SUMENEP, RadarMadura.id – Jembatan penghubung antara Desa Bringsang dan Desa Aenganyar, Kecamatan Gili Genting, dikeluhkan masyarakat setempat.
Sebab, jembatan alternatif yang dibangun itu tidak bisa dilewati saat air laut pasang.
”Saat pasang, jembatan alternatif itu tidak bisa diakses. Akibatnya, warga memilih jalan lain yang lebih jauh untuk bisa sampai ke tujuan,” ujar Fajar Sidik, warga Desa Bringsang.
Jembatan utama yang mengubungkan antardesa itu ambruk karena usia.
Lambannya pembangunan ulang memengaruhi perekonomian di Pulau Gili Genting. Sebab, mobilitas masyarakat semakin berkurang.
”Mobil maupun kendaraan roda tiga harus putar arah dan memilih jalan yang lebih jauh untuk sampai ke tujuan. Semula hanya bisa ditempuh tiga menit, sekarang butuh waktu sampai sekitar 10 menit,” tuturnya.
Dia berharap, pemerintah daerah segera membangun kembali jembatan tersebut.
”Jika dibangun, perekonomian di Pulau Gili Genting akan lancar dan sektor kesehatan juga tidak akan melambat,” harapnya.
Ketua Komisi III DPRD Sumenep M. Muhri mengaku telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi robohnya jembatan penghubung antardesa tersebut.
Saat itu pihaknya melibatkan dinas pekerjaan umum dan tata ruang (PUTR).
”Kami berupaya keras agar jembatan utama bisa segera dibangun kembali. Tapi, sampai sekarang belum membuahkan hasil,” ucapnya.
Pembangunan jembatan itu tidak dianggarkan di APBD 2026. Sebab, APBD 2026 telah disahkan sebelum jembatan itu ambruk.
”Saya harap bisa dimasukkan dalam APBD perubahan atau mungkin nanti ada dana CSR,” tegasnya.
Sementara Kepala DPUTR Sumenep Erie Susanto meminta warga untuk bersabar dengan terputusnya ruas jalan utama tersebut.
Sebab, pembangunan jembatan itu tidak teranggarkan dalam APBD 2026.
”Kalau dari APBD murni sudah tidak bisa. Kami akan segera rapatkan pembangunan jembatan itu agar bisa dianggarkan di APBD Perubahan 2026 nanti,” tandasnya. (tif/jup)
Editor : Hera Marylia Damayanti