SUMENEP, RadarMadura.id – Jarum jam menunjukkan pukul 10.34. Langit cerah menaungi Jalan Dr Cipto, Desa Kolor, Kecamatan Kota Sumenep, Kamis (29/1).
Tak lama menunggu, Ketua KI Sumenep Moh. Rifa’i mempersilakan Jawa Pos Radar Madura (JPRM) ke ruang kerjanya.
Di ruangan sederhana itu, Rifa’i membuka lembaran perjalanan hidupnya—dari seorang jurnalis lapangan hingga menjadi pengawal hak publik atas informasi.
Karier jurnalistik Moh. Rifa’i dimulai pada 1995. Saat itu, dia bekerja sebagai penyiar sekaligus reporter Radio Suara Pamekasan.
Pagi hari turun ke lapangan mencari berita, sore hingga malam mengudara di balik mikrofon.
Dunia jurnalistik perlahan menjadi rumah yang membentuk cara berpikir dan sikap hidupnya.
”Tahun 1995 saya bekerja di Radio Suara Pamekasan sebagai reporter sekaligus sebagai penyiar,” katanya membuka percakapan.
Kesempatan lebih besar kemudian datang pada 1998, saat dia mendengar ada seleksi wartawan Jawa Pos Radar Madura.
Rifa’i kemudian memberanikan diri melamar. Dia diterima dan mulai bertugas sebagai jurnalis di Biro Sumenep sejak September 1998 hingga 2002.
”Waktu itu saya benar-benar ditempa,” ucapnya.
Pada 2002, kemudian Rifa’i mengundurkan diri dari JPRM dan bergabung dengan Kelompok Kompas Gramedia (KKG).
Dia diputuskan masuk Harian Surya dan mulai bertugas di Surabaya sejak Oktober 2002.
Di media inilah kemampuannya kian terasah, terutama sebagai jurnalis spesialisasi feature dan indepth.
Dari perjalanan panjang itu, kerja kerasnya berbuah prestasi. Dia dua kali meraih Piala Prapanca dari PWI Jatim pada 2002 dan 2008.
”Penghargaan tersebut diberikan kepada wartawan dengan karya tulis terbaik,” ulasnya.
Tak berhenti di situ, pada 2013, Rifa’i kembali meraih juara karya tulis terbaik AJI Surabaya.
”Alhamdulillah, sebagai wartawan daerah saya masih bisa berkontribusi dan diapresiasi di tingkat Jawa Timur,” tuturnya.
Selain aktif sebagai wartawan, Rifa’i juga dipercaya memimpin organisasi profesi.
Dia pernah menjabat Sekretaris PWI Sumenep sebelum akhirnya terpilih sebagai ketua selama dua periode. Yakni, pada 2013 sampai 2019.
Dia mengakui, pengalaman memimpin rekan-rekan media memberinya pelajaran penting tentang komunikasi dan dinamika profesi.
”Bersinergi dengan wartawan itu tidak mudah. Seperti kata Dahlan Iskan, ada dua pihak yang tidak mau disalahkan: orang gila dan wartawan,” ujarnya sambil tersenyum.
Selain itu, di luar dunia pers, dia juga memiliki pengalaman panjang di bidang pengawasan pemilu.
Selama 15 tahun, dari 2000 hingga 2015, dia mengabdi di Bawaslu Sumenep. ”Saat itu namanya masih Panwaslu, sekarang kan Bawaslu,” ungkapnya.
Alumnus IAIN Sunan Ampel Cabang Pamekasan (kini UIN Madura) ini mengawali pendidikan sebagai sarjana kependidikan. Dia pernah menjadi guru dan mengajar bahasa Inggris.
Namun, kecintaannya pada dunia tulis-menulis membuatnya terus bertahan di jalur jurnalistik.
Dia terbiasa menulis berjam-jam, bahkan hingga dini hari, menunggu halaman koran dinyatakan naik cetak.
Rifa’i kali pertama masuk KI pada 2019 sebagai anggota di bidang Advokasi, Sosialisasi, dan Edukasi (ASE).
Kemudian pada periode 2025 sampai 2029 dia kembali terpilih dan saat ini diamanahi menjadi Ketua KI Sumenep.
”Jurnalisme sudah menjadi darah daging saya. Sudah 30 tahun saya hidup di profesi ini, dan itu tidak akan hilang begitu saja,” ujarnya.
Sebagai Ketua KI, Rifa’i menegaskan komitmennya untuk mendorong badan publik agar terbuka kepada masyarakat.
Menurutnya, keterbukaan informasi merupakan amanat undang-undang dan hak dasar warga negara.
”KI hadir untuk memastikan masyarakat mendapatkan informasi secara utuh. Termasuk menyelesaikan sengketa informasi ketika badan publik tidak terbuka,” tegasnya.
Dari ruang redaksi ke ruang pengabdian publik, perjalanan Moh. Rifa’i menjadi bukti bahwa jurnalisme bukan sekadar profesi, melainkan fondasi nilai yang terus hidup mengawal transparansi, keadilan, dan hak masyarakat untuk tahu serta memahami informasi. (tif/yan)
Editor : Hera Marylia Damayanti