.
Gagasan ini berangkat dari keprihatinan kian merajalelanya praktik rentenir. Informasi yang diterima Masyudi saat itu, 3.311 pedagang kecil di wilayah Kecamatan Gapura dan sekitarnya terjerat praktik rentenir maupun ”bank harian” yang populer dengan sebutan bank nyak-kanyak, dengan tingkat bunga hingga 50 persen dalam sebulan.
Awalnya peserta lokakarya dan pengurus MWCNU Gapura keberatan dengan gagasan Masyudi. Keberatan mereka bukan tanpa alasan, salah satu alasan mendasar bagi mereka karena trauma masa lalu yang sering kali dibentuk lembaga keuangan, ujung-ujungnya uang mereka disalahgunakan.
Namun, akhirnya, pada Kamis, 1 Juli 2004, pengurus MWCNU Gapura bersama-sama dengan peserta lokakarya menyepakati untuk mendirikan sebuah usaha simpan pinjam pola syariah dalam bentuk Koperasi BMT. Modal awal sebesar Rp 400 ribu.
Salah satu tantangan terberat bagi pengurus di awal BMT NU berdiri adalah meyakinkan kembali seluruh pendiri BMT NU yang notabene dari kalangan pengurus MWCNU Gapura.
Sebab, di awal berdirinya, dari 36 orang yang bersepakat untuk mendirikan BMT NU, hanya 22 orang yang bersedia membayar simpanan anggota.
Semangat dan motivasi tinggi Masyudi benar-benar diuji dan memerlukan dedikasi secara total untuk dapat meningkatkan dan mengembangkan BMT NU.
Hal ini tidak terlepas dari kondisi dan image masyarakat terhadap perjalanan koperasi yang sering kali mati di tengah jalan dan simpanan anggota tidak diketahui nasibnya.
Bahkan, banyak koperasi yang ujung-ujungnya hanya menguntungkan pengurus. Kerja keras dan dedikasi total pengurus pada 2004 belum banyak membuahkan hasil.
Hal ini terlihat dari modal awal Rp 400 ribu hingga dengan Desember 2004 hanya meningkat menjadi Rp 2.172.000 dengan laba bersih Rp 42.000.
Padahal biaya operasional tidak dibebankan kepada BMT NU, melainkan dibebankan kepada pengurus sebagai wujud pengorbanan.
Berbagai langkah dan upaya terus dilakukan dengan semangat pengorbanan dan dedikasi yang maksimal selama dua tahun BMT NU berdiri.
Namun, pada 2005 kondisinya tetap tidak jauh berbeda dengan 2004. Kondisi ini membuat Masyudi hampir putus asa karena melihat perkembangan yang terjadi tidak sebanding dengan motivasi, dedikasi, dan pengorbanan pengurus.
Di saat hampir putus asa, berbagai pertanyaan muncul dalam benak Masyudi, ”Benarkah jalan yang ditempuh dengan mendirikan BMT NU? Jika benar, kenapa sangat susah mengembangkan BMT NU?” kenang Masyudi.
Pada suatu malam Masyudi bermunajat kepada Allah SWT dan bertawasul kepada gurunya, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo, KHR As’ad Syamsul Arifin.
Sebab, Masyudi 13 tahun mondok di pesantren yang diasuh ulama mediator berdirnya Nahdlatul Ulama (NU) itu.
Dalam munajat dan tawasulnya, Masyudi kala itu memohon agar diberi jalan dan petunjuk jika pendirian BMT NU akan membawa maslahat baik kepada NU maupun warga NU.
Pagi setelah bermunajat dan bertawasul, ada kejadian yang tidak bisa dilupakan sepanjang sejarah hidup Masyudi.
Yaitu, terdapat empat perempuan tua yang terdiri atas pedagang ikan, pembuat tikar, pedagang bubur, dan soto yang menangis di saat menerima pinjaman dari BMT NU sebesar Rp 200 ribu dengan jasa pinjaman seikhlasnya.
”Tangisan ibu-ibu tersebut membuat kami terharu dan kaget,” tutur Masyudi.
”Ibu-ibu dikasih pinjaman kok nangis?” tanya Masyudi.
”Saya menangis bukan karena sedih dapat pinjaman, tapi kami terharu dan kaget kenapa kok baru sekarang saya dipedulikan oleh NU? Padahal saya sudah bertahun-tahun tidak bisa melepaskan dari jeratan rentenir,” di antara mereka menjawab.
Tangisan ibu-ibu itulah yang seolah-olah menyadarkan Masyudi bahwa perjuangan ini harus dilanjutkan.
Karena itu, tidak boleh putus asa, harus belajar dari kegagalan, harus bangkit, dan bersumpah dalam hati kecil bahwa apa pun yang terjadi, BMT NU harus terus dikembangkan walaupun banyak rintangan menghadang.
Tangisan ibu-ibu pedagang kecil tersebut benar-benar mampu menggairahkan kembali semangat, motivasi, dan dedikasi pengurus hingga perkembangan kehadiran BMT NU mulai terasa sejak 2006.
”Dan, tangisan tersebut telah memberikan jalan kepada pengurus untuk bisa melalui masa-masa sulit dan alhamdulillah hingga sekarang tetap eksis,” tegas Masyudi penuh semangat.
Perkembangan BMT NU
Salah satu cikal bakal berdiri BMT NU adalah meningkatkan kemandirian Nahdlatul Ulama (NU). Karena itu, 10 persen dari laba BMT NU dipersembahkan kepada NU. Dana dari BMT NU untuk NU sudah mencapai Rp 31,8 miliar sejak berdiri hingga 2025.
Sejak 2012 BMT NU membuka kantor cabang di berbagai kecamatan di Kabupaten Sumenep. Kemudian, sejak 2014 membuka cabang di luar Sumenep.
Hingga sekarang sudah memiliki 116 kantor cabang tersebar di 12 kabupaten. Meliputi Sumenep, Pamekasan, Sampang, Bangkalan, Trenggalek, Magetan, Probolinggo, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Situbondo, dan Bondowoso.
Aset dari Rp 400 ribu di awal berdiri kini sudah mencapai Rp 1,5 triliun. Perkembangan anggota juga signifikan. Dari hanya 17 orang di awal berdiri kini sudah memiliki 223.134 anggota.
Di samping bergerak di bidang finansial, BMT NU juga bergerak di bidang sosial melalui gerak infak dan wakaf uang tunai.
Gerakan itu diwujudkan dalam 19 ambulans gratis, bantuan kepada 17.037 anak yatim dan kaum duafa, bantuan kepada 1.320 guru ngaji, bantuan kepada 2.098 siswa berprestasi, serta rehab 1.151 masjid dan musala.
Selain itu, pembangunan 6 musala, mewujudkan 517 kampung berseri, serta rehab 34 rumah layak huni, pembangunan 31 MCK musala dan masjid.
BMT NU juga memberikan bantuan Rp 50 juta kepada Pondok Pesantren Al-Khozini Sidoarjo serta bantuan Rp 160.485.000 kepada korban banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera.
BMT NU membentuk koperasi sektor riil dengan manajemen yang terpisah dari BMT NU pada 08 Maret 2011.
Yaitu, Koperasi Syariah Nusa Umat yang hingga saat ini sudah memiliki 9 unit swalayan di Sumenep, Pamekasan, dan Sampang serta toko elektronik, gadget store, toko peralatan listrik, Graha Nuansa, dan Nuansa Coffee.
BMT NU juga melayani anggota BMT NU yang hendak melaksanakan ibadah umrah sejak 2018. Selanjutnya, pada 18 Februari 2025 resmi memiliki travel umrah sendiri, yaitu Nuansa Umat Travelindo.
Travel ini sudah memberangkatkan 1.601 jemaah umrah. Nuansa Umat Travelindo juga memiliki usaha sewa bus pariwisata.
Prestasi BMT NU Jawa Timur
Eksistensi BMT NU berbuah prestasi dan apresiasi. Prestasi tingkat nasional 2025 terdiri atas 100 Koperasi Besar Indonesa Terbaik dan Tokoh Penggerak Koperasi Syariah tingkat Nasional.
Tahun sebelumnya, 2024, BMT NU meraih penghargaan Tokoh Penggerak Koperasi Pratama dan 100 Tokoh Koperasi Indonesia.
Selain itu, meraih prestasi sebagai Koperasi Berprestasi Tingkat Nasional 2014 Kategori Koperasi Simpan Pinjam. Pada tahun yang sama meraih KSP Award 2014 kategori: a). Penumbuhan Keanggotaan Paling Cepat; b). Penumbuhan Aset Paling Cepat; c). Memiliki Rasio Keuangan Terbaik; d). Sistem Informasi Laporan Keuangan Paling Baik.
BMT NU juga meraih penghargaan MNCTV Pahlawan untuk Indonesia kategori Penggerak Ekonomi Rakyat Kecil 2013 dan Liputan 6 SCTV Award Kategori Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat 2012.
Sementara prestasi tingkat provinsi seperti PWNU Jatim Award 2019, Juara I Koperasi Berprestasi Kategori Koperasi Simpan Pinjam 2014, Juara II Koperasi Terbaik Kategori KJK Konvensional-Syariah 2012, dan Juara I Koperasi Berkinerja Terbaik Kategori KJKS 2010.
RAT Paripurna XXII
BMT NU setiap tahun melaksanakan rapat anggota tahunan (RAT) sebagai wujud transparansi pengelolaan keuangan, organisasi, dan usaha.
RAT sebagai media pertanggungjawaban pengurus kepada seluruh anggota BMT NU Jawa Timur. RAT Paripurna XXII untuk tahun buku 2025 dilaksanakan di Graha Nuansa Gapura Senin (9/2).
Rapat ini diikuti 1.500 perwakilan anggota dari 116 kantor cabang dan sebagai keynote speaker mustasyar PBNU KH Musthafa Bisri (Gus Mus) dan Wakil Menteri Koperasi RI Farida Farichah dengan tema merawat amanah, melangkah bersama, bermanfaat untuk anggota. (*/luq)
Editor : Hera Marylia Damayanti