SUMENEP, RadarMadura.id - Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Sumenep telah melakukan studi banding ke Kota Malang.
Hal itu dilakukan untuk mendapatkan pengetahuan langsung dari lembaga pendidikan dan UPT Layanan Disabilitas dalam memberikan pelayanan pendidikan kepada anak didik inklusi atau berkebutuhan khusus.
Kasi GTK SD Dispendik Sumenep Budiyanto mengatakan, di Kota Malang, anak berkebutuhan khusus memiliki guru pendamping khusus.
Menurutnya, peserta didik mengikuti pembelajaran di kelas reguler dengan didampingi langsung oleh guru pendamping.
Ini dampaknya cukup signifikan, beberapa murid yang didampingi sejak kelas I SD, di kelas III mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang maksimal, katanya.
Menurutnya, bahkan ada murid yang mendapatkan pendampingan sejak kelas I dan pada saat kelas V sudah dilepaskan dan masuk sekolah reguler.
Sebab, sudah mandiri dan tidak lagi membutuhan layanan inklusi.
Meski begitu, hal tersebut cukup sulit bila diterapkan di Kota Keris. Sebab, orang tua harus membayar secara mandiri, termasuk psikolognya.
Guru pendamping saat ini belum diakui di dapodik. Sehingga, tidak bisa di-cover dari dana lembaga, ulasnya.
Meski begitu, Budi optimistis di masa mendatang program itu juga bisa diterapkan di Sumenep. Tentunya, setelah institusinya membuat perencanaan matang dan persetujuan dari atasan.
Sementara untuk saat ini pihaknya masih fokus pada peningkaan kompetensi terkait pelayanan anak inklusi.
Ke depan pasti disetujui. Sehingga, dispendik bisa memiliki UPT Layanan Disabilitas, tegasnya.
Dikonfirmasi di tempat terpisah, Sekretaris Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep (DPKS) Amir Syarifuddin menilai, hingga saat ini sekolah yang berada di bawah naungan Dispendik Sumenep belum mampu melaksanakan sekolah inklusi.
Dia meminta, untuk pelayanan tersebut dispendik menyiapkan lembaganya terlebih dahulu, baru tenaga pendidiknya dibekali pelatihan.
Pelatihan dan studi banding yang telah dilakukan sebelumnya itu harus disambut baik oleh semua bidang. Sehingga, semuanya bisa bersinergi dalam memberikan layanan pendidikan yang prima, tegasnya. (tif/yan)
Editor : Amin Basiri